Kisah Halimah Yacob dan 6 Perempuan Pertama yang Jadi Pemimpin di Negaranya

Selasa 21 November 2017 02:03 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 20 18 1817298 kisah-halimah-yacob-dan-6-perempuan-pertama-yang-jadi-pemimpin-di-negaranya-qPLYqnz3UE.jpg Halimah Yacob dilantik sebagai presiden ke-8 Singapura, Kamis (14/9/2017). (Foto: Channel News Asia)

JARANG disorot, kaum perempuan ternyata punya potensi besar untuk menjadi pemimpin. Sebuah studi di BI Norwegian Business School membuktikan bahwa wanita memiliki nilai tinggi dalam banyak bidang terkait kemampuan tersebut.

Wanita dinilai mampu memimpin banyak orang, karena lebih inisiatif, suportif, komunikatif, dan terbuka. Adapun penelitian itu dilakukan terhadap 700 orang di level manajer.

Indonesia sendiri sempat memiliki presiden wanita pertama, yakni Megawati Soekarnoputri. Dia adalah presiden kelima Tanah Air yang menjabat sejak 23 Juli 2001 sampai 20 Oktober 2004.

Tidak hanya Megawati, rupanya negara-negara berikut ini juga punya pemimpin wanita untuk pertama kalinya. Inilah kisah singkat mereka:

1. Halimah Yacob, Singapura

Memulai karier politik sebagai seorang anggota partai pemerintah, Partai Aksi Rakyat (PAP), Ia kini menjadi wanita pertama yang menjadi presiden dalam sejarah Republik Singapura. "Saya benar-benar berpikir tentang pekerjaan yang harus kita lakukan, dan saya ingin segera mulai," ujar Presiden ke-8 Singapura itu saat pelantikannya.

Di hadapan wartawan, Halimah mengaku sedang berpikir untuk berbagi tanah Istana dengan lebih banyak warga Singapura. "Misalnya, kita punya taman herbal. Mungkin kita bisa mengundang para warga senior sebagai sukarelawan yang sesekali datang dan merawat taman itu, serta memanen berbagai buah, bumbu, cabai," tutur Halimah.

Halimah sendiri adalah satu-satunya kandidat yang memenuhi syarat pemilihan presiden, dan menang secara aklamasi. Perempuan berhijab itu mengisi kekosongan etnis Melayu di tampuk kenegaraan sejak Yusof Ishak menjadi presiden pada 47 tahun lalu.

 

BACA JUGA: Jadi Presiden Singapura, Halimah Yacob Ingin Berbagi Istana dengan Warganya

2. Tsai Ing-wen, Taiwan

Sebanyak 21 juta warga memilih Tsai Ing wen, calon presiden (capres) dari Democratic Progressive Party (DPP). Ia menjadi presiden perempuan pertama di Taiwan.

Terpilihnya Tsai membuktikan bahwa warga Taiwan bosan dengan partai-partai yang selama ini ‘bersahabat’ dengan China. Sementara DPP sendiri, sangat mendukung kemerdekaan dari Taiwan.

 

Tsai Ing-wen. (Foto: Reuters)

BACA JUGA: Tsai Ing wen Presiden Perempuan Pertama Taiwan

Tsai Ing-wen berhasil memenangkan 56 persen dari jumlah suara total dan sukses mengalahkan Eric Chu (Partai Kuomintang) dan James Soong (People First Party). Kemenangan Tsai ini memecahkan rekor sejarah selisih terbesar dalam pemilu di Taiwan.

"Kemenangan demokrasi sudah menjadi milik kita bersama, jalan menuju perubahan akan panjang dan sulit. Namun, warga Taiwan tidak akan pernah menyerah," kata Tsai kepada para pendukungnya di markas DPP di Taipei.

 

BACA JUGA: Tsai Ing-wen, Presiden Baru Taiwan di Jajaran Perempuan Paling Berpengaruh

3. Ellen Johnson Sirleaf, Liberia

Bersaing dengan 22 kandidat, Johnson berhasil menjadi presiden Liberia sejak 2005. Ia mengalahkan beberapa nama besar seperti mantan pesepak bola Liberia dan bintang klub AC Milan 1995, George Weah; mantan presiden Liberia sekaligus diktator dan penjahat perang, Charles Taylor; dan mantan pemimpin gerilyawan, Sekou Conneh.

Ellen Johnson Sirleaf. (Foto: Reuters)

Saat itu Johnson tercatat sebagai perempuan pertama yang terpilih sebagai kepala negara di Afrika. Pemenang Nobel Perdamaian 2011 itu pun menginspirasi perempuan Liberia untuk akitf di dunia politik.

Perjalanan karier politik perempuan kelahiran 29 Oktober 1938 itu memang tidak mulus. Ia sempat dipenjara dua kali saat menjadi anggota Senat pada 1985. Hal itu karena rezim militer Samuel Doe dan Charles Taylor tak menyukai kiprah Johnson yang terus menggaungkan kesetaraan dan perdamaian di Liberia.

