Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Listrik Kedondong dan Terang yang Tak Kunjung Datang di Pedalaman Aceh

Khalis Surry , Jurnalis-Kamis, 05 April 2018 |12:06 WIB
Listrik Kedondong dan Terang yang Tak Kunjung Datang di Pedalaman Aceh
"Bangkai" listrik kedondong di pedalaman Aceh. (Foto: Khalis S/Okezone)
A
A
A

HARI menjelang malam. Tiga pelajar sekolah menengah atas (SMA) kembali ke rumah usai bermain bola voli. Suara pembangkit listrik tenaga diesel, akrab disebut ginset mulai memadati indera pendengaran, dong.. dong.. dong... Satu per satu rumah warga mulai diterangi lampu. Suara azan pun mulai berkumandang lantang dari pengeras suara masjid.

Namun, sebagian rumah warga masih terlihat gelap karena tak memiliki ginset di rumah. Rumah mereka hanya diterangi seadanya lampu teplok. Begitu lah kondisi senja ketika Okezone, berkunjung ke Desa Tampor Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, penghujung Maret lalu.

‘’Ya kalau malam kayak gini lah, yang ada diesel hidup (lampu), kalau enggak ada ya pakai telpok, kayak zaman (penjajahan) Belanda kita,’’ kata Hasbi (53), saat berada di teras rumahnya, Desa Tampor Paloh, Jumat (31/3) malam.

Jarum jam pun menunjukkan pukul 20.00 WIB. Tak jauh dari rumah Hasbi, suara bocah-bocah mengejakan huruf hijaiyah dalam Iqra, bercampur dengan anak-anak yang membacakan ayat Alquran. Cahaya lampu teplok mengintip dari celah dinding kayu tempat mengaji anak-anak di Tampor Paloh.

(Foto: Khalis/Okezone)

‘’Saya sudah lima tahun lebih mengajar ngaji ini, iya pakai lampu teplok karena belum ada lampu (dari ginset) kan. Kita enggak sanggup sediakan minyak diesel Pak. Lampu teplok ini saya beli, ada juga yang dibawa anak murid saja, jadi dua murid bawa satu lampu teplok,’’ kata Said Husin (40) guru mengaji di Tampor Paloh.

Listrik Kedondong Sebatas Mimpi

Tiga tahun silam, Desa Tampo Paloh sempat heboh. Doa warga agar desanya dialiri listrik nyaris terkabulkan, setelah bocah 15 tahun bernama Naufal Raziq menemukan energi listrik pada batang kedondong, yang dapat mengaliri arus listrik ke rumah-rumah warga.

Penemuan siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Langsa, seketika heboh, informasinya pun sampai ke telinga para petinggi PT Pertamina EP Rantau Field. Mereka kemudian bersedia menjadi donator atas penemuan Naufal.

Pada Juli 2016, pihak Pertamina langsung menyambangi Tampor Paloh. Mereka langsung menawarkan kepada warga setempat agar desa itu dipasangkan listrik dari pohon kedondong. Tentu, sewaktu itu kabar tersebut disambut baik semua masyarakat. Mereka senang dan bahagia. Dalam hati, warga berpikir tak lama lagi desa mereka akan diterangi lampu, dari arus listrik pohon kedondong.

(Kondisi rumah warga di Tampor Paloh. Foto: Khalis/Okezone)

Mendapat penerimaan dari warga, pihak Pertamina EP pun tidak menunggu lama. Mereka langsung memasok pohon kedondong ke desa tersebut, hingga akhirnya pohon kendondong itu sudah tertancap di belakang rumah warga lengkap dengan instalasi listrik yang sudah terpasang. Waktu itu dikabarkan, sebanyak 60 rumah warga di Desa Tampor Paloh sudah diterangi listrik kedondong. Keberhasilan inovasi itu pun kemudian diberitakan oleh sejumlah media.

Namun, kondisi saat ini berbeda dengan suara dalam berita di media massa waktu itu. Masyarakat Tampor Paloh tak diterangi lampu dari arus listrik kedondong. Mereka masih sengsara dalam gelap gulita di tengah malam, ketika mesin ginset penyalur arus listrik mereka mati, tepat pukul 24.00 WIB.

“Masyarakat sempat menikmati lampu (listrik kedondong) selama dua jam waktu itu, sementara di sekolah sampai satu minggu. Kalau di rumah saya cuma dua jam, setelah itu tidak hidup sama sekali,” kata Hasbi.

Kala itu, cerita Hasbi, Pertamina EP memasangkan instalasi listrik kedondong pada 30 rumah warga. Di setiap rumah yang terpasang instalasi listrik itu ditanami sebanyak enam batang kedondong di belakang rumah, dengan kabel yang sudah terhubung pada instalasi di dalam rumah.

Setelah instalasi di setiap rumah semua terpasang, acara peluncurannya pun tiba. Kata Hasbi, ketika itulah enegri listrik dari pohon kedondong mengalir dan menghasilkan cahaya lampu, menerangi rumah warga. Akan tetapi, setelah acara kunjungan selesai, pihak Pertamina pun kembali ke kota, listrik pun ikut padam, dan akan hidup lagi ketika pihak Pertamina melakukan kunjungan lagi ke Tampor Paloh.

''Ya itu saya katakan hidup (lampu) nya bermusiman, begitu datang kunjungan, hidup. Begitu pulang, mati,’’ ujar Hasbi.

Mendapati kejanggalan pada energi listrik itu, Hasbi merasa curiga. Timbul pertanyaan dalam dirinya, kenapa listrik kedondong itu akan hidup ketika acara kunjungan saja, sedangkan ketika acara kunjungan selesai maka lampu itu pun ikut kembali padam.

Dihantui perasaan penasaran, Hasbi pun mencoba mencari tahu dengan cara mengotak-atik instalasi yang menempel pada batang kedondong, yang menjadi sumber arus listrik kendondong. Setelah diperiksa, kata Hasbi, dirinya menemukan sejumlah baterai pada instalasi yang melekat pada batang kedondong. Baterai itu berfungsi untuk menghidupkan lampu, dan kedondong itu pun hanya sebagai ‘’kemasan’’.

‘’Rupanya saya periksa-periksa ada baterai di dalamnya. Baterai untuk ngecas-negcas itu, makanya hidup,’’ ungkap Hasbi, sembari memperlihatkan ‘’bangkai’’ kedondong di belakang rumahnya, sore itu.

Energi listrik dari pohon kendondong pagar itu tak pernah dinikmati warga Tampor Paloh. Atas kejadian itu, masyarakat merasa dibohongi. Kata Hasbi, warga sempat merasa kecewa. Mimpi mereka desa akan terang melalui listrik kedondong lenyap.

“Pohon kedondongnya masih ada di belakang rumah, tapi energinya yang enggak ada. Kampung kami jadi tempat percobaan, saya pernah tanya kepada pihak Pertamina apakah ini akan berdampak kepada masyarakat dalam jangka waktu panjang. Mereka katakan bisa, ternyata separuh perjalanan, kami tolak karena tidak bisa,” jelas Hasbi.

Tidak ada listrik kedondong. Namun ginset dan lampu teploklah yang menjadi penolong gelap warga Tampor Paloh saat ini. Sejak desa di Simpang Jernih itu berdiri pada tahun 1919, masayarakat belum merasakan teraliri arus listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) pada rumah-rumah. Mereka berharap, pemerinta segera mengambil sikap untuk melakukan pembangunan dari semua sektor di daerah tersebut, mulai dari arus listrik, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, transportasi hingga jaringan komunikasi.

Bagi warga yang rumahnya teraliri listrik dari ginset, kata Hasbi, harus menyediakan uang setiap bulannya untuk membeli bahan bakar sebesar Rp90 ribu. Sedangkan warga yang memiliki televisi lebih besar, yakni Rp150 ribu per bulan.

Desa Tampur Paloh memiliki delapan ginset milik warga. Setiap ginset dapat menampung hingga 10 rumah. Dan desa itu memiliki jumlah penduduk di sana sebanyak 400 jiwa dalam 112 kepala keluarga. Dan ginset itu akan hidup mulai pukul 18.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB.

“Setelah jam dua belas, sampai pagi itu gelap gulita tidak ada lampu. Yang jelas kami belum merdeka. Kami belum memiliki lampu penerangan, jaringan komunikasi tidak ada, transportasi masih boat, itu tandanya belum merdeka. Walaupun negara kita sudah merdeka tapi kami belum menikmatinya,’’ keluh Hasbi.

(Qur'anul Hidayat)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement