"PERNAH aku melihat musik di Taman Ria iramanya Melayu duhai sedap sekali,"
Penggalan lagu 'Terajana' yang dilantunkan oleh Raja Dangdut Rhoma Irama itu merupakan salah satu nostalgia yang mengingatkan tempat hiburan Taman Ria Senayan. Lagu itu sendiri terinspirasi dari gemerlapnya tempat rekreasi yang ada di tengah kota.
Taman Ria Senayan merupakan tempat favorit para kawula muda menghabiskan waktu. Mencari inspirasi, berkumpul bersama keluarga dan memadu kasih dengan pasangan, menjadi tujuan awal ketika hendak menuju tempat wisata yang berada di Gerbang Pemuda, Senayan, Jakarta Pusat.
Pada 1970, tempat itu dikenal dengan nama Taman Ria Remaja. Seiring perkembangannya, di tahun 1990-an, namanya diubah menjadi Taman Ria Senayan. Lokasinya tepat bersebelahan dengan Gedung DPR/MPR RI. Lokasi wisata itu menjadi favorit dari generasi tahun 70 dan 80-an dengan menawarkan beberapa permainan.

Paling melekat diingatan masyarakat adalah Kincir Ria atau wahana berbentuk roda besar yang berputar sehingga bisa melihat keindahan kelap-kelip lampu Ibu Kota dari lokasi yang tinggi. Momen romantis yang bisa dinikmati bersama orang terkasih.
Nostalgia indahnya Taman Ria Senayan itu, pun masih melekat di benak Ali Akbar (54), yang masa mudanya kerap menghabiskan waktu ke tempat tersebut.
Kenangan Ali pertama kali menginjakan kaki ke Taman Ria pun tak bisa dilupakan. Padahal, itu sudah 44 tahun lamanya. Ketika itu dia masih duduk di sekolah dasar.
"Pertama kali menginjak Jakarta tahun 1974, saya ajak kakak saya ke Taman Ria Remaja atau Taman Ria Senayan," kata Ali yang antusias ketika diminta mengingat kenangannya di Taman Ria Senayan.
Ali kecil sampai sekolah menengah pertama memang dihabiskan di Kota Medan, Sumatera Utara. Setelah ke Ibu Kota, dia langsung memiliki niat untuk menjajal kemeriahan di Taman Ria.
Apalagi, nama Taman Ria sendiri sudah tersiar ke telinga masyarakat di tanah Batak. Sebab itu, tak sedikit warga dari daerah yang main di Jakarta, akan melangkahkan kakinya ke Taman Ria, karena ketenarannya.
"Maklumlah, kala itu, di kampung saya Kota Medan, keberadaan taman yang lokasinya di Jalan Gerbang Pemuda, Senayan ini, begitu kesohor. Setiap saudara atau teman yang ke Jakarta pasti ke tempat ini," tutur Ali yang kerap tersenyum ketika mengenang masa mudanya tersebut.
Selain menjadi tempat nongkrong kawula muda, Taman Ria juga menjadi tempat untuk mencari ketenangan. Dikelilingi danau, ditemani pohon rimbun disertai angin sepoi-sepoi, Taman Ria menjadi tempat refleksi pikiran dan jiwa dibalik ramainya Ibu Kota DKI Jakarta ketika itu.
Saat waktu libur sekolah, Taman Ria pun semakin ramai didatangi generasi 70 dan 80-an. Wahana permainan dan aliran danau menjadi tempat favorit.
Kawasan danau di Taman Ria banyak diisi oleh pasangan muda-mudi yang sedang di mabuk asmara. Rindangnya pohon dan angin berhembus tenang menjadi saksi bisu kemesraan pasangan tersebut.
"Di tempat itu duduk di atas rumput dipinggir danau diterpa angin yang datang dari kerindangan pohon. Untuk sejenak pikiran menjadi tenang," kenang Ali.
Banyak alasan untuk menuju Taman Ria Remaja di kala itu. Letaknya yang strategis dan mudah terjangkau menjadi salah satu candu untuk menuju ke tempat itu.

Di zaman itu, beberapa tempat hiburan memang sudah berdiri, antaranya Dunia Fantasi (Dufan). Masyarakat pun banyak yang berekreasi ke tempat itu. Tetapi, jaraknya cukup jauh, karena berada di Ancol, Jakarta Utara. Sehingga, perlu merogoh kocek banyak untuk menuju Dufan.
Taman Ria Senayan pun jadi alternatif masyarakat yang enggan ke Dufan karena lokasinya jauh. Selain itu, biaya masuk Taman Ria juga lebih murah dibandingkan Dufan. Dengan harga Rp100 sampai Rp500 saat itu, sudah bisa menikmati hiburan di Taman Ria.
Daya tarik Taman Ria lainnya yakni penampilan grup Srimulat. Kelompok pelawak itu tak pernah absen mengocok perut masyarakat di Taman Ria pada hari Sabtu dan Minggu.
Awal karir dari grup Srimulat yang melahirkan beberapa nama pelawak besar, seperti Tarzan, Basuki, Thukul, Nunung, Kadir, Polo, Gogon dan (Alm) Gepeng itu memang dimulai dari Taman Ria.
Dengan bermodalkan panggung dan peralatan seandanya, grup lawak ini mencoba menghibur masyarakat kala itu dari semrawutnya Ibu Kota. Mereka kerap tampil pada malam hari. Bahkan, kalimat 'untung ada saya' dari (Alm) Gepeng Srimulat pun lahir dari situ.
Saat weekend tiba, masyarakat tak pernah absen untuk menonton lakon lucu grup Srimulat. Mereka rela datang dari sore hari, demi mendapatkan kursi paling depan untuk menonton Tarzan Cs itu.
"Tempat ini (Taman Ria) sangat berkesan bagi saya, juga bagi remaja dan anak-anak muda seperti saya kala itu," kata Ali dengan raut sedih lantaran semua itu tinggal kenangan.
Ikon Ibu Kota
Sejarawan dari Universitas Indonesia (UI), Anhar Gonggong, mengatakan, Taman Ria Senayan di kala itu dapat dikatakan sebagai salah satu Ikon Ibu Kota Jakarta. Lantaran, tempat itu dahulunya primadona di mata masyarakat.
"Ya salah satu tempat rekreasi Ibu Kota yang dapat dikatakan tanda kutip Ikon untk anak-anak muda pada masa itu," kata Anhar.

Dalam ingatannya, Taman Ria memang merupakan tempat yang sangat disukai oleh masyarakat khususnya anak muda. Tempat hiburan lengkap nan ekonomis itu menjadi alasan kuat masyarakat gemar menghabiskan waktu liburannya ke Taman Ria Remaja.
"Tapi memang terkenal sekali, artinya Taman Ria Senayan banyak anak muda. Untuk periode itu merupakan kebutuhan bagi anak anak muda," ucap Anhar.
Taman Ria sendiri mulai sepi ditinggal pengunjungnya ketika masuk ke tahun 1990-an. Hal itu lantaran, lahir-nya beberapa tempat hiburan alternatif lainnya di Ibu Kota.
Sekitar tahun 1997, pengelola awal Taman Ria Senayan berpindah tangan dari Yayasan Ria Pembangunan ke PT Ario Bimo Laguna Perkasa. Karena pengunjung merosot, akhirnya keputusan pahit diambil dengan rencana merombak aset tersebut.
Nostalgia indah mengenai Taman Ria kini hanya tinggal kenangan. Seiring perkembangan zaman dan kemajuan pembangunan yang pesat,Taman Ria Remaja tak mampu bersaing dengan tempat hiburan lainnya.
Tinggal