Usung Ridwan Kamil Jadi Gubernur Jabar, Kader Golkar Jabar akan Mengadu ke Mahkamah Partai
BANDUNG - Partai Golkar resmi mencalonkan Ridwan Kamil sebagai bakal calon gubernur Jawa Barat 2018. Putusan yang tidak mengusung Dedi Mulyadi, membuat arus bawah partai Golkar menggeliat dan para pengurus kecamatan (PK) menyatakan sikap.
Juru Bicara Forum Komunikasi Pengurus Kecamatan Partai Golkar Jawa Barat Yayan Heryana mengatakan dukungan PK se-Jawa Barat terhadap Dedi Mulyadi murni karena melihat sosoknya. Dedi dinilai punya kapasitas mumpuni untuk menjadi cagub.
Itu alasannya kenapa Golkar dari tingkat bawah hingga DPD Partai Golkar Jawa Barat merekomendasikan Dedi Mulyadi sebagai cagub. Tapi, DPP justru mengusung calon lain yang membuat kader Golkar di Jawa Barat gerah.
Sebab, Dedi Mulyadi didukung dengan mekanisme yang sudah benar. Sehingga, apa yang dilakukan DPP justru tidak sejalan dengan mekanisme yang ada.
Para kader Golkar dari berbagai PK itu pun akan bersikap. Mereka akan mengadu soal keberatannya itu ke Mahkamah Partai Golkar.
"Kami akan menuntut ke Mahmakah Partai. Kami akan berangkat ke sana (dalam waktu dekat)," kata Yayan, dalam konferensi pers di Bandung, Selasa (7/11/2017).
Dirinya menyatakan ada 600 PK selain Indramayu. Mereka menolak keputusan DPP mengusung Ridwan Kamil-Daniel Muttaqien. Menurutnya Yayan, akar rumput Golkar di Jawa Barat marah dengan keputusan DPP. Kemarahan itu pun sulit dibendung. Sehingga, para kader akan ke Mahkamah Partai Golkar untuk menyuarakan penentangan terhadap keputusan DPP.
"Kami di grassroot marah besar, kami tidak mengizinkan baju kami sedikit demi sedikit luntur. Kami tidak mengizinkan itu (DPP mengusung Ridwan Kamil)," tegasnya.
Ia mengaku bingung apa yang dijadikan dasar oleh DPP untuk mengusung Ridwan Kamil, termasuk merekomendasikan Daniel Muttaqien sebagai cawagubnya.
Selain itu, parpol seharusnya menjaga marwahnya dengan mengusung kadernya sendiri. Tapi, yang terjadi Golkar justru mengusung orang lain yang bukan kader.
Hal serupa dilakukan partai lain yang memilih mengusung non kader. Itu dinilai sebagai sebuah kegagalan bersama.
"Muncul di publik parpol itu tidak dihormati, kalah oleh figur. Ini kegagalan seluruh parpol kalau semua parpo ngagugu (menuruti) ke si individu. Kalau parpol sepakat mengangkat derajat partai politik, ya parpol usung kadernya dong," tegasnya.
Yan, perwakilan PK Malangbong (Garut), menyatakan dalam Rakerda beberapa waktu lalu di Karawang, hanya nama Dedi Mulyadi yang direkomendasikan menjadi cagub untuk disampaikan ke DPP.
"Yang dikritisi, waktu Rakerda itu yang diusulkan Dedi Mulyadi, tidak ada nama Ridwa Kamil. Tapi tiba-tiba (SK) yang turun Ridwan Kamil. Ini yang sangat kita pertanyakan, apa artinya? Sudah jelas mekanismenya waktu itu (ditempuh dengan benar)," tandas Yan. (feb)
BANDUNG - Partai Golkar resmi mencalonkan Ridwan Kamil sebagai bakal calon gubernur Jawa Barat 2018. Putusan yang tidak mengusung Dedi Mulyadi, membuat arus bawah partai Golkar menggeliat dan para pengurus kecamatan (PK) menyatakan sikap.
Juru Bicara Forum Komunikasi Pengurus Kecamatan Partai Golkar Jawa Barat Yayan Heryana mengatakan dukungan PK se-Jawa Barat terhadap Dedi Mulyadi murni karena melihat sosoknya. Dedi dinilai punya kapasitas mumpuni untuk menjadi cagub.
Itu alasannya kenapa Golkar dari tingkat bawah hingga DPD Partai Golkar Jawa Barat merekomendasikan Dedi Mulyadi sebagai cagub. Tapi, DPP justru mengusung calon lain yang membuat kader Golkar di Jawa Barat gerah.
Sebab, Dedi Mulyadi didukung dengan mekanisme yang sudah benar. Sehingga, apa yang dilakukan DPP justru tidak sejalan dengan mekanisme yang ada.