Image

HISTORIPEDIA: Hitler Rilis 'Cetak Biru' Rencana Dominasi Dunia ala Nazi

Emirald Julio, Jurnalis · Selasa, 18 Juli 2017 - 06:02 WIB
Inilah buku Mein Kampf karya Adolf Hitler (Foto: Reuters/ITV) Inilah buku Mein Kampf karya Adolf Hitler (Foto: Reuters/ITV)

SEBELUM Adolf Hitler menjadi pemimpin Nazi dan mengobarkan Perang Dunia II, ia hanyalah seorang politikus yang membenci pemerintahan demokrasi Jerman. Namun, hal tersebut berubah ketika ia dipenjara dan menulis buku yang kelak menjadi ‘cetak biru’ dalam rencananya agar partai Nazi dapat mendominasi dunia.

Sebagaimana dikutip dari History, Selasa (18/7/2017), pada awal 1920-an, para anggota Partai Nazi dipenuhi oleh warga Jerman yang bersimpati dengan kebencian partai tersebut terhadap pemerintah demokratik, para politikus sayap kiri, serta bangsa Yahudi.

Aksi nekat pertama Partai Nazi terjadi pada November 1923, usai Pemerintah Jerman melanjutkan pembayaran ganti rugi Perang Dunia I kepada Inggris dan Prancis. Pada saat itu, anggota Partai Nazi berusaha mengambil alih kepemerintahan Jerman secara paksa.

Hitler berharap usaha tersebut dapat memicu revolusi yang akan menjadi awal penggulingan Pemerintah Jerman. Namun, harapan itu sirna ketika usaha penggulingan tersebut segera ditekan dengan Hitler yang ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

Pada saat dibui itulah, Hitler memulai menulis buku autobiografinya yang dipenuhi kegeramannya terhadap Yahudi serta narasi yang pahit. Buku yang menjadi ‘cetak biru’ terhadap dominasi dunia versi Nazi itu berjudul ‘Mein Kampf’ yang bila diartikan dalam bahasa Indonesia berarti ‘Perjuangan Saya’.

Sayangnya, Hitler hanya dipenjara selama sembilan bulan karena tekanan politik dari para simpatisannya di Partai Nazi. Beberapa tahun setelah Hitler menghirup udara bebas, ia dan para petinggi Partai Nazi mulai mereorganisasi partai tersebut menjadi gerakan fanatik massal yang dapat memperoleh kursi mayoritas di Parlemen Jerman pada 1932.

Pada tahun yang sama, Paul von Hindenburg berhasil mengalahkan Hitler dalam pemilihan presiden. Namun pada Januari 1933, Hindenburg menunjuk Hitler menjadi kanselir dengan harapan dapat mengawasi aktivitas pemimpin Nazi tersebut sebagai anggota kabinet Kepresidenan Jerman.

Sebulan setelah diangkatnya Hitler sebagai kanselir, terjadi insiden kebakaran di Gedung Reichstag (sebutan Parlemen Jerman) dan ia memanfaatkan momentum tersebut untuk merebut kekuasaan. Ia melakukan hal tersebut dengan menyerukan diadakannya pemilihan umum.

Polisi yang berada di bawah pengaruh pejabat Nazi, Hermann Goering, berhasil menekan pihak oposisi sebelum diadakannya pemilihan umum. Alhasil, Partai Nazi memenangkan suara mayoritas. Tidak lama setelah itu, Hitler mengambil alih kekuasaan melalui Ermächtigungsgesetz atau Enabling Act.

Sisa demokrasi di Jerman pada 1934 pun runtuh dengan wafatnya Hindenburg dan momentum membuat Hitler menjadi pemimpin tertinggi satu-satunya di Jerman.

(emj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming