BENUA Afrika dikenal dengan harta karun berupa berlian atau permata. Barang tambang dari Benua Hitam tersebut bahkan mendapat julukan Berlian Berdarah, merujuk pada konflik yang sering terjadi demi mendapatkan sebongkah permata kasar, terutama di Sierra Leone.
Pada 25 Januari 1905, Tambang Premier di Pretoria, Afrika Selatan (Afsel), pernah menjadi perbincangan setelah ditemukannya permata berukuran 3.106 karat. Batu permata seberat 0,96 kilogram (kg) itu ditemukan saat inspeksi rutin yang dilakukan oleh pengawas tambang.
Sang pengawas, Frederick Wells, sedang berada di kedalaman 5,6 meter (m) saat melihat sekelebat pantulan cahaya di tembok yang berada di atasnya. Ia kemudian mengambil bongkahan batu itu dan menyerahkannya ke pemilik tambang, Sir Thomas Cullinan. Batu permata terbesar di dunia itu lantas diberi nama ‘Cullinan’.
Melansir dari History, Kamis (25/1/2018), Cullinan kemudian menjual permata itu kepada Pemerintah Provinsi Transvaal. Batu permata itu akhirnya dipersembahkan oleh Pemerintah Provinsi Transvaal kepada Raja Inggris, Edward VII, sebagai hadiah ulang tahun.
Sang raja yang takut permata itu dicuri selama perjalanan dari Afrika ke London, mengatur strategi keamanan. Ia mengirim permata palsu dengan kapal uap yang penuh dengan detektif sebagai taktik pengalihan. Sementara kapal umpan itu berjalan menjauhi Afrika, permata Cullinan dibawa dengan kotak biasa menuju Inggris.