SURABAYA – Perang Paregreg yang terjadi pada masa kerajaan Majapahit tampaknya bakal terjadi di Jawa Timur, dimana dua kader terbaik Nahdlatul Ulama (NU), Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Khofifah Indar Parawansa dipertemukan sebagai pesaing pada Pemilihan Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim) 2018.
Percik persaingan mulai menyalah di antara dua kubu. Beberapa waktu lalu, publik disuguhi perang statement antara Cak Imin (Muhaimin Iskandar) dan Khofifah --yang notabene sesama NU.
Kemudian, baku kritik antara Kiai Mutawakil dikubu Gus Ipul dan Kiai Asep di pihak Khofifah. Serta perang ujaran antara Prof A'la dan Kiai Muhklis. Lalu disusul perang ujaran antara forum Kiai Kampung dan Kiai pendukung Khofifah yang mudah ditemukan di berbagai media massa. Hal tersebut dinilai hampir sama dengan perang Paregreg di era Majapahit.
Pada saat itu disuguhkan perseteruan antara Bhre Wirabumi melawan Kusumawardhani/Wikrama Wardhana. Perang antar sesama anak kandung Hayam Wuruk itu, pada akhirnya justru membawa kemunduran bagi kekuasaan Kerajaan Majapahit.
“Perang statement antara para Kiai dan antar pendukung tersebut adalah pemicu kemunduran bagi Jatim. Terlebih lagi, jika hal ini berkepanjangan dan tidak dikelola dengan dewasa,” terang Pengamat Politik asal Universitas Trunojoyo Madura, Mochtar W. Oetomo, Sabtu (18/11/2017).
Kondisi ini, sambung Mochtar, bisa saja dimanfaatkan pihak-pihak tertentu hingga bisa memicu Perang Paregreg di Pilgub nanti. Perang sesama anak kandung NU. Meskipun demikian, polarisasi pada Pilgub Jatim 2018 bakal kecil kemungkinan menyentuh wilayah SARA.
Polarisasi yang terjadi mungkin hanya sebatas antara NU struktural dengan NU kultural dalam hal dukungan ke kedua kandidat. Tetapi, jika perang ujaran itu berlarut bisa saja pertentangan akan melebar ke polarisasi antar wilayah, antar banom NU, antar pondok dan Kiai.
“Yang pada akhirnya akan melebar ke santri sebagai akar rumput pendukung. Jika sudah begini potensi konflik horizontal bisa semakin memuncak,” terang Direktur Surabaya Survey Centre tersebut.
Hal senada juga diungkapkan Pakar Komunikasi Politik Senior asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Suko Widodo. Menurut Suko, terjunnya kiai dalam praktek politik dengan dua poros yang sudah ada yakni kader terbaik NU bisa memicu perpecahan ala Perang Paregreg.
“Walaupun peribaratannya agak sedikit salah, tapi ini yang paling mendekati. Karena perang Paregreg, Majapahit langsung mengalami kemunduran. Jangan sampai para kiai mulai melupakan khitahnya sebagai Begawan di tengah masyarakat,” tukas Suko.
Sementara itu, Sekretaris DPD Gerindra Jatim, Anwar Sadad, mengungkapkan ide soal membentuk poros emas sebagai cara meredam panasnya persaingan antara individu-individu di dalam tubuh NU yang mulai terbelah dengan cara mendorong pertarungan ide dan gagasan ke atas arena kontestasi pilkada.
“Poros emas nantinya akan beda. Setelah menemukan kombinasi Cagub dan Cawagub, poros emas akan menonjolkan gagasan dan ide untuk memajukan Jatim. Karena itu yang dibutuhkan Jatim. Bukan perang klaim dukungan yang menggunakan term agama seperti fardhu ain atau apa itu. Pilkada sejatinya adalah perang gagasan dan perang ide,” ucap Anwar.
(ydp)
(Amril Amarullah (Okezone))