NEWS STORY: Catatan Panji Kuomintang & Helm Nazi dalam Pertempuran Surabaya

Randy Wirayudha, Okezone · Sabtu 03 Juni 2017 16:03 WIB
https: img.okezone.com content 2017 06 02 519 1706248 news-story-catatan-panji-kuomintang-helm-nazi-dalam-pertempuran-surabaya-BanelS6fLZ.jpg Ilustrasi Tentara Kuomintang (Foto: Wikipedia)

PRESIDEN pertama RI sekaligus proklamator Ir Soekarno pernah berkata: “Indonesia bukan hanya untuk satu golongan!” Ya, bagaimana mungkin hanya untuk satu golongan? Wong republik ini bisa lepas dari belenggu agresor berkat keringat, darah dan nyawa beraneka ragam bentuk manusia yang cinta pada negara ini.

Mau yang matanya belo sampai sipit. Mau yang kulitnya item atau kuning, semua sama rata, sama-sama dianggap musuh dan layak jadi sasaran peluru penjajah.

Seperti di Surabaya misalnya. Kota ini dikenal sebagai Kota Pahlawan yang tak lepas dari peristiwa Pertempuran Surabaya 10 November. Pertempuran yang merenggut lebih dari 6 ribu manusia Indonesia (menurut catatan Inggris yang dikutip dalam ‘Kronik Revolusi Indonesia: Jilid I (1945)’.

Apa kira-kira di antara 6 ribu itu matanya belo dan kulitnya item semua? Ragu kalau ada yang menyebut “iya”. Kalaupun benar-benar ada, mungkin dia mendasarkan pemikirannya dengan imajinasi dangkal yang sukar membedakan mana fakta dan mana fiksi.

Buktinya tidak sedikit pemuda keturunan Tionghoa di Surabaya, bahkan dari Malang yang ikut berjudi nyawa dalam pertempuran dahsyat pertama yang dialami Inggris pasca-Perang Dunia II itu. Muda-mudi Tionghoa yang tergabung ke dalam berbagai wadah.

Mulai dari Palang Merah Tionghoa yang diisi para pelajar pendidikan medis di Surabaya dan Malang, Palang Biru, Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), Angkatan Muda Tionghoa, hingga Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI) pimpinan Soetomo alias Bung Tomo.

“Beberapa di antaranya (yang tergabung BPRI) adalah Giam Hian Tjong dan Auwyang Tjoe Tek. Auwyang Tjoe Tek adalah ahli pyroteknik (pakar amunisi dan peledak) yang didapatnya saat ikut berperang di Tiongkok (China) melawan Jepang,” tulis Iwan Santosa dalam ‘Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran’.

Tokoh di atas hanya satu dari sekian veteran Perang Sino-Jepang hingga Perang Pasifik yang turut melanjutkan mentalitas fighter-nya di Indonesia. Ya, tidak hanya Auwyang Tjoe Tek, tapi juga ternyata disebutkan pernah pula turut bertempur Tentara Chungking berpanji (berbendera) Kuomintang.

Tentara yang perlengkapannya lumayan persis dengan pasukan yang bertempur kala Perang Sino-Jepang II dan Perang Pasifik berada di bawah komando Chiang Kai-shek dari Faksi Nasionalis China. Pasukan bertopi baja Stahlhelm yang sedianya jadi ikon tentara Angkatan Darat (Wehrmacht) Jerman Nazi.

Helm-helm macam itu beserta persenjataan dari Jerman lainnya macam senapan laras panjang Karabiner 98 kurz (Kar98k), sempat disuplai Jerman untuk Pemerintah China jelang Perang Dunia II. Suplai peralatan militer yang disetop pasca-Jepang dan Jerman Nazi terikat Pakta Tripartit (Jerman-Italia-Jepang) 27 September 1940.

Tidak hanya dalam pertempuran menangkal hantaman Inggris, bendera Kuomintang berwarna biru tua dengan simbol matahari itu juga acap dikibarkan di mobil-mobil Palang Merah Tionghoa, berdampingan dengan bendera Merah Putih.

“Dalam aksinya (Tentara Chungking), mereka mengibarkan bendera kebangsaan Tiongkok dan itu dibenarkan Pemerintah Chungking. Juga kaum wanita Tionghoa bahu-membahu dengan para pemudi Indonesia bergiat di barisan Palang Merah Indonesia,” seru siaran Radio Republik Indonesia (RRI), 13 November 1945.

Vitalnya peran palang merah dan badan-badan logistik lainnya, menjadikan mereka turut jadi sasaran keji serangan Inggris, baik lewat darat maupun pemboman udara. Seperti yang terjadi pada satu pos Palang Merah Tionghoa dekat Stasiun Semut, 18 November 1945.

“Surabaya telah ditembaki dan dibom secara kejam oleh tentara Inggris. Laporan resmi yang memastikan jumlah korban belum diterima. Nyata ribuan mati dan luka-luka, termasuk perempuan dan anak-anak,” tegas Presiden Soekarno dalam pidato protesnya.

Pertempuran Surabaya itu sekiranya baru berakhir pada 28 November 1945. Selain pihak pejuang republik mundur dari Kota Surabaya, sejumlah permukiman warga sipil porak poranda menyisakan puing-puing yang kebanyakan, mengubur jasad-jasad manusia yang tak ada beda ras dan golongan- melainkan sama sebagai korban.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini