Pasca-serangan tersebut, Kepolisian Jepang menyerbu markas sekte Aum Shinrikyo. Sang pemimpin, Shoko Asahara, ditahan, bersama ratusan anggota sekte lainnya. Pria buta itu memimpin sektenya dengan mengombinasikan ajaran Budha dan yoga dengan filosofi kiamat Kristiani.
Pada 1980-an, Asahara, yang merupakan biksu Budha, mulai mendapat banyak pengikut. Sektenya, Aum Shinrikyo, bermakna "Pengajaran Tertinggi Om".
Asahara mengeksploitasi kekosongan spiritual akibat ledakan ekonomi Jepang. Ia menjanjikan tenaga supernatural bagi generasi muda Jepang yang merasa tidak nyaman di tengah keseragaman komunitasnya.
Pada 1989, Aum dikenali sebagai perusahaan religius. Asahara menambahkan ajaran filosofi kiamat ala Kristen pada awal 1990. Dan pada 1995, Aum memiliki lebih dari 40 ribu pengikut di seluruh dunia dan aset senilai lebih dari USD1 miliar.
Asahara memiliki rambut dan janggut panjang, mengenakan jubah berwarna cerah serta sering bermeditasi di atas bantal satin. Buku-bukunya tak hanya mengklaim bahwa ia merupakan titisan Yesus Kristus dan Budha Gautama, tetapi juga menyebut bahwa ia mampu bepergian melintasi waktu.