LONDON – Politisi di Inggris mendapat tekanan dari publik untuk menunda pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu) terkait terjadinya serangan teroris di London yang menewaskan enam orang. Publik menilai, pemilu sulit digelar saat ini karena isu keamanan dan terorisme yang menjadi perhatian.
Beberapa jam setelah serangan teror tersebut, muncul seruan di media sosial untuk menunda pelaksanaan pemilu yang semula akan digelar pada Kamis, 8 Juni. Saat ini, Partai Konservatif Inggris telah menghentikan kampanyenya dan partai lain akan segera mengikuti langkah itu hari ini.
Serangan teroris di Jembatan London dan Pasar Borough, London pada Sabtu, 3 Juni itu adalah aksi teror ketiga yang terjadi di Inggris pada tahun ini. Dua pekan lalu, ledakan bom bunuh diri di Manchester Arena menewaskan 22 orang penonton konser. Sedangkan pada Maret, enam orang tewas dalam serangan teroris di depan Gedung Parlemen Inggris di Westminster.
Seruan untuk menunda semua aktivitas politik di Inggris menyusul kejadian ini dimunculkan oleh Mark Oxley melalui petisi yang dia buat di laman Change.org.
“Saya cukup yakin sebagian besar rakyat Inggris setuju bahwa ini bukanlah saat yang tepat untuk menggelar pemilu. Setelah serangan dahsyat kedua saya percaya sekarang saatnya untuk memprioritaskan keamanan negara kita dan rakyatnya, oleh karena itu saya meminta Anda untuk membatalkan pemilihan umum untuk beberapa waktu ke depan,” tulis Oxley dalam petisinya sebagaimana dikutip dari Telegraph, Minggu (4/6/2017).
Sentimen Oxley banyak mendapat dukungan dari pengguna media sosial terutama Twitter yang turut menyuarakan hal serupa. Kebanyakan dari mereka merasa tidak aman jika pemilu digelar saat ini. Sementara, seorang pengguna Twitter menilai mustahil untuk menggelar pemilu di saat berita saat ini didominasi oleh isu terorisme.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.