JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) siap mencopot atau menggeser posisi menterinya jika tak bekerja sesuai target. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna H Laoly mengatakan, semua menteri memang harus siap dengan segala keputusan Presiden
"Semua menteri harus siap," kata Yasonna di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (25/4/2017).
Saat membuka Kongres Ekonomi Umat (KEU) 2017 di Jakarta, Sabtu 22 April 2017, Jokowi memang menyinggung soal perombakan kabinet atau reshuffle. Presiden berjanji siap mencopot atau menggeser menteri yang bekerja tak sesuai target.
Reshuffle kabinet memang otoritasnya Presiden. Menurut Yasonna, reshuffle kadang diperlukan sejalan dengan evaluasi kinerja yang dilakukan Presiden terhadap menteri-menterinya.
"Evaluasi itu harus jalan. Kalau tidak jalan ya nanti orang berada di zona nyaman terus. Harus ada itu supaya ada target menteri-menteri bekerja sebaik-baiknya," jelasnya.
Sebelumnya Jokowi menyinggung soal target pada program pemerataan ekonomi untuk mengatasi ketimpangan dengan program redistribusi aset, reforma agraria dan kemitraan. Program ini milik Kementerian Agraria dan Tata Ruang.
Menurut Jokowi, tercatat ada 126 juta bidang tanah, yang baru disertifikatkan baru 46 juta bidang tanah. Artinya masih 60 persen lebih bidang-bidang tanah di Indonesia belum disertifikatkan.
"Karena kalau enggak diberi target konkret sampai kapan pun 126 juta sertifikat juta enggak bisa selesai," tuturnya.
Saya bekerja selalu memakai target, jadi pak menteri tidak pernah bertanya kepada saya, targetnya terlalu besar atau terlalu gede, itu urusan menteri. Tahu saya target itu harus bisa diselesaikan. Kalau tidak selesai urusannya akan lain, bisa diganti, bisa digeser, bisa dicopot dan dan lain lain,"
tandasnya.
(Salman Mardira)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.