JAKARTA - Peristiwa Budi Utomo, kelahiran Sumpah Pemuda dan Proklamasi Kemerdekaan menjadi sebuah antologi. Ketiganya memiliki cerita berbeda, namun sangat berkaitan dalam sebuah plot yang mengisahkan perjuangan para pemuda dalam merebut kemerdekaan bangsa.
Peristiwa berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 dianggap sebagai awal kebangkitan nasional dan keterlibatan pemuda dalam perjuangan bangsa. Pendirian Boedi Oetomo bahkan disebut-sebut sebagai awal dari proses bangkitnya rasa nasionalisme.
Setelah Budi Utomo, tercatat sejumlah organisasi dan partai politik turut lahir. Budi Utomo pun mengubah pola perjuangan bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Digagas oleh Wahidin Sudirohusodo, didirikan oleh Soetomo dan digerakkan oleh para pemuda, mahasiswa STOVIA. semisal Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji, Budi Utomo berhasil memicu kesadaran para tokoh pergerakan nasional untuk mulai berjuang dengan cara berorganisasi.
"Membicarakan kembali peran Wahidin dan Soetomo berarti membicarakan kembali suatu proses panjang kelahiran dan perkembangan nasionalisme Indonesia. Proses itu semakin memperlihatkan bentuk nasionalisme yang nyata dalam wujud Perhimpunan Indonesia (PI) dan partai-partai politk yang menyusulnya, di antaranya Parindra," tutur seorang tokoh pers, Manuel Kaisiepo sebagaimana dilansir Kompas.com
Bahkan, Presiden Soekarno, dalam setiap pidatonya selalu menyebut berdirinya Budi Utomo sebagai tonggak kesadaran masyarakat akan pentingnya persatuan dan kesatuan.
"Kita bangsa Indonesia buat pertama-pertama kali mulai lamat-lamat menyadari pentingnya persatuan dan kesatuan itu," kata Soekarno dalam Peringatan Hari Sumpah Pemuda 1952.
Soekarno memuci ide dan gagasan segar yang dibangun oleh para pendiri Budi Utomo yang menunjukkan cara baru untuk melawan penjajahan Belanda lewat perserikatan, perhimpunan politik dan persatuan.
Melompat ke tahun 1928, 20 tahun pasca berdirinya Budi Utomo, sebuah peristiwa besar lain terjadi. Sebuah kongres pemuda digelar di Jalan Kramat, Jakarta. Kongres yang dinamai sebagai Kongres Pemuda II itu menjadi kisah kedua dalam antologi perjuangan pemuda meraih kemerdekaan bangsa.
Pada kongres itu, para pemuda bersumpah untuk berdaulat sebagai sebuah bangsa. Sumpah itu yang kemudian menjadi senjata ideologi yang digunakan Soekarno dan Mohammad Yamin, Ketua Kongres Pemuda II untuk memukul kelompok-kelompok pemberontak dan separatis yang mengancam keutuhan bangsa.
Soekarno dengan kemampuan komunikasi politiknya yang mumpuni berhasil menjadikan Sumpah Pemuda sebagai 'barang keramat' yang memiliki nilai kesakralan tinggi. Dengan seruan yang telah terikrar dalam Sumpah Pemuda, bangsa Indonesia berhasil terselamatkan dari berbagai upaya pemecah belah persatuan. Dan lagi-lagi, pemuda berdiri sebagai penggerak.
17 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Peristiwa pengeboman Kota Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus membuat Jepang lengah dan lemah. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh para pemuda untuk segera mewujudkan proklamasi kemerdekaan.
Para pejuang muda yang terdiri dari Chaerul Saleh, Sukarni, Wikana dan Tan Malaka terus mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan. Meski Jepang telah menjanjikan penyelenggaraan kemerdekaan pada 24 Agustus 1945, mereka khawatir rencana tersebut merupakan tipu muslihat semata.
Pada saat itu, Soekarno belum yakin Jepang betul-betul menyerah. Soekarno khawatir proklamasi kemerdekaan saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar. Para pemuda kemudian membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok, dini hari tanggal 16 Agustus 1945.
Dalam kesempatan itulah mereka berusaha meyakinkan Soekarno agar tidak terpengaruh terhadap Jepang untuk memberikan hadiah kemerdekaan sesuai hasil pertemuan di Dalat Vietnam.
Benar saja, sekembalinya dari Rengasdengklok, Soekarno dan Hatta berusaha menemui Kepala Staf Tentara ke XVI (Angkatan Darat) yang menjadi Kepala pemerintahan militer Jepang (Gunseikan) Hindia Belanda, Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto di Jakarta.
Yamamoto menyatakan tak ingin menemui Soekarno ataupun Hatta yang ketika itu diantar oleh Tadashi Maeda. Yamamoto malah memerintahkan Kepala Departemen Urusan Umum Otoshi Nishimura untuk menemui rombongan
Nishimura mengatakan, sejak siang hari tanggal 16 Agustus 1945 telah diterima perintah dari Tokyo, bahwa Jepang harus menjaga status quo sehingga tidak dapat memberi izin untuk mempersiapkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagaimana telah dijanjikan oleh Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam.
Mendengar itu, keduanya bersama Achmad Soebardjo dan disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro (Mbah) dan Sayuti Melik sekira dini hari menyusun naskah proklamasi. Naskah ini kemudian diketik oleh Sajuti menggunakan mesin ketik yang diambil dari kantor perwakilan AL Jerman, milik Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.
Pagi harinya 17 Agustus 1945 bertepatan dengan bulan suci Ramadan, kemerdekaan RI dideklarasikan di kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56.
(ydp)
(Amril Amarullah (Okezone))
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.