Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Dugderan, Tradisi Warga Semarang Tandai Awal Ramadan

Taufik Budi , Jurnalis-Senin, 22 Mei 2017 |03:46 WIB
Dugderan, Tradisi Warga Semarang Tandai Awal Ramadan
Ilustrasi tradisi dugderan (Foto: Okezone)
A
A
A

Warak ngendok dibuat dari kertas warna-warni sehingga terlihat paling menarik perhatian pengunjung. Karnaval biasanya dimulai sejak pagi dan berakhir menjelang Magrib.

Munculnya tradisi Dugderan berawal dari perbedaan penentuan awal Ramadan oleh umat Islam. Hingga pada 1881, Kanjeng Bupati RMTA Purbaningrat, berinisiatif menentukan awal Ramadan, yaitu setelah Bedug Masjid Agung dan meriam di halaman pendapa kabupaten, masing-masing dibunyikan tiga kali.

Sebelum memukul bedug dan menyalakan meriam, digelar upacara di halaman pendopo kabupaten. Suara bedug berbunyi dug dug, dan meriam terdengar der der, itu akhirnya menarik perhatian masyarakat Semarang dan sekitarnya, untuk berdatangan. Masyarakat pun mengenal tradisi menjelang awal Ramadan itu sebagai Dugderan.

Banyaknya pengunjung, mengundang para pedagang dari berbagai daerah untuk menjual berbagai makanan, minuman, dan mainan anak-anak seperti yang terbuat dari tanah liat (celengan, gerabah), serta mainan dari bambu (seruling, gangsingan).

"Acara ini unik, ramai. Setiap tahun pasti digelar menjelang Ramadan. Tak hanya untuk membeli mainan tradisional anak-anak, tapi juga sekaligus mengenalkan pada anak bahwa kita punya warak ngendok," kata seorang warga Nurhaeni.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement