Helat Pemilu Parlemen Perdana, Nepal Siap Bertransformasi dari Monarki ke Republik

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Minggu 26 November 2017 11:25 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 26 18 1820715 helat-pemilu-parlemen-perdana-nepal-siap-bertransformasi-dari-monarki-ke-republik-kyDTcmbi6U.jpg Warga Nepal menggunakan hak pilih dalam pemilu parlemen perdana di negara itu. (Foto: Reuters)

KATHMANDU - Warga Nepal mulai memilih para anggota parlemen dalam proses pemilu hari ini. Setelah lebih dari 10 tahun berakhirnya perang saudara antara Maois dan gerilyawan, Nepal berharap pemilu parlemen pertama sejak 1999 ini akan melengkapi perjalanan mereka dari monarki menjadi republik federal.

Tahap kedua pemilu akan digelar pada 7 Desember. Komisi pemilu menyatakan, hasil final belum akan diumumkan dalam beberapa hari ini mengingat adanya proses perhitungan yang harus dijalani.

Suresh Balsami adalah pemilih pertama yang tiba di tempat pemungutan suara (TPS) di Kagatigaun, dekat Ibu Kota Nepal, Kathmandu.

"Saya memilih perdamaian, pembangunan dan kesejahteraan negara," ujar pengemudi bus berusia 32 tahun itu, seperti dikutip Reuters, Minggu (26/11/2017).

BACA JUGA: Nepal Resmi Miliki Presiden Perempuan Pertama

Nepal melangsungkan pemilu pada 2008 dan 2013 untuk memilih Majelis Konstitusi, yang berfungsi ganda sebagai parlemen. Tugas majelis ini adalah menuliskan konstitusi baru pascamonarki sebagai langkah awal peralihan menjadi republik federal.

Lebih dari 15 juta pemilih akan menentukan 275 anggota legislatif, yang pertama sejak konstitusi itu disetujui setelah pembahasan bertahun-tahun. Waga Nepal akan memilih perwakilan di tujuh provinsi secara serentak untuk pertama kalinya sejak negara itu menghapuskan monarki pada 2008.

BACA JUGA: Berteman 57 Tahun, Nepal Baru Buka Perwakilan Diplomatik di Indonesia, Kok Bisa?

Terletak di antara India dan China, Nepal perlu menyeimbangkan kedudukan. Tetapi hasil pemilu ini akan menentukan negara manakah yang akan lebih didukung Nepal. Kedua negara itu mencari keuntungan dari potensi Nepal yang kaya akan sumber tenaga air.

Pemilu Nepal ini berlangsung di tengah setidaknya 30 insiden ledakan di negara tersebut. Kelompok pemberontak Maois disalahkan untuk berbagai insiden tersebut. Berbagai peristiwa itu seakan mengingatkan Nepal betapa mereka ingin meninggalkan kekerasan dan ketidakstabilan di belakang.

Rumah bagi salah satu gunung tinggi dunia, Everest, dan negara miskin, Nepal bergantung pada pariwisata dan bantuan. Lebih dari seperlima dari total 28 juta warganya hidup hanya dengan pendapatan kurang dari USD1,90 (Rp25.214) per hari. Sebagian kawasan Nepal juga masih memulihkan diri dari dampak gempa yang menewaskan 9.000 orang pada 2015.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini