SURABAYA – Keris merupakan salah satu pusaka asli Nusantara yang dijadikan benda antik nan bertuah. Zaman sekarang keris tidak lagi menjadi pegangan dalam perang, namun menjadi pegangan dan filosofi dalam melakoni kehidupan.
Keris menjadi ‘ageman’ atau pegangan para pejabat dalam mempertahankan jabatannya, pangkat, dan kedudukannya. Selain itu, keris menjadi salah satu koleksi bagi penyuka benda-benda pusaka.
Ada dua unsur dalam menilai keris yaitu secara esoteris dan eksoterisnya. Ketika berbicara esoteris, maka yang dibahas menyangkut soal tuah, tayuh, khasiat, isi, dan segala sesuatu secara mendalam. Berbeda dengan eksoteris yang membahas menyangkut pamor, bentuk keindahan, pembuatan, dan estetika nilai keris itu sendiri.
Di samping keris sebagai pusaka kerajaan, secara esoteris keris ternyata juga menjadi salah satu sarana pengasihan, sarana kekayaan, sarana kerezekian, kesuksesan, dan lain sebagainya. Keris pusaka menjadi salah satu sarana spiritual dan supranatural yang sangat diminati hingga saat ini.
Pusaka berkhodam identik dengan aura mistis dan laku ritual tertentu dalam merawatnya agar tetap berkhasiat. Salah satu ritual yang tak boleh ditinggalkan oleh si pemiliknya yakni memandikan pusaka di malam 1 suro.
Cara memandikan keris di malam satu suro inilah yang biasa dilakukan oleh para pemilik keris. Cara memandikan keris menjadi salah satu hal penting utamanya bagi para pecinta dunia supranatural dan orang-orang yang suka mengoleksi keris.