Depresi, Vincent van Gogh Potong Telinganya Sendiri hingga Jadi Lukisan

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Sabtu 23 Desember 2017 08:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 23 18 1834911 depresi-vincent-van-gogh-potong-telinganya-sendiri-hingga-jadi-lukisan-DQuK9XTvbE.jpg Vlada Dzyuba. (Foto: Shanghaiist)

SELAMA hampir satu pekan terakhir, berita tentang meninggalnya personel boyband SHINee Kim Jong-hyun menyita perhatian dunia. Sebab, pria berusia 27 tahun itu ditemukan tidak sadarkan diri setelah menghirup asap dari briket batu bara di apartemennya di Seoul, Korea Selatan (Korsel). Ia diyakini bunuh diri karena depresi.

Depresi juga pernah menghinggapi banyak orang di dunia. Ada yang memilih jalan pintas untuk bunuh diri, ada juga yang mampu mengatasinya. Ada pula yang menjadikan depresi itu sebagai inspirasi. Adalah pelukis terkemuka Belanda, Vincent van Gogh, yang melakukannya.

Vincent Willem van Gogh lahir pada 30 Maret 1853 di Belanda. Ia memiliki kepribadian yang sulit diterka dan gampang gugup. Van Gogh pernah gagal saat mencoba berkarier di sebuah galeri seni. Banting setir menjadi pengkhotbah bagi penambang di Belgia pun tidak menyelesaikan masalahnya.

Pada 1880, van Gogh berpindah haluan dan menetapkan diri menjadi seorang seniman. Salah satu karyanya yang paling terkenal di masa itu adalah lukisan berjudul ‘Potato Eaters’ (1885). Lukisan bertema gelap itu merupakan refleksi dari pengalamannya berada di antara para penambang di Belgia yang jauh di bawah garis kemiskinan.

Van Gogh lantas pindah ke Paris bersama adiknya, Theo, pada 1886. Ia diketahui amat dekat dengan Theo. Sang adik yang berprofesi sebagai pialang seni mendukung penuh jalan hidup yang ditempuh Vincent. Pekerjaan Theo membawa van Gogh kepada nama-nama seniman mashyur saat itu seperti Paul Gauguin, Camille Pisarro, dan Georges Seurat.

Sebelum mengenal nama-nama itu lukisan-lukisan van Gogh terkesan gelap dan penuh kemurungan. Ia kemudian mengubah gaya lukisnya karena terinspirasi dari nama-nama di atas dan juga seniman lainnya. Van Gogh mulai berani menentukan gaya sendiri serta menggoreskan warna-warna cerah di atas kanvas.

Melansir dari History, Sabtu (23/12/2017), Vincent menyewa sebuah rumah di Arles, selatan Prancis, pada 1888 dengan harapan dapat mendirikan koloni seniman serta tidak ingin terus menjadi beban bagi Theo. Di sana, Vincent melukis sejumlah skena mengenai kehidupan pedesaan, termasuk karya-karya mengenai bunga matahari yang terkenal.

Gauguin datang untuk tinggal bersamanya di Arles dan keduanya mulai bekera sama selama hampir dua bulan. Namun, ketegangan tercipta di antara kedua pelukis itu. Puncaknya, pada 23 Desember 1888, Vincent yang terkena penyakit demensia, mengancam Gauguin dengan sebilah pisau.

Tak ingin menyakiti kawannya, Vincent van Gogh kemudian memotong salah satu daun telinganya. Ia membungkus telinga itu dan diberikan kepada seorang pelacur di rumah bordil terdekat. Vincent pun terpaksa dirawat di sebuah rumah sakit sebelum akhirnya menjalani pemulihan kejiwaan di Saint-Remy selama satu tahun.

Insiden pemotongan telinga itu diabadikan oleh van Gogh di atas kanvas. Ia berhasil menciptakan lukisan berjudul ‘Self-Portrait with Bandaged Ear’ dari kejadian tragis itu.

Selama berada di Saint-Remy, pikiran van Gogh bercampur aduk antara periode kegilaan dan kreatif yang tinggi. Di masa itu, ia berhasil menciptakan lukisan terbaik dan paling terkenal di antara karya-karya lain, termasuk lukisan berjudul ‘Starry Night dan ‘Irises’.

Sayangnya, depresi tetap tidak bisa pergi dari Vincent van Gogh. Setelah keluar dari Saint-Remy, Vincent memutuskan pindah ke Auvers-sur-Oise, dekat Paris, pada Mei 1890. Meski sudah pindah, kesepian dan depresi tetap hinggap dalam hidupnya. Vincent van Gogh akhirnya bunuh diri pada 27 Juli 1890 dengan sepucuk pistol. Ia meninggal dua hari kemudian di usia 37 tahun.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini