Selain itu, ketua umum dan kepengurusan baru, lanjut Arif, harus mampu menjawab tantangan Golkar hari ini, apalagi menjelang tahun politik Pilkada, Pileg dan Pilpres. Karena itu, ketum baru harus merupakan sosok yang bisa menyatukan kekuatan faksi-faksi di Golkar dan memiliki beban politik minimalis.
“Di tengah trend elektabilitas Golkar yang makin menurun sebagaimana dilansir oleh beberapa survey, tak ada pilihan lain kecuali Munaslub segera dilaksanakan agar Golkar bisa terselamatkan,” pungkasnya.
(Baca juga: Soal Nasib Setya Novanto, Golkar Masih Berpegang Teguh pada Hasil Pleno)
(Awaludin)