Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Berasal dari Desa yang Aman, 70 Ribu Pengungsi Gunung Agung Bakal Dipulangkan

Nurul Hikmah , Jurnalis-Jum'at, 29 September 2017 |22:21 WIB
Berasal dari Desa yang Aman, 70 Ribu Pengungsi Gunung Agung Bakal Dipulangkan
Pengungsi Gunung Agung (Antara)
A
A
A

KARANGASEM – Jumlah pengungsi Gunung Agung membeludak hingga mencapai hampir 144 ribu jiwa. Diperkirakan warga yang berada di tempat aman juga ikut mengungsi.

Di Karangasem, terdapat 78 desa. Sebanyak 27 desa berada dalam radius berbahaya jika Gunung Agung meletus. Sementara 51 desa lainnya berada di luar Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Agung.

“Dari 78 desa di Kabupaten Karangasem, yang tidak aman adalah 27 desa yang berpotensi terkena awan panas dan lahar jika Gunung Agung meletus, dengan jumlahnya sekitar 70 ribu jiwa pengungsi," kata Gubernur Bali I Made Mangku Pastika, Karngasem, Jumat (29/9/2017).

(Baca Juga: Diantara Ribuan Korban Gunung Agung, Dinkes Bali Temukan 12 Pengungsi Gangguan Jiwa)

Diketahui, jumlah pengungsi terus meningkat hingga mencapai 144 ribu lebih. Hal ini diperkirakan lantaran warga desa yang berada di luar KRB Gunung Agung ikut mengungsi.

“Perkiraan kita dalam lingkaran KRB 1, KRB 2, dan KRB 3, hanya ada sekitar 70 ribu orang. Berarti ada pengungsi yang berasal dari desa aman," ujarnya.

(Baca Juga: Asap Gunung Agung Semakin Tinggi, Jumlah Pengungsi Meningkat)

Ada kelebihan lebih dari 75 ribu pengungsi yang berasal dari 51 desa yang aman yang ikut mengungsi.

"Tidak ada alasan bagi yang berasal dari desa aman untuk mengungsi. Harus dikembalikan ke desanya masing-masing. Sebab, ini menjadi beban. Beban bagi yang menerima pengungsi dan beban bagi pengungsi yang meninggalkan rumahnya. Oleh karena itu akan dikembalikan ke desanya, kecuali dari 27 desa. Mereka harus tetap mengungsi. Tidak boleh pulang,” terangnya.

Sementara itu, Gubernur Bali mengatakan, bupati dan wali kota agar segera membuatkan kartu identitas pengungsi seperti Kartu Keluarga (KK) yang ditandatangani oleh kepala desa sebagai kartu hak untuk pengungsi.

Di kartu identitas itu akan tercantum nama, usia, desa asal, dan jumlah anggota keluarga. Pembuatan kartu ini agar pengungsi dapat tervalidasi.

Pemerintah daerah dalam 7 hari ini akan mengidentifikasi warga yang tidak perlu mengungsi dan diimbau kembali ke rumahnya masing-masing.

Setelah teridentifikasi, warga dari 27 desa akan ditampung di balai banjar, khususnya di Karangasem.

“Kami harapkan Keliang Banjar untuk mempersiapkan diri menerima saudara-saudara kita yang berasal dari 27 desa yang sah menjadi pengungsi. Setelah itu akan jelas pengungsinya," bebernya.

"Mereka kita tempatkan di balai banjar karena kalau di tenda dikhawatirkan akan kehujanan, becek, panas, debu, dan sebagainya. Koordinator lapangannya adalah Keliang Banjar (aparat desa)," jelasnya.

Dia menambahkan,  kordesnya adalah Kepala Desa sehingga jalur komandonya jelas karena menggunakan aparat desa. Pengungsi yang di banjar akan dipasok logistiknya.

"Daya tampung banjar tergantung pada besar kecilnya banjar. Di bale banjar, akan ditambahkan listrik, lampu darurat, genset, tenda dapur umum, tandon air, permakanan, keperluan sehari-hari, dan kebutuhan dasar pengungsi lainnya sehingga terjamin suplai logistik. Selain banjar juga menggunakan GOR, balai desa, gedung dan lainnya," pungkasnya.

(Erha Aprili Ramadhoni)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement