Image

Ulama Tolak Kegiatan Dakwah Untuk Kepentingan Politik

Ahmad Sahroji, Jurnalis · Jum'at 15 September 2017, 09:06 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 09 14 337 1776240 ulama-tolak-kegiatan-dakwah-untuk-kepentingan-politik-tyyUCBE47l.jpg

JAKARTA - Mengomentari pedoman dakwah yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dai Kondang Ustaz Zakky Mirza sepakat dengan regulasi yang dikeluarkan MUI. Hal itu menyusul kekhawatirannya melihat para pendakwah yang banyak terlibat dalam politik.

"Apalagi dakwah yang untuk kepentingan politik dan untuk satu pihak, dan itu yg harus diantisipasi," katanya kepada Okezone, Jumat (15/9/2017).

Rujukan pedoman dakwah yang dikeluarkan MUI tersebut, lanjut Zakky, menunjukkan bahwa dakwah harus sesuai dengan tuntunan. "Harus pure dakwah," singkatnya.

"Dengan adanya aturan baru dari MUI, pendakwah punya pekerjaan rumah besar untuk memperbanyak wawasan, memperluas keilmuan. Saya rasa itu hal yang positif. Tapi yang dikhawatirkan kalau aturan-aturan itu dipakai untuk propaganda dan kepentingan politik," katanya.

Ketika dakwah sudah tercampur dengan politik, kata Zaky, masyarakat akan menjadi ambigu. "Ini si ustaz berbicara atas nama siapa nih? Atas nama partai? atas nama kubu tertentu? sedangkan dakwah itu tetap yang disampaikan mauizotil hasanah, nilai-nilai kebaikan, nilai nilai Qurani, sunah rasul," terang pria yang pernah kuliah di Fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar Kairo Mesir tersebut.

Sebelumnya, tren dunia politik sudah banyak diikuti oleh para selebritis tanah air. Mereka dinilai bisa menarik suara sebanyak-banyaknya bagi partai ataupun seorang calon tertentu. Sejumlah politikus pun memprediksi para pekerja seni yang terjun ke dunia politik bakal terus bertambah yang menjelang Pileg 2019.

Sekjen Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto memprediksi, kalangan arti yang berkecimpung di dunia politik akan semakin bertambah. Itu akibat dari sistem Pemilu yang dijalankan di Indonesia adalah sistem proporsional terbuka. Sehingga semua parpol akan mencari caleg yang memiliki popularitas tinggi di mata masyarakat.

“Ya di dalam sistem proporsional terbuka ini memang ada kecenderungan orang mencalonkan hanya berdasarkan popularitas semata,” ujarnya kepada Okezone, beberapa waktu lalu.

(ydp)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini