Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Warga Purwakarta Belum Bisa 'Move On' Pasca-Ditinggal Dedi Mulyadi

Mulyana , Jurnalis-Minggu, 18 Februari 2018 |10:59 WIB
Warga Purwakarta Belum Bisa <i>'Move On'</i> Pasca-Ditinggal Dedi Mulyadi
Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi (Foto: Mulyana/Okezone)
A
A
A

PURWAKARTA - Sebagian besar masyarakat di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, ternyata belum bisa 'Move on', pasca ditinggal mantan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi. Terbukti, sampai saat ini sebagian dari mereka masih ada yang berani lapor soal keluh kesah atau pun sekedar meminta bantuan.

Mungkin, memang tak aneh bagi Kang Dedi (sapaannya). Munculnya berbagai laporan tersebut tak lain karena selama 15 tahun, atau saat menjabat wakil bupati maupun Bupati Purwakarta, ia dikenal responsif terhadap keluhan warga sampai menyelesaikannya hingga tuntas.

Seperti saat ini, salah seorang warga di Kampung Sukarata RT 20/06, Kelurahan Nagri Tengah, Kecamatan Purwakarta, masih berani melaporkan keluh kesahnya, kendati Dedi sudah tak lagi menjabat bupati.

Warga bernama Ikhwan itu melaporkan, ihwal peristiwa kebakaran yang melanda empat rumah akibat meledaknya sebuah tabung gas melon 3 kg milik warga di wilayah itu. Peristiwa tersebut, terjadi pada Rabu 7 Februari.

"Itu kebetulan, yang menjadi korbannya kan warga miskin semua. Jadi, saya gak tega, mau minta bantuan ke siapa, saya bingung. Makanya, saya memberanikan diri kirimkan pesan singkat ke nomor SMS center pribadi Kang Dedi Mulyadi," ujar Ikhwan.

Apalagi, kata dia, dalam peristiwa kebakaran itu bukan hanya rumah warga saja yang hancur. Tapi, juga menimbulkan korban. Dalam insiden ini, ada delapan warga yang harus dilarikan ke rumah sakit akibat menderita luka bakar.

Dua dari delapan warga ini, kata dia, pada Sabtu 17 Februari kemarin telah meninggal dunia. Keduanya, juga telah dimakamkan di pemakaman umum setempat.

"Hanya Kang Dedi yang responsif terhadap keluhan warganya. Makanya saya memberanikan diri melayangkan pesan singkat ke beliau, meski Kang Dedi tak lagi menjabat bupati," jelas dia.

Menurut laporan Ikhwan, saat ini pihak keluarga korban tidak mampu menanggung biaya perawatan di Rumah Sakit Bayu Asih. Apalagi, keluarga korban yang meninggal kini membutuhkan biaya tambahan bekas pemulasaraan jenazah dan tahlilan selama 7 hari ke depan.

"Saya laporan, karena kasihan saja," tambah dia.

Keluhan tersebut ternyata direspon oleh Dedi Mulyadi yang kini mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat. Ia menegaskan, pihaknya bersedia menanggung seluruh biaya perawatan para korban berikut biaya yang muncul karena pemulasaraan jenazah korban.

"Namanya diminta bantuan, ya selama kita mampu harus bantu," singkatnya.

Kesedihan memang berkecamuk dalam diri pria yang lekat dengan iket Sunda jenis makutawangsa tersebut. Ia merasa khawatir terhadap nasib warga Purwakarta jika suatu saat terjadi kejadian serupa.

"Saya khawatir pada mereka, siapa nanti yang mau menolong kalau saya gak ada," katanya sambil terlihat berkaca-kaca.

Apalagi, kata dia, regulasi KPU Jawa Barat menjadikan dirinya harus ekstra hati-hati saat memberikan bantuan kepada warga.

"Saya yakin tidak ada masalah. Ini soal kemanusiaan, bukan soal politik," ucapnya.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement