Sejarah 'Murka' Gunung Ile Lewotolok dan Ritual Sapa Alam Usai Gempa Meneror Warga

Adi Rianghepat, Okezone · Jum'at 20 Oktober 2017 07:05 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 20 340 1799021 sejarah-murka-gunung-ile-lewotolok-dan-ritual-sapa-alam-usai-gempa-meneror-warga-dPeHf68u4J.jpg Gunung Ile Lewotolok, Lembata, NTT (capture video Youtube)

KUPANG - Gunung Ile Lewotolok di Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak Minggu 8 Oktober 2017 menggeliat. Guncangan demi guncangan mulai terjadi dan memuncak pada 10 hingga 11 Oktober 2017.

Kala itu, di mana seluruh material bebatuan yang ada di pundak gunung dengan Ketinggian 1.423 m (4.669 kaki) itu tumpah ruah menghantam seluruh desa yang berjajar di sepanjang pusaran lereng gunung itu.

Badan Geologi, PVMBG pun menaikan status gunung itu dari level I (normal) menjadi waspada atau level II.

Di puncak Gunung Ile Lewotolok terdapat kawah besar menyerupai kaldera berbentuk bulan sabit yang disebut warga dengan nama 'Metong Lamataro'. Ini adalah bagian dari kawah lama Gunung Lewotolo. Sebuah kerucut terbentuk di bagian tenggara 'Metong Lamataro' sebagai puncak tertinggi Gunung Lewotolo saat ini.

Kerucut tersebut memiliki lubang kawah aktif di puncaknya dengan hembusan asap solfatara di hampir semua bagian kerucut. Solfatara berwarna kuning membara, hablur belerang hasil sublimasi banyak ditemukan di lerang timur, utara dan selatan dari kerucut baru ini.

Bukan secara kebetulan, Gunung Lewotolo atau Ile Lewotolok atau masyarakat setempat menyebutnya Ile Ape itu sudah beberapa kali mengeluarkan material sebagai akibat dari letusannya. Tercatat sejak tahun 1660 kemudian tahun 1819 dan 1849.

(Baca juga: Digoyang Gempa, Puluhan Rumah Rusak Akibat Tertimpa Material Gunung Ile Lewotolok)

Pada tanggal 5 dan 6 Oktober 1852 terjadi letusan yang merusak daerah sekitarnya dan muncul kawah baru dan komplek solfatara di sisi timur-tenggara. Letusan Gunung Lewotolo juga terjadi di tahun 1864, 1889 dan terakhir pada 1920 dikabarkan penduduk terjadi letusan kecil.

Selanjutnya pada tahun 1939 dan 1951 terjadi kenaikan aktivitas vulkanik Gunung Lewotolo.

Letusan Gunung Lewotolo yaitu berupa lontaran lava pijar, abu, awan panas dan hembusan gas beracun. Gunung api ini sempat mengalami masa krisis gempa pada Januari 2012. Saat itu PVMBG meningkatkan status gunung dari normal ke waspada hingga siaga, hanya dalam waktu kurang dari satu bulan.

Namun, pada 25 Januari 2012 pukul 16.00 Wita, PVMBG menurunkan statusnya dari siaga ke waspada dan turun lagi menjadi berstatus normal pada 17 Oktober 2013 pukul 10.00 Wita. Yang teranyar status aktivitas vulkanik gunung berketinggian 1.423 mdpl ini ditingkatkan dari normal ke waspada sejak 7 Oktober 2017, pukul 20.00 Wita hingga saat ini.

Warga Mengungsi

Setelah 165 tahun sejak letusan yang sangat parah melanda daerah itu pada 5 dan 6 Oktober 1852, aktivitas kegempaan terjadi lagi di gunung Ile Lewotolok pada 10 dan 11 Oktober 2017 dan memporak porandakan puluhan rumah warga serta fasilitas umum lainnya di daerah itu. Otoritas Pemerintah Kabupaten lembata mengambil sikap mengevakuasi warga di sejumlah desa yang terdampat parah sebagai akibat guncangan gempa yang mencapai kekuatan 4,9 skala ricter magnitude.

(Baca juga: Status Gunung Ile Lewotolok NTT Naik Jadi Waspada, Warga Dilarang Mendaki)

Warga Kecamatan Ile Ape mulai mengungsi mengamankan diri ke sejumlah wilayah yang dianggap aman. Pemerintah Kabupaten Lembata menetapkan dua lokasi aman sebagai lokasi pengungsian yaitu, di Kantor Camat Ile Ape dan sebagian ditempatkan di bekas rumah jabatan Bupati Lembata di Lewoleba.

"Ada juga sebagiannya dijemput keluarga masing-masing dan tinggal di rumah keluarga yang aman," kata Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langoday dalam perbincangannya dengan Okezone di Kupang.

Bantuan makan dan obat-obatan sebagai tanggap darurat langsung disalurkan kepada semua pengungsi di dua lokasi tersebut, untuk memastikan kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan para warga yang menjadi korban gempa tersebut.

Terhadap stok obat-obatan, disediakan cukup termasuk siaga paramedis dan dokter di lokasi tempat pengungsian. Stok pangan berupa beras, pun sangat tersedia, meskipun masih memanfaatkan stok beras yang ada di Dinas Sosial Kabupaten Lembata.

(Baca juga: Rusak Akibat Gempa, Rekonstruksi Jalan Sekitar Gunung Ile Lewatolok Lembata Butuh Rp5,8 Miliar)

Pemerintah mencatat korban sejumlah rumah yang rusak akibat tertindih bebatuan dari Ile Lewotolok atau Ile Ape itu juga sudah terjadi. Setidaknya ada 11 rumah rusak berat dan 29 rumah ruak ringan. Juga terjadi keguncangan jiwa, ketakutan dan gangguan psikologis lain sebagai akibat dari bencana tersebut. "Apalagi untuk para lansia dan anak-anak. Kami melihat terjadi ketakutan yang maha dasyat di mental meraka," katanya.

Dibutuhkan anggaran Rp5,8 miliar merekonstruksi ruas jalan Lamagute-Waimatan sepanjang 2,3 kilometer yang rusak parah tertimbun material bebatuan Gunung Ile Lewotolok saat bencana gempa bawah laut itu.

Pemerintah memandang penting segera meronstruksi ruas jalan yang rusak itu untuk membuka kembali akses transportasi masyarakat untuk kepentingan peningkatan ekonomi masyarakat.

Selain merekonstruksi ruas jalan itu, Pemerintah Kabupaten Lembata juga berencana menambah luasan lebar ruas jalan di utara daerah seputuaran Gunung Ile Lewotolok yang melintasi Mawa menuju Lamagute hingga ke Waimatan selebar 40 meter dengan kebutuhan anggaran Rp18 miliar lebih.

"Staf teknis Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lembata telah menghitungnya dan diharap akan ada bantuan dana tersebut untuk kepentingan pelaksanaan rekonstruksi jalan tersebut," katanya.

Dengan pelaksanaan pekerjaan ruas jalan itu, maka tentu akan kembali membuka kases transportasi masyarakat di daerah itu, terutama di titik seputaran gunung Ile Lewotolok. "Akses semakin terbuka maka tentu mendukung upaya mensejahterakan masyarakat daerah ini," kata Thomas.

Lakukan 'Pau Boe' Menyapa Alam

Porak poranda kampungnya telah mendorong masyarakat di kaki Gunung Ile Lewotolok untuk sadar akan segala perbuatannya. Secara adat, masyarakat sembilan desa yang mengintari lereng gunung itu sadar bahwa telah melakukan hal salah di dalam hubungannya dengan alam, yang diyakini dihuni juga oleh roh para leluhur.

Proses 'pau boe' atau disebut sebagai prosesi kekuatan menyapa alam pun dilakukan. "Jika kami sudah salah melakukan komunikasi dengan alam selama ini dan kami ditegur dengan guncangan gempa ini, agar dimaafkan. Tetapi jika kami juga masih kurang melakukan dan atau belum melakukan simbolisasi sapa alam, kami diingatkan," kata Thomas Ola mengulangi dawaian sapaan adat dikala prosesi dilangsungkan.

Prosesi 'pau boe' dilakukan oleh sejumlah kepala suku dan yang dituakan, dengan menyembeli sejumlah hewan berupa ayam dan babi. Darah dan daging hasil sembelihan lalu disajikan dan dipersembahkan ke para penghuni alam di sejumlah titik altar sembahan.

Saat ini tidak ada lagi gempa susulan sebagaimana yang dirasakan sejak 8 Oktober hingga 11 Oktober lalu. Masyarakat sudah bisa kembali ke rumah masing-masing di kaki gunung Ile Lewotolok, meskipun status gunung itu masih berada di level II. Apakah itu hasil seremoni adat yang dilakukan, 'pau boe' menyapa alam dan leluhur?.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini