Share

Kisah 3 Ulama Minang Menyebarkan Islam dengan Damai di Sulawesi Selatan

Zulfikarnain, Okezone · Rabu 14 Juni 2017 09:26 WIB
https: img.okezone.com content 2017 06 13 340 1714862 kisah-3-ulama-minang-menyebarkan-islam-dengan-damai-di-sulawesi-selatan-zBVrejX5Zw.jpg Masjid Dato' Tiro di Bulukumba, Sulsel (Zulfikar/Okezone)

MAKASSAR - Penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan tak lepas dari peran tiga ulama asal Koto Tangah, Minangkabau. Mereka mensyiarkan Islam dengan damai, melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal. Hasilnya adalah mulai rakyat hingga raja rela menanggalkan kepercayaan nenek moyangnya dan memilih beriman kepada Allah.

Ketiga ulama itu adalah Datuk Patimang, Datuk Ri Tiro dan Datuk Ri Bandang. Nama itu adalah gelar kehormatan yang diberikan warga Sulsel.

Datuk Patimang bernama asli Datuk Sulaiman, juga bergelar Khatib Sulung. Datuk Ri Bandang bernama asli Abdul Makmur dengan gelar Khatib Tunggal dan Datuk Ri Tiro bernama asli Nurdin Ariyani dengan gelar Khatib Bungsu.

Dalam catatan sejarah, mereka tiba pertama kali di Kota Makassar pada pengujung abad ke 16. Peneliti Balai Litbang Agama Makassar, Syamsurijal mengatakan, ketiga datuk itu datang ke Sulsel untuk menyebarkan Islam atas permintaan Raja Tanete.

Awalnya, Raja Tanete di Barru mengirim utusan ke tanah Minang (Sumatera Barat sekarang), meminta ketiga ulama Minang tersebut untuk datang menyebarkan Islam di daerahnya. Ketiganya pun bersedia mengembara ke Sulsel.

"Mereka akhirnya berangkat, namun sempat singgah di Giri, sebelum tiba di Pelabuhan Makassar," tutur Syamsurijal saat ditemui di Kantor Balai Litbang Agama Makassar.

Setiba di Makassar, ketiganya menyebar ke titik berbeda. Pemilihan tempat itu berdasarkan keahlian ilmu agama mereka miliki dan disesuaikan dengan kondisi daerah.

Datuk Ri Tiro ditugaskan ke daerah Bulukumba, bagian selatan Sulsel. Datuk Ri Tiro yang menguasai ilmu tasawuf dianggap cocok berdakwah di daerah itu karena masyarakatnya saat itu masih kental dengan kepercayaan terhadap hal mistis dan sihir.

Datuk Sulaiman yang ahli ilmu tauhid menyebarkan Islam ke wilayah Luwu dan sekitarnya. Saat itu masyarakatnya di sana masih menganut animisme, menyembah arwah-arwah nenek moyang dan dewata Sewae.

Sementara Datuk Ri Bandang yang ahli ilmu fikih diutus ke daerah Kerajaan Gowa Tallo (Makassar), karena warga di sana kala itu marak melakukan perjudian, sabung ayam, dan mabuk-mabukan.

Melalui dakwah damai yang menjunjung tinggi budaya dan adat setempat, ketiganya pun berhasil mengajak masyarakat percaya kepada Allah. Mereka juga ikut mengislamkan raja-raja di Sulsel.

Menurut sejarah, raja pertama yang masuk Islam adalah Raja Luwu, La Patiware Daeng Parabu. Berdasarkan catatan sejarah lokal, Raja Luwu masuk Islam pada pada 15 Ramadhan 1013 Hijriah atau tahun 1603 Masehi. Cerita ini masih turun temurun dikisahkan ke anak cucu mereka, konon kabarnya proses pengislaman Raja Luwu diawali dengan adu kesaktian.

Datuk Ri Bandang yang berdakwah di Makassar juga berhasil mengajak Raja Tallo taat pada Islam. Pada tahun 1605 Masehi, Raja Tallo I Malingkang Daeng Manyonri Karaeng Katangka mengucapkan dua kalimat syahadat.

"Masuknya Raja Tallo ke Islam, menurut sejarah sebelum bertemu Datuk, diawali dengan pertemuannya dengan orang tua yang menuliskan sesuatu di tangannya," kisah Syamsurijal.

Raja Tallo tersebut pun masuk Islam dan berganti nama menjadi Sultan Alauddin. Secara resmi, Islam menjadi agama kerajaan pada tahun 1607. Tahun inilah, Sultan Alauddin mengirim utusan damai ke raja-raja sekitarnya untuk menerima Islam.

Sementara itu, Datuk Ri Tiro yang berdakwah di Bulukumba tak langsung mengajarkan Islam. "Saat tiba pertama kali di Bulukumba, Datuk Ri Tiro melakukan pemetaan sosial terlebih dahulu, saat itu daerah itu mengalami kekeringan dan tandus. Ia membuat mata air dengan mengukir tongkatnya di tanah," papar Syamsurijal.

Air pun keluar hingga tak terbatas, dan menyebar ke berbagai sungai. Tempat ini berada di Hila-Hila, Kecamatan Bonto Tiro, Kabupaten Bulukumba. Dari situ ulama tersebut mulai dikenal dan Islam akhirnya diterima baik oleh masyarakat. Sebelum wafat, Datuk Ri Tiro sempat membangun masjid di samping mata air Hila-hila pada 1605.

Ketiga ulama itu memilih menetap di Sulsel hingga ajal menjemput. Makam mereka kini ramai dikunjungi peziarah, memberi penghormatan atas perjuangannya mensyiarkan Islam. Sepeninggal tiga ulama tersebut, Islam kini menyebar pesat hingga menjadi agama mayoritas di Sulsel. (sal)

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini