Malam Satu Suro, Waktu yang Pas Memandikan Benda Pusaka

Syaiful Islam, Okezone · Rabu 20 September 2017 23:13 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 09 20 519 1780062 malam-satu-suro-waktu-yang-pas-memandikan-benda-pusaka-jt1Zd5nl5J.jpg (Foto: Syaiful Islam)

SURABAYA – Keris merupakan salah satu pusaka asli Nusantara y‎ang dijadikan benda antik nan bertuah. Zaman sekarang keris tidak lagi menjadi pegangan dalam perang, namun menjadi pegangan dan filosofi dalam melakoni kehidupan.

Keris menjadi ‘ageman’ atau pegangan para pejabat dalam mempertahankan jabatannya, pangkat, dan kedudukannya. Selain itu, keris menjadi salah satu koleksi bagi penyuka benda-benda pusaka.

Ada dua unsur dalam menilai keris yaitu secara esoteris dan eksoterisnya. Ketika berbicara esoteris, maka yang dibahas menyangkut soal tuah, tayuh, khasiat, isi, dan segala sesuatu secara mendalam. Berbeda dengan eksoteris yang membahas menyangkut pamor, bentuk keindahan, pembuatan, dan estetika nilai keris itu sendiri.

Di samping ‎keris sebagai pusaka kerajaan‎, secara esoteris keris ternyata juga menjadi salah satu sarana pengasihan, sarana kekayaan, sarana kerezekian, kesuksesan, dan lain sebagainya. Keris pusaka menjadi salah satu sarana spiritual dan supranatural yang sangat diminati hingga saat ini.

Pusaka berkhodam identik dengan aura mistis dan laku ritual tertentu dalam merawatnya agar tetap berkhasiat. Salah satu ritual yang tak boleh ditinggalkan oleh si pemiliknya yakni memandikan pusaka di malam 1 suro.

Cara memandikan keris di malam satu suro inilah yang biasa dilakukan oleh para pemilik keris.‎ Cara memandikan keris menjadi salah satu hal penting utamanya bagi para pecinta dunia supranatural dan orang-orang yang suka mengoleksi keris.

‎Ritual membersihkan keris ini menjadi cara yang bisa mengisi kembali energi dalam keris tersebut. Adapun alat-alat yang perlu disiapkan lainnya, tempat air (baskom) dipergunakan sebagai media untuk memandikan atau mencuci pusaka.

Kemenyan, dupa, dan bunga setaman. Kembang setaman yang terdiri dari lima macam yakni kembang kanthil, kembang melati, mawar merah dan putih, serta bunga kenanga. Fungsi utama dari bunga ini nantinya dicampurkan ke dalam air dalam baskom yang akan digunakan untuk membasuh pusaka.

Selain itu, kemenyan atau dupa dipergunakan saat ritualjamasan pusaka akan dilakukan. Selanjutnya, belimbing wuluh atau jeruk nipis diperlukan sebagai penghilang karat yang terdapat pada benda pusaka.

Adapun minyak yang biasa digunakan sebagai cara memandikan keris yaitu minyak misik, minyak zakfaron, minyak jamas, minyak kayu cendana, minyak melati, dan minyak seribu bunga. Kain kafan atau kain mori juga penting dalam cara memandikan keris. Karena kain ini nantinya digunakan untuk membungkus pusaka keris yang sudah dimandikan.

“Itu peralatan yang dibutuhkan dalam menjamas keris. Cara-cara seperti itu merupakan warisan yang telah diajarkan oleh para empu dan leluhur dalam merawat keris pusaka,” ungkap Raden Ridwan Yusuf, pecinta dan kolektor keris sepuh, Rabu (20/9/2017) malam.‎

Dia menceritakan, Keris sepuh merupakan peninggalan para empu dahulu. Mereka membuat keris dengan pengharapan dan doa dijalankan dengan lelaku dan tirakat penuh keikhlasan kepada sang pencipta. Tidak salah merawat dengan tata cara yang diwariskan para empu terdahulu. Bukan mengkultuskan sebuah benda.

Jadi kembali kepada niat hati. Jelas yang sakti penuh karomah bukan kerisnya melainkan empunya lantaran hatinya dekat dengan sang pencipta. Makanya, sebelum ritual memandikan keris dilakukan, terlebih dahulu pemilik keris harus mendoakan empu pembuat keris melalui ritual pembukaan.‎

Dahulu, ketika seseorang ingin memesan keris pusaka disesuaikan dengan pekerjaan sehari-hari. Misalnya, yang memesan keris seorang petani maka si empu akan membuatkan pusaka untuk keberlimpahan hasil taninya. Beda lagi saat seorang raja yang memesan. Seorang empu akan membuat dengan penuh pengharapan agar pusaka yang akan dibuat bisa berguna bagi rakyat yang dipimpin.

“Keris dapur Singobarong yang saya miliki adalah yang paling berkesan dan istimewa karena merupakan warisan seorang raja. Berkinatah emas, berpamor uler lulut dan junjung drajat. Perpaduan pamor semacam ini melambangkan keinginan agar raja bisa memakmuran rakyatnya dengan kekayaan yang dimiliki kerajaan serta langgeng mempertahankan kerajaan. Adapun dapur Singobarong melambangkan keberanian dan kebijaksanaan seorang raja,” jelasnya.

Dia menerangkan, asal mula memperoleh keris tersebut saat khalwat di makam Raden Kusumo Meloyo, ayah pangeran Trunojoyo. Saat itu, dirinya bermimpi sedang dikejar-kejar banyak orang sehingga merasa bingung dan ketakutan. Akhirnya, dia bersembunyi di sebuah makam yang ada di kecamatan Kamal dan diberi sebuah pusaka keris. Keesokan harinya, ada seseorang yang datang ke rumahnya mengantarkan sebuah keris berdapur singobarong tersebut.

“Saat diantarkan ke rumah, langsung datang juga orang lain mencari keris tersebut dan ingin memaharkan keris itu dengan angka yang besar. Tetapi tidak saya berikan. Orangnya sekarang masih ada. Banyak hal yang tidak bisa saya jelaskan di sini,” ungkap pria asal Bangkalan ini.‎

Tak hanya itu, keris dapur nogorojo yang dimiliki merupakan peninggalan kerajaan mataram yang merupakan warisan dari sesepuhnya. S‎elain keris, jenis tombak keraton Bangkalan berdapur Panggang lele dan Arosbaya juga dimiliki olehnya. Sebagian besar merupakan warisan, hanya beberapa saja yang merupakan pemberian orang lain.‎

Pria yang sering menyepi tersebut menceritakan, asal mula kegemarannya terhadap pusaka lantaran banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan indera manusiawi. Seperti salah satu pusaka yang jika memegangnya tidak bisa ditusuk dengan jarum dan kulit tahan terhadap air keras.‎

“Karena sang pencipta itu maha gaib, maka hanya bisa dirasakan dengan kegaiban hati. Kalau benda pusaka itu salah satu ciptaan empu yang unik. Yang lebih unik itu empunya. Dan yang membuat seorang empu adalah sang pencipta. Di situ saya mulai merasakan filosofi keterkaitannya, antara sang pencipta, empu dan keris,” ceritanya.

Secara eksoteris, keris harus tetap dilestarikan dan dibudayakan. Sebab, Unesco telah mengakui keris sebagai warisan budaya dunia. Makanya, banyak saat ini keris kamardikan dibuat oleh empu-empu muda. Itu sebagai bentuk pelestarian budaya asli Indonesia.

“Keris kamardikan dibuat setelah masa penjajahan. Di Madura desa Aeng Tong-tong Sumenep memproduksi keris-keris tersebut. Penjualannya sampai ke luar negeri. Kalau keris sepuh di atas itu, jangan sampai dijual ke luar negeri karena mengandung nilai sejarah yang tak ternilai. Itu warisan asli,” tandas pria yang sehari-hari berprofesi sebagai wartawan tersebut.

(erh)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini