“Sebelumnya yang Jalan Margo Utomo itu namanya Jalan Mangkubumi. Terus, Jalan Margo Mulyo itu sebelumnya Jalan (Jenderal) Ahmad Yani. Jalan Pangurakan itu sebelumnya Jalan Trikora. Jadi cuma nama Jalan Malioboro saja yang tidak berubah dari dulu,” lanjut Samantha.
Mengulik asal katanya, dijelaskan Erwin Djunaedi, rekan Samantha di Komunitas Malam Museum, didasari dua “tesis” atau teori. Yang pertama dari sejarawan Inggris Peter Carey dan satunya lagi dari Kraton itu sendiri.
“Mendasarkan penelitian Peter Carey, dia menyatakan Malioboro dari bahasa Sansekerta, ‘Malia Bara’ yang artinya nuntaian bunga. Tesisnya didasarkan kawasan atau jalan itu memang jalan raja atau raja marga,” timpal Erwin.
“Setiap kali penyambutan tamu istana pasti melewati jalan itu dan iring-iringannya disambut jejeran prajurit Kraton dan jalannya dihiasi untaian bunga. Nah teori yang kedua berasal dari Kraton sendiri dan ada kaitannya dengan sumbu filosofis Kraton,” sambung penggiat sejarah yang juga mahasiswa UGM tersebut.