Image

HISTORIPEDIA: Super Topan Haiyan Sapu Habis Filipina, Korban Tewas Diyakini Capai 10 Ribu Orang

Rahman Asmardika, Jurnalis · Rabu 08 November 2017, 06:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 07 18 1810012 historipedia-super-topan-haiyan-sapu-habis-filipina-korban-tewas-diyakini-capai-10-ribu-orang-9TiOKhbOQM.jpg Sebuah kapal kargo kandas di darat, empat hari setelah Topan Super Haiyan menerjang Anibong, Kota Tacloban, Filipina, 11 November 2013. (Foto: Reuters)

PADA 8 November 2013, sebuah badai dahsyat mendarat di Filipina, memporakporandakan negara Asia Tenggara itu dan menyebabkan tewasnya ribuan orang. Topan Haiyan atau yang dikenal juga sebagai Topan Super Yolanda di Filipina merupakan salah satu bencana alam terdahsyat yang dialami Negeri Lumbung Padi dalam satu dekade terakhir.

Topan Haiyan mendarat untuk pertama kalinya di Samar Timur, pada Jumat, 8 November 2013 pukul 04.40 dini hari dan langsung menunjukkan kedahsyatannya. Hampir semua bangunan di Guiuan, Samar Timur mengalami setidaknya kerusakan kecil dan banyak di antaranya yang benar-benar hancur rata dengan tanah.

Berdasarkan data badan meteorologi Filipina, PAGASA, Haiyan memiliki kecepatan angin stabil 235 kilometer per jam dan hembusan kencang yang dapat mencapai 275 kilometer per jam.

Amukan Topan Haiyan terus berlanjut ke Kepulauan Leyte di mana dia menyebabkan kerusakan yang kolosal. Hampir 80 persen infrastruktur kota-kota di kepulauan itu hancur tinggal puing. Dari sana, Haiyan terus bergerak ke arah timur melewati Cebu, Kota Boracay, Tacloban, San Jose dan Busuanga di Palawan.

Tidak hanya kerusakan parah, Haiyan juga menimbulkan gelombang besar yang membawa banjir. Gelombang besar yang dibawa Haiyan dinilai sebagai penyebab banyaknya korban jiwa dalam bencana alam dahsyat tersebut. Wilayah Samar dan Leyte yang berada di dataran rendah mengalami kerusakan yang sangat parah dengan sebagian wilayah digambarkan sebagai tanah kosong yang tertutup lumpur dan puing bangunan.

Topan Haiyan menjauh dari Filipina pada 9 November 2013 mengarah ke Laut China Selatan menuju ke Vietnam meninggalkan jejak kehancuran dan korban jiwa yang masif di berbagai wilayah negara itu. Dilansir Rappler, Rabu (8/11/2017), pada 10 November 2013, Departemen Kesejahteraan Sosial dan Pembangunan Filipina memperkirakan lebih dari 2,1 juta keluarga dan sekira 9,53 juta individu merasakan dampak dari Topan Haiyan.

Sepekan setelah terjangan badai, Palang Merah Filipina memperkirakan 22 ribu orang hilang, bahkan sampai Januari 2014 masih ada jasad-jasad korban badai Haiyan yang ditemukan.

Hampir tiga tahun kemudian, pada 17 April 2016, Dewan Penanggulangan Bencana dan Resiko Nasional Filipina (NDRRMC) mengonfirmasi Topan Haiyan telah menewaskan 6.300 orang di seluruh negeri dan 1.061 orang masih dinyatakan hilang. Dari jumlah itu 5.877 korban terjadi di daerah Visayas Timur.

Namun, banyak yang meyakini bahwa jumlah korban sebenarnya bisa mencapai lebih dari 10 ribu orang.  

Dunia internasional segera merespons bencana besar yang terjadi di Filipina itu. Lebih dari 30 negara segera mengirimkan bantuan berupa logistik, dana, obat-obatan dan tenaga medis serta sukarelawan untuk membantu Pemerintah Filipina.

Indonesia tidak ketinggalan turut mengirimkan bantuan kemanusiaan dan logistik senilai USD1 juta dengan tiga pesawat Hercules ke daerah-daerah yang terkena dampak Topan Haiyan. Bantuan tersebut termasuk obat-obatan, makanan, generator dan sukarelawan.

Dahsyatnya Topan Haiyan juga mendorong negara-negara untuk lebih serius memandang fenomena perubahan iklim yang dianggap berdampak pada munculnya badai-badai yang dibentuk dari suhu permukaan laut yang semakin meninggi.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini