JAKARTA – Dua orang warga negara Vietnam beberapa hari lalu ditemukan tewas dengan kepala terpenggal di Basilan, Filipina. Keduanya diketahui sebagai sandera kelompok militan Abu Sayyaf sehingga muncul kekhawatiran WNI yang ditawan akan mengalami nasib serupa.
“Kami berharap tidak demikian. Kabar terakhir yang kami dapat, mereka baik-baik saja,” tutur Direktur Jenderal Perlindungan WNI (PWNI) Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, kepada awak media di Jakarta Pusat, Jumat (7/7/2017).
“Komunikasi yang kami lakukan terakhir adalah setelah Lebaran. Kami mengucapkan ‘Selamat Idul Fitri’ kepada para sandera,” sambung Iqbal.
Kedua warga Vietnam itu diketahui sebagai kru kapal MV Royal 16 yang diculik Abu Sayyaf pada 2016. Dari enam warga Vietnam yang disandera, satu orang berhasil diselamatkan dan tiga orang lainnya masih berada dalam penguasaan kelompok militan yang berafiliasi ke ISIS tersebut.
Kelompok Abu Sayyaf saat ini masih menawan 14 orang asing, termasuk tujuh orang dari Indonesia. Ketujuh WNI tersebut disandera di Pulau Sulu sejak Juni 2016. Muhammad Iqbal memastikan, koordinasi dengan pihak-pihak terkait di Filipina terus dilakukan dengan intensif.
Meletusnya peperangan di Marawi, Mindanao, yang juga berada di selatan Filipina juga memicu kekhawatiran akan keselamatan sandera WNI. Apalagi, kelompok Abu Sayyaf bahu-membahu dengan kelompok Maute dalam melakukan serangan ke tentara Filipina.
Namun, Iqbal mengatakan, kelompok Abu Sayyaf yang terlibat di Marawi, berbeda dengan kelompok Abu Sayyaf yang menyandera ketujuh WNI.
(Wikanto Arungbudoyo)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.