JAKARTA - Nama Nurtanio nyaris lenyap dari ingatan segenap bangsa. Laksamana Muda Udara (Anumerta) Nurtanio Pringgoadisuryo adalah perintis industri penerbangan nasional. Bersama dua karibnya, Wiweko Soepono dan Jacob Salatun, Nurtanio membuat pesawat layang Zogling NWG pada tahun 1947.
Di usia 42 tahun, Nurtanio wafat dalam sebuah penerbangan, ketika pesawat yang dipilotinya jatuh. Langit Bandung, 21 Maret 1966 pun jadi saksi kepergian Nurtanio.
Dalam buku "Nurtanio: Perintis Industri Pesawat Terbang Indonesia", diceritakan bagaimana kecintaan Nurtanio pada pesawat telah dimulai sejak usia dini. Nurtanio kecil adalah seorang penggila buku dan majalah penerbangan. Masa kecilnya dipenuhi dengan berbagai antusiasme soal burung besi.
Nurtanio kecil bahkan seringkali mengajak sang adik, Nurprapto ke Lapangan Terbang Kalibanteng, Semarang --nama lawas dari Bandara Achmad Yani. Di sana, Nurtanio menanti pesawat-pesawat yang seliweran, berlandas dan bertolak.
Pesawat-pesawat itu diamati dengan seksama oleh Nurtanio. Setiap seluk-beluknya, pergerakannya hingga jadwal lalu-lalang. Sebab, pada hari-hari mendatang, Nurtanio akan kembali ke sana untuk mengulangi kegiatan yang sama.
Tak berhenti pada masa kecilnya di Semarang. Saat bersekolah di Yogyakarta, Nurtanio masih melakukan kegiatan yang sama. Secara rutin, Nurtanio mendatangi Sekip --lapangan terbang pertama di Yogyakarta-- untuk memenuhi hasratnya menikmati pergerakan pesawat di sana.
Beberapa tahun berselang, Nurtanio berhasil mewujudkan mimpinya --berkutat dengan pesawat. Kala itu, Nurtanio yang telah bergabung dengan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) memulai perlahan merintis perwujudan mimpinya untuk membuat pesawat terbang.
Nurtanio yang ketika itu menjabat sebagai Komandan Depo Perawatan Teknik Udara, membangun bengkel kecil. Bersama tim kecil bentukannya yang berisikan 15 personel, Nurtanio berkutat dengan pesawat, mulai dari merawat, memperbaiki hingga merancang pesawat.
Kerja keras Nurtanio dan timnya membuahkan hasil. Dalam waktu satu tahun, mereka berhasil membuat sebuah pesawat jenis tempur antigerilya, Sikumbang. Pesawat bermaterial logam inilah yang kemudian menjadi pesawat pertama karya anak bangsa.
Penerbangan perdana Sikumbang dilakoni pada tanggal 1 Agustus 1954. Kala itu, Sikumbang yang diterbangkan oleh pilot asal Amerika Serikat, Kapten Pilot Powers, terbang di atas Lapangan Udara Husein Sastranegara. Penerbangan perdana Sikumbang disambut begitu meriah oleh segenap pihak yang menyaksikan momen bersejarah itu.
Penerbangan perdana Sikumbang berhasil mencuri perhatian dunia internasional. Pesawat buatan Nurtanio dan timnya itu pun masuk dalam publikasi tahunan penerbangan dunia, Jane's All the World's Aircraft. Pada era-era berikutnya, Nurtanio kembali menciptakan berbagai pesawat, mulai dari pesawat latih Belalang, pesawat olahraga Kunang, helikopter Gyrocopter Kolentang hingga pesawat serbaguna, Gelatik.
Pada periode-periode selanjutnya, nama Nurtanio terus diabadikan dalam berbagai penghormatan. Pada 1976, saat pemerintah mulai merintis industri pesawat terbang pertamanya, nama Nurtanio diangkat sebagai nama perusahaan industri pesawat pertama Indonesia, yakni PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio.
Seiring perjalanan waktu, PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio berganti nama menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 1985, dan berganti lagi menjadi PT Dirgantara Indonesia pasca restrukturisasi pada tahun 2000.
