Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

HISTORIPEDIA: Demi Invasi Polandia, Jerman Rela Bersekutu dengan Uni Soviet

Wikanto Arungbudoyo , Jurnalis-Rabu, 23 Agustus 2017 |06:02 WIB
HISTORIPEDIA: Demi Invasi Polandia, Jerman Rela Bersekutu dengan Uni Soviet
Menteri Luar Negeri Uni Soviet VM Molotov dan Menteri Luar Negeri Jerman Joachim von Ribbentrop menandatangani pakta aliansi (Foto: Valka)
A
A
A

AMBISI Nazi Jerman untuk menguasai daratan Eropa terancam gagal oleh keputusan Inggris. London menyatakan akan turut campir apabila Jerman terus memperluas ekspansi mereka setelah berhasil menduduki Cekoslovakia (sekarang terbagi antara Republik Ceko dan Slovakia).

Perdana Menteri Inggris saat itu, Neville Chamberlain, gerah ketika Polandia terancam oleh Nazi Jerman pimpinan Adolf Hitler. Ia sebelumnya tidak bergeming ketika Sudetenland, wilayah yang didominasi penduduk berbahasa Jerman di Cekoslovakia, berhasil diduduki oleh Negeri Panser.

Chamberlain dengan tegas menyatakan Inggris wajib membantu Polandia jika Jerman melakukan invasi. Namun, tentu saja Inggris butuh sekutu. Satu-satunya kekuatan yang saat itu mampu menyetop Hitler serta memiliki tendensi melakukannya cuma Uni Soviet.

Akan tetapi, Pemimpin Uni Soviet Joseph Stalin bersikap dingin pada setelah upaya Negeri Komunis itu membangun aliansi politik dengan Inggris dan Prancis untuk melawan Jerman, ditolak pada awal 1939. Terlebih lagi, Polandia nampak tidak tertarik menjadikan Uni Soviet sebagai pelindung mereka.

Adolf Hitler paham bahwa Inggris tidak akan berani menyerang sendirian. Der Fuhrer menelan ketakutannya pada komunisme demi berkoalisi dengan Joseph Stalin. Sebagai informasi, baik Hitler maupun Stalin satu sama lain menaruh kecurigaan yang cukup tinggi.

Namun, Hitler tahu bahwa dirinya harus terus berpacu dengan waktu. Jika ingin merenggut Polandia, ia harus melakukannya dengan segera sebelum pihak Barat membentuk aliansi baru. Hitler mengirim Menteri Luar Negeri Joachim von Ribbentrop ke Moskow dengan misi merangkul Uni Soviet.

Dinukil dari History, Rabu (23/8/2017), kedua pihak sepakat untuk membagi Eropa Timur ke dalam kekuasaan masing-masing. Jerman dan Uni Soviet juga seiya sekata untuk tidak saling mengganggu dalam proses menaklukkan wilayah masing-masing di Eropa Timur.

Kesepakatan itu dikukuhkan lewat perjanjian yang ditandatangani Joachim von Ribbentrop dengan Menteri Luar Negeri Uni Soviet, VM Molotov, pada 23 Agustus 1939. Perjanjian tersebut sering kali disebut sebagai Pakta Ribbentrop-Molotov, sesuai dengan para penanda tangan.

Akan tetapi, pakta tersebut tidak disambut baik oleh pendukung gerakan Bolshevik di Uni Soviet. Mereka marah dan menganggap Stalin menghancurkan upaya internasionalisasi sosialisme. Bolshevik murka karena Stalin mau-maunya bersisian dengan diktator fasis seperti Adolf Hitler.

Tentu saja kesepakatan tersebut tidak berlangsung lama. Segera setelah Jerman menguasai Polandia, aliansi yang terjalin langsung runtuh. Bahkan, Uni Soviet berjasa untuk menyingkirkan Jerman dari Polandia yang ditandai dengan banyaknya patung tentara merah Uni Soviet di negara tersebut.

(Wikanto Arungbudoyo)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement