JAKARTA - Mantan Ketua DPR RI Setya Novanto (Setnov) mengungkap bahwa aliran dana proyek pengadaan e-KTP ada yang mengucur untuk pembiayaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Golkar. Informasi itu, kata Setnov didapatkan dari keponakannya sendiri Irvanto Hendra Pambudi.
Terkuaknya hal ini, berawal dari Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta yang menanyakan soal pemeriksaan Setnov dan Irvanto di KPK. Pada pemeriksaan kemarin, Setnov dan Irvanto memang tiba-tiba diperiksa oleh penyidik KPK.
"Saudara semalam kan dikonfrontir dengan Irvanto, ada tanya enggak uang Rp5 miliar itu dikasih ke siapa?" tanya hakim di persidangan.
"Rp5 miliar itu untuk Rapimnas, yang Mulia," jawab Novanto atas pertanyaan Hakim.
Setnov memaparkan, pada 2012 lalu Irvanto memang sempat berkontribusi dalam Rapimnas Partai Golkar. Menurutnya, saat itu memang ada kekurangan uang yang sisanya belum dibayarkan.
(Baca Juga: Setnov Sebut Puan & Pramono Terima Uang E-KTP, PDIP Minta Gamawan Tanggung Jawab)
Setnov menyatakan, saat itu Irvanto sempat menyampaikan kepadanya jika kekurangan uang untuk Rapimnas telah dibayarkan oleh Irvanto. Awalnya, Setnov menduga uang tersebut hasil kerja Irvanto bersama pengusaha pelaksana proyek e-KTP, Andi Agustinus alias Andi Narogong.
"Tapi, setelah saya lihat bahwa dengan adanya keterangan Ahmad (Muhammad Nur, orang suruhan Irvanto), maka saya meyakinkan bahwa ini pasti dari uang e-KTP," ucap dia.
Tak hanya itu, Setnov juga membeberkan peran keponakannya sendiri dalam proyek e-KTP. Salah satunya adalah menjadi kurir uang ke sejumlah anggota dewan. Sebab, ia dijanjikan mendapatkan imbalan berupa keterlibatan dalam proyek senilai Rp5,9 triliun itu.
Dalam sidang pemeriksaan terdakwa, Setnov cukup mengungkap banyak hal. Antara lain, aliran uang ke Pramono Anung dan Puan Maharani. Lalu, aliran uang ke pimpinan Komisi II DPR dan Badan Anggaran (Banggar) DPR serta pengakuan penerimaan jam tangan Richard Mille dari Johannes Marliem.
(Arief Setyadi )