Sementara di nusantara atau Hindia Belanda, permainan ini justru kemudian lebih sering diadakan kaum kolonialis dalam berbagai hajatan- bukan dalam rangka ritual festival hantu seperti di negeri asalnya- China sejak medio abad ke-19.
Kendati yang sering mengadakannya orang-orang Eropa kolonialis, namun yang disuruh memainkannya adalah masyarakat pribumi. Sementara orang-orang Belanda sekadar menonton sekaligus menyoraki dari bawah.
Dulu untuk membuat masyarakat pribumi mau ikut, biasanya di puncuk pohon pinangnya ditaruh berbagai “kemewahan” yang jarang bisa didapatkan warga kelas pribumi. Sebut saja keju, gula, hingga pakaian bagus.
Kini seiring berkembangnya zaman, permainan panjat pinang yang dilombakan di tiap festival 17-an, sering diikatkan barang-barang elektronik macam kipas angin, radio, sampai berbagai macam pangan dari beras hingga makanan ringan.
(Randy Wirayudha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.