Image

Pesan Pimpinan Wanita KPK di Hari Kartini: Jadilah Agen Pemberantasan Korupsi

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Jum'at, 21 April 2017 - 08:08 WIB
Wakil Pimpinan KOK, Basaria Panjaitan (Foto: Okezone) Wakil Pimpinan KOK, Basaria Panjaitan (Foto: Okezone)

JAKARTA - Raden Ayu Kartini, atau yang akrab disapa Raden Adjeng Kartini, sebuah nama yang tak asing bagi masyarakat Indonesia, khususnya, mereka kalangan wanita. RA Kartini santer terdengar dalam sejarah Indonesia sebagai pelopor kebangkitan wanita.

Wanita kelahiran Jepara tahun 1879 tersebut merupakan Putri kelima dari seorang bangsawan bernama, Raden Mas Adipati‎ Ario Sosroningrat. Meski lahir dari bangsa ningrat, Kartini justru banyak melahirkan pemikiran-pemikiran tajam untuk wanita pribumi.

Bukan hanya untuk kaum feminis, pemikiran yang dihasilkan Kartini juga fokus mempersoalkan serentetan permasalahan umum dan sosial di nusantara kala itu.

Satu dari sekian banyak pahlawan Indonesia di kalangan wanita, Kartini mampu menyalurkan pemikiran-pemikirannya lewat sebuah tulisan ke beberapa media massa. Berbekal kemampuannya dalam berbahasa Belanda, dia mulai memperjuangkan hak martabat kaum wanita pribumi lewat tulisan-tulisannya.

Tak heran apabila Kartini disebut sebagai salah satu tokoh yang fokus memperjuangkan emansipasi wanita pada masanya. Tulisannya mampu menembus eropa hingga dibaca oleh ribuan orang disana. Pada zamannya, memang wanita pribumi dipandang rendah oleh sebagian orang.

Beberapa budaya di Indonesia khususnya di Jawa, pada saat itu dirasakan Kartini menghambat ruang pola kebebasan untuk wanita. Namun, Kartini berhasil mendobrak diskriminasi-diskrimasi itu lewat surat-suratnya.

Salah satu hasil karya terbaiknya yang hingga kini masih sering menjadi pemicu semangat untuk kalangan wanita adalah tentang sebuah bukunya yang berjudul 'Habis Gelap Terbitlah Terang'. Buku tersebut merupakan kumpulan-kumpulan surat yang ditulis Kartini terkait kegelisahannya terhadap kondisi wanita pribumi.

Sayangnya, di usia muda, Kartini harus berpulang ke rahmatullah tepat diumur 25 tahun.‎ Atas pemikiran-pemikirannya tersebut, Soekarno, presiden pertama Indonesia, mengeluarkan surat keputusannya tertuang pada nomor 108 Tahun 1964.

Dalam keputusannya tersebut, Soekarno menetapkan RA. Kartini sebagai salah satu Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan ‎tanggal 21 April yang merupakan hari lahir Kartini sebagai Hari Kartini atau juga hari emansipasi wanita.

(kha)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming