Bantuan makan dan obat-obatan sebagai tanggap darurat langsung disalurkan kepada semua pengungsi di dua lokasi tersebut, untuk memastikan kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan para warga yang menjadi korban gempa tersebut.
Terhadap stok obat-obatan, disediakan cukup termasuk siaga paramedis dan dokter di lokasi tempat pengungsian. Stok pangan berupa beras, pun sangat tersedia, meskipun masih memanfaatkan stok beras yang ada di Dinas Sosial Kabupaten Lembata.
(Baca juga: Rusak Akibat Gempa, Rekonstruksi Jalan Sekitar Gunung Ile Lewatolok Lembata Butuh Rp5,8 Miliar)
Pemerintah mencatat korban sejumlah rumah yang rusak akibat tertindih bebatuan dari Ile Lewotolok atau Ile Ape itu juga sudah terjadi. Setidaknya ada 11 rumah rusak berat dan 29 rumah ruak ringan. Juga terjadi keguncangan jiwa, ketakutan dan gangguan psikologis lain sebagai akibat dari bencana tersebut. "Apalagi untuk para lansia dan anak-anak. Kami melihat terjadi ketakutan yang maha dasyat di mental meraka," katanya.
Dibutuhkan anggaran Rp5,8 miliar merekonstruksi ruas jalan Lamagute-Waimatan sepanjang 2,3 kilometer yang rusak parah tertimbun material bebatuan Gunung Ile Lewotolok saat bencana gempa bawah laut itu.
Pemerintah memandang penting segera meronstruksi ruas jalan yang rusak itu untuk membuka kembali akses transportasi masyarakat untuk kepentingan peningkatan ekonomi masyarakat.
Selain merekonstruksi ruas jalan itu, Pemerintah Kabupaten Lembata juga berencana menambah luasan lebar ruas jalan di utara daerah seputuaran Gunung Ile Lewotolok yang melintasi Mawa menuju Lamagute hingga ke Waimatan selebar 40 meter dengan kebutuhan anggaran Rp18 miliar lebih.
"Staf teknis Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lembata telah menghitungnya dan diharap akan ada bantuan dana tersebut untuk kepentingan pelaksanaan rekonstruksi jalan tersebut," katanya.