Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

TOP FILES: Simpan Gadget & Game Console, Yuk Main Bentengan!

Randy Wirayudha , Jurnalis-Sabtu, 06 Mei 2017 |08:36 WIB
TOP FILES: Simpan <i>Gadget</i> & <i>Game Console</i>, <i>Yuk</i> Main Bentengan!
Permainan Benteng (Foto: Koran Sindo)
A
A
A

PADA masa 1990-an ke bawah, hampir di tiap-tiap kampung hingga komplek perumahan diramaikan dengan anak-anak yang selalu bergairah bermain bersama. Bermain berbagai permainan tradisional yang sarat makna di dalamnya.

Salah satu permainan yang familier bagi Anda generasi yang lahir di era 1980-an ke bawah, adalah permaian Tak Benteng atau Bentengan. Permainan yang mirip galasin atau gobak sodor lantaran membutuhkan kecekatan kaki dan stamina yang prima.

Sayangnya untuk generasi muda atau anak-anak sekarang, permainan macam ini sudah mulai ditinggalkan. Berganti kesibukan memelototi serta “pencet sana pencet sini” saking asyiknya dengan masing-masing gadget serta game console.

Bicara permainan Bentengan, soal sejarahnya sepertinya belum ada yang memastikan, dari mana dan kapan tepatnya permainan ini mulai eksis. Namun dari berbagai sumber, disebutkan permainan ini mulai ramai dimainkan tak lama sejak negeri kita merdeka.

Pasalnya permainan ini acap dinilai menggambarkan perjuangan para orangtua kita dalam mempertahankan kemerdekaan 17 Agustus 1945. Soal dari mana asalnya pun beragam versi, mulai dari yang mengklaim permainan ini asalnya dari Jawa Barat, hingga Jawa Tengah dan DKI Jakarta.

Tapi tidak, dalam artikel ini penulis enggan mempermasalahkan salah satu klaimnya. Melainkan lebih kepada ajakan untuk bernostalgia atau untuk anak-anak sekarang agar mau melestarikan permainan tradisional nusantara.

Bicara tata cara permainannya, uraian singkatnya adalah permainan ini harus dimainkan dua tim. Jumlahnya tak harus 4-5 orang dalam satu tim alias bebas-bebas saja asalkan jumlah masing-masing kedua tim harus sama.

Setiap tim mempertahankan bentengnya masing-masing yang berupa batu, tiang kayu/besi, atau pilar dengan bentuk apa saja. Intinya, masing-masing tim harus mampu menyerang dan menyentuh benteng lawan.

Ketika berhasil, biasanya akan disambut teriakan: “Benteng!”. Berbagai taktik tentu harus pula disertakan. Lazimnya, suatu tim akan berusaha lebih dulu mengurangi jumlah pemain tim lawan dengan menawannya.

Supaya bisa menawannya, anggota tim harus bisa menyentuh duluan anggota tim lawan. Kalau sudah kena, biasanya akan jadi tawanan dan ditempatkan di dekat benteng sendiri.

Tim lawan juga bisa menyelamatkan anggota tim yang tertawan kalau bisa menyentuh rekannya yang tengah ditawan dekat benteng lawan. Lazimnya lagi kalau tim lawan sudah mulai kehabisan pemain, akan lebih mudah merebut benteng lawan.

Seru, kan? Permainan yang tidak hanya butuh otot tapi juga otak, ditambah kerjasama tim. Permainan yang mulai punah ini setidaknya coba dilestarikan beberapa pihak dalam event-event tertentu.

Seperti di Kota Surabaya, Jawa Timur belum lama ini misalnya. Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dispora) Kota Surabaya menggelar berbagai Invitasi Olahraga Tradisional untuk tingkat Prasekolah, TK, SD, hingga SMP.

Salah satu permainan yang dihelat Dispora Surabaya itu adalah permainan bentengan di Lapangan Mulyorejo, 5-8 April 2017. Gelaran ini disebutkan Komunitas Olahraga Tradisional Indonesia (KOTI), dilakukan rutin setiap tahun.

“Ini adalah upaya sosialisasi kebugaran lewat permainan tradisional,” ujar Ketua KOTI Wayan Sudarma, 7 April lalu.

(Randy Wirayudha)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement