Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sepenggal Kisah Letjen Sarwo Edhie yang Berhasil Rebut Kembali Pangkalan Udara Halim

Ahmad Sahroji , Jurnalis-Sabtu, 30 September 2017 |06:42 WIB
Sepenggal Kisah Letjen Sarwo Edhie yang Berhasil Rebut Kembali Pangkalan Udara Halim
Soeharto dan Sarwo Edhie Wibowo (Foto: Istimewa)
A
A
A

JAKARTA - Nama Letnan Jendral TNI Sarwo Edhie Wibowo seperti tak asing lagi masyarakat Indonesia. Ya, dia adalah ayah dari Kristiani Herrawati atau Ani Yudhoyono yang merupakan istri dari Presiden Keenam Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Nama Pria kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, 25 Juli 1925, mulai dikenal saat dirinya menjadi Komandan RPKAD pada peristiwa G30S/PKI terjadi. Pada 1 Oktober 1965 pagi, enam jenderal, termasuk Jenderal Ahmad Yani diculik dari rumah mereka dan dibawa ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

Sementara proses penculikan sedang dieksekusi, sekelompok pasukan tak dikenal menduduki beberapa tempat seperti Monumen Nasional (Monas), Istana Kepresidenan, Radio Republik Indonesia (RRI), dan gedung telekomunikasi.

Hari dimulai seperti biasanya bagi Sarwo Edhie dan pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang sedang menghabiskan pagi mereka di markas RPKAD di Cijantung, Jakarta. Kemudian Kolonel Herman Sarens Sudiro tiba. Sudiro mengumumkan bahwa ia membawa pesan dari markas Kostrad dan menginformasikan kepada Sarwo Edhie tentang situasi di Jakarta.

Sarwo Edhie yang juga teman dekat Jendral Ahmad Yani itu diberitahu oleh Sudiro, bahwa Mayor Jenderal Soeharto yang menjabat sebagai Panglima Kostrad diasumsikan akan menjadi pimpinan Angkatan Darat. Setelah memberikan banyak pemikirannya, Sarwo Edhie mengirim Sudiro kembali dengan pesan bahwa ia akan berpihak dengan Soeharto.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement