BIN: Generasi Milenial Paling Rentan Hoaks

Fahreza Rizky, Jurnalis · Rabu 14 Maret 2018 21:29 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 14 337 1872894 bin-generasi-milenial-paling-rentan-hoaks-2Y45LKg4al.jpg Diskusi publik Poros Wartawan Jakarta bertema "Hantu Hoaks dalam Pemberitaan Media" di kawasan Menteng, Jakarta, Rabu (14/3/2018). (Foto: Amril Amarullah/Okezone)

JAKARTA – Indonesia disebut menjadi negara yang rentan terhadap hoaks. Pasalnya, lebih dari 50% jumlah penduduk merupakan pengakses internet. Celakanya, generasi milenial menjadi kelompok yang terdampak akibat derasnya informasi bohong tersebut.

Hal itu diungkapkan Direktur Komunikasi dan Informasi Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Hari Purwanto, dalam diskusi publik Poros Wartawan Jakarta (PWJ) dengan tema "Hantu Hoaks dalam Pemberitaan Media."

"Hoaks bertumbuh dengan cepat di antara masyarakat yang tidak kritis. Generasi milenial paling rentan bahaya hoaks," kata Wawan di Oria Hotel, Jalan KH Wahid Hasyim, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/3/2018).

Wawan menuturkan, serangan hoaks di era digital merupakan persoalan yang mendera negara di seluruh dunia, tidak hanya Indonesia. Terlebih, informasi bohong ini kerap dijadikan industri yang menguntungkan bagi segelintir pihak.

"Serangan berita palsu di era digital ini merupakan masalah global," ucapnya.

(Baca Juga: Soal Hoaks, DPR Heran Ada Orang Mau Jadi Tumbal Kepentingan Oknum)

Mengacu pada hasil wawancara wartawan Washington Post, Ohlheiser, seorang pembuat berita palsu di Facebook disebut mendulang untung sekitar $10.000 per bulan atau sekitar Rp135 juta. Wawan berkesimpulan hoaks tersebar lantaran dijadikan komoditas.

(Diskusi publik Poros Wartawan Jakarta bertema "Hantu Hoaks dalam Pemberitaan Media" di kawasan Menteng, Jakarta, Rabu 14 Marfet 2018. Foto: Amril Amarullah/Okezone)

"Karena itu perlu sikap kritis. Pengguna internet yang tidak waspada dengan teror hantu hoaks dengan mudah menyebarkannya kepada koleganya di ruang daring sehingga memunculkan efek bola salju yang menggelinding makin besar," tuturnya.

(Baca Juga: Politik Pencitraan Suburkan Hoaks dan Ujaran Kebencian)

Selain Wawan, turut hadir menjadi narasumber Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Mohammad Iqbal, pengamat media sosial Nukman Luthfie, peneliti senior LP3ES Rahadi T Wiratama, dan wartawan senior Budiarto Shambazy.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini