FLORES - Bagi anda yang ingin atau akan berkunjung kr Flores, Nusa Tenggara Timut (NTT), tidak ada salahnya untuk mengunjungi salah satu kampung unik di Desa Tiwuriwu, Kecamatan Aimere, sekitar 19 km selatan Bajawa.
Kampung tersebut adalah Kampung Bena adalah salah satu perkampungan megalitikum yang terletak di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Kampung yang terletak di puncak bukit dengan view gunung Inerie merupakan pemuja gunung sebagai tempat para dewa. Menurut penduduk kampung ini, mereka meyakini keberadaan Yeta, dewa yang bersinggasana di gunung ini yang melindungi kampung mereka.
Kampung ini saat ini terdiri kurang lebih 40 buah rumah yang saling mengelilingi. Badan kampung tumbuh memanjang, dari utara ke selatan. Pintu masuk kampung hanya dari utara. Sementara ujung lainnya di bagian selatan sudah merupakan puncak sekaligus tepi tebing terjal.
Rumah pusat untuk pria disebut sakalobo, yang dikenali dengan patung laki-laki memegang parang dan tombak ditempatkan di atas rumah. Sedangkan rumah bagi perempuan disebut sakapu'u.
Kampung ini sudah masuk dalam daerah tujuan wisata Kabupaten Ngada. Ternyata kampung ini menjadi langganan tetap wisatawan dari Jerman dan Italia.
Di tengah-tengah kampung atau lapangan terdapat beberapa bangunan yang mereka menyebutnya bhaga dan ngadhu. Bangunan bhaga bentuknya mirip pondok kecil (tanpa penghuni).
Sementara ngadhu berupa bangunan bertiang tunggal dan beratap serat ijuk hingga bentuknya mirip pondok peneduh. Tiang ngadhu biasa dari jenis kayu khusus dan keras karena sekaligus berfungsi sebagai tiang gantungan hewan kurban ketika pesta adat.
Walau sudah melampaui 10 abad, kampung ini tetap mempertahankan jejak megalitikum warisan pendiri kampung. Dan Sekitar 40 rumah di kampung tersebut, tersusun rapi mengelilingi makam, bhaga dan ngadhu.
Ada aturan tak tertulis penduduk Bena agar tidak mengganggu wisatawan. Tapi wisatawan didorong untuk menyambut mereka. Kemudian menyaksikan senyum menyambut mereka bersinar dari wajah mereka yang tulus.
Pestatahunan yang diadakan di desa ini sekitar Desember atau awal Januari disebut Reba. Di masa lalu, perayaan-perayaan ini berlangsung selama lebih dari satu minggu yang melibatkan pembantaian ternak, babi dan ayam. Namun saat ini, perayaan tersebut akan berlangsung tidak lebih dari tiga hari untuk membatasi hewan yang disembelih.
Pastikan bahwa Anda tidak meninggalkan sampah di belakang, tetapi membawa pulang beberapa, cerita dan foto-foto desa ini dan penduduk desa yang hingga saat ini masih mempertahankan budaya hidup mereka yang kuno dan langka.
(Dilansir dari berbagai sumber)
(fin)
(Amril Amarullah (Okezone))
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.