Mimpi dan Semangat Nurtanio dalam Pesawat N-219
Bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2017 lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadikan nama Nurtanio sebagai nama resmi untuk produk pesawat hasil sinergitas PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), N-219.
(BACA JUGA: Jokowi Angkat Nama Nurtanio sebagai Nama Resmi Pesawat N-219)
Dalam peresmian yang dilakukan di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur itu, Jokowi memaparkan alasan dibalik pengangkatan nama Nurtanio sebagai nama resmi pesawat N-219.
"Laksamana Muda Udara Anumerta Nurtanio Pringgoadisuryo adalah pahlawan bangsa yang berjuang tanpa pamrih. Seluruh hidupnya didharmabhaktikan untuk kedirgantaraan Indonesia," ujarnya.
Jokowi juga mengisahkan bagaimana Laksamana Nurtanio gugur dalam sebuah penerbangan uji coba. Jokowi pun turut meyitir sebuah kalimat inspiratif dari Nurtanio yang patut dijadikan teladan, yakni "'Sudah, kita tidak usah ribut-ribut, yang penting kerja'" tutur Jokowi melafalkan kalimat sakti tersebut.
"Dan inilah hasil kerja putra putri Nurtanio dan akan terus dilanjutkan hingga generasi anak-anak kita nanti [...] Dan dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, saya resmikan pesawat N219 sebagai pesawat Nurtanio" lanjut Jokowi.
Jokowi berharap industri pesawat terbang Indonesia dapat dimulai dari N-219. Penamaan Nurtanio, diharapkan Jokowi dapat menjadi pendorong semangat seluruh komponen terkait dalam membangun industri pesawat terbang nasional dengan kesungguhan dan integritas, sebagaimana diteladani Nurtanio sepanjang masa baktinya.
Nurtanio dikenal sebagai sosok yang menganut disiplin tinggi dalam kehidupannya. Kedisiplinan, kejujuran dan ketelitian menjadi nilai dasar yang dipegang teguh Nurtanio dalam membuat setiap pesawat.
“Dia mengerjakan pesawat untuk manusia, maka menerapkan disiplin ketat. Orang lain belum datang, dia pasti sudah datang. Apel mulai jam 07.00, dia jam 06.30 sudah keliling mengecek pekerjaan,” kata Darwis dan Walgito, dua anak buah Nurtanio, sebagaimana dikisahkan CNN.
Saking telitinya Nurtanio, setiap pagi ia rutin melakukan pengecekan pada setiap komponen pesawat, mulai dari mesin hingga debu-debu di kaca jendela pesawat. Nurtanio sudah begitu dalam dengan pesawat. Ia tahu betul bagaimana debu dapat memengaruhi penerbangan pesawat.
“Debu menahan kelembapan air atau kondensasi. Sekrup berdebu lambat laun akan berkarat karena kondensasi. Itu tak boleh terjadi karena terkait keselamatan,” kata Walgito.
Pada masa baktinya di AURI, Nurtanio kerap menghabiskan malam di bengkel dan di kantor. Tak hanya keras dalam menerapkan disiplin, Nurtanio juga merupakan pimpinan yang memiliki kepedulian tinggi pada personel di bawahnya. Hampir setiap malam, Nurtanio berkeliling asrama untuk mengecek menu makan para personelnya.
Dalam sebuah kesempatan, Nurtanio pernah mengungkapkan mimpi besarnya, alasan dibalik kerja kerasnya, berkutat dengan pesawat, malam dan siang. Bagi Nurtanio, sebagai bangsa merdeka, Indonesia harus memiliki pesawat buatan sendiri.
“Bangsa yang merdeka harus memiliki pesawat buatan sendiri untuk keperluan sipil dan militer. Jangan bergantung pada bangsa lain, bangun kekuatan udara sendiri,” kata Nurtanio
Mimpi dan semangat Nurtanio itulah yang coba ditanamkan oleh Jokowi dalam tubuh N-219.
(ydp)
(Amril Amarullah (Okezone))
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.