Saat ini Liberia sedang menjalani masa pemilu. Weah dan Wapres Liberia, Joseph Boakai, bersaing ketat memperebutkan posisi Johnson. Hasil hitung cepat pemilu tahap pertama pada 13 Oktober menunjukkan keunggulan Weah di 11 dari 15 negara bagian.


BACA JUGA: Gantung Sepatu, Mantan Pesepakbola George Weah Jadi Capres Unggulan di Liberia

4. Bidhya Devi Bhandari, Nepal

Meniti karier politik sejak masih remaja, Bidhya Devi Bhandari resmi menjadi presiden perempuan pertama Nepal setelah Parlemen memilihnya pada 2015. Ia mengalahkan saingannya, Kul Bahadur Gurung, dengan perolehan suara 327 berbanding 214.

Ibu dua anak itu mulai keras menyuarakan aspirasi sejak suaminya, Madan Bhandari, yang juga anggota partai komunis, meninggal dalam kecelakaan mobil pada 1993. Ia pun mendapatkan banyak simpati untuk memenangi kursi di parlemen.

 

Bidhya Devi Bhandari. (Foto: AP)

Ia terpilih menjabat Menteri Pertahanan Nepal sejak 2009 hingga 2011. Bhandari dipuji oleh para pendukungnya sebagai figur yang memiliki sikap kuat terhadap peningkatan jumlah perempuan di Parlemen Nepal.

BACA JUGA: Nepal Resmi Miliki Presiden Perempuan Pertama

Dukungan pun terus bertambah, hingga membawanya ke kursi pemerintahan di negara kecil Asia Selatan itu. "Saya berjanji akan melakukan yang terbaik untuk melindungi undang-undang dasar dan bekerja untuk pembangunan dan kesejahteraan negara kita,"ujar Bhandari saat dilantik.

5. Ameenah Gurib-Fakim, Mauritius

Ameenah adalah seorang profesor kimia berusia 55 tahun. Ia dinominasikan oleh koalisi yang dipimpin Perdana Menteri, Anerood Jugnauth.

Ia menjadi Presiden setelah pendahulunya, Presiden Rajkeswar Purryag, mengundurkan diri pada 29 Mei 2015. Ameenah pun menjadi presiden pertama perempuan di Mauritius.

“Ini pertama kalinya dalam sejarah Mauritius, seorang perempuan menduduki posisi ini,” demikian kata Juru Bicara Parlemen Mauritius, Santi Bai Hanoomanjee, setelah penunjukan Ameenah disetujui.

 

Ameenah Gurib-Fakim. (Foto: Twitter)

BACA JUGA: Mauritius Resmi Miliki Presiden Pertama Perempuan

Ameenah sendiri berjanji akan memberikan yang terbaik untuk masyarakat dan negara. "Saya menerima jabatan ini dengan kerendahan hati. Saya merasa ada konsensus di antara anggota parlemen dan juga di antara masyarakat," kata Amneenah kepada wartawan saat itu.

6. Kolinda Grabar-Kitarovic, Kroasia

Grabar menjadi presiden wanita pertama di negara itu sejak Februari 2015. Ia sempat membuat heboh karena fotonya memakai bikini saat berlibur di pantai. Ia pun disebut sebagai presiden terseksi dunia oleh para netizen.

 

Kolinda Grabar-Kitarovic. (Foto: Reuters)

Adapun Grabar sempat menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Kroasia pada 2005 sampai 2008 di Kabinet Ivo Sanader I. Ia juga pernah menjadi Duta Besar Kroasia untuk Amerika Serikat sejak 2008 hingga 2011.

7. Veronica Michelle Bachelet, Cile

Bachelet memang berhasil mencerminkan keberhasilan perempuan memimpin negara. Mengawali karier sebagai dokter bedah spesialis anak, dia terpilih menjadi presiden perempuan pertama di Cile pada 2006.

Ia berhasil mengakhiri junta militer di negaranya dan bertahan selama dua periode. Adapun mempertahankan masa jabatan hingga dua periode hanya bisa dilakukan olehnya dan presiden sebelumnya, Arturo Alessandri pada 1938.

 

Veronica Michelle Bachelet. (Foto: Reuters)

Meski diwarnai skandal keuangan yang melibatkan putranya, Sebastian Davalos, pada 2015, ia telah membuat gebrakan yang belum pernah direalisasikan pemimpin laki-laki di mana pun. Gebrakan itu adalah merealisasikan 92 persen dari 50 janji reformasinya dalam waktu 100 hari sejak disumpah pada 2014.

BACA JUGA: Michelle Bachelet, Presiden Kedua Cile yang Menjabat Dua Kali

 

Mantan menteri kesehatan dan pertahanan nasional itu pun merombak kabinetnya menjadi seimbang antara wanita dan pria dalam hal jumlah. Masing-masing 10 laki-laki dan 10 perempuan.

Bachelet sendiri pernah berkunjung ke Jakarta pada 11-12 Mei lalu. Kunjungan itu untuk membahas penguatan kerjasama bilateral antara kedua negara. (Hotlas Mora Sinaga/Magang)

1
7

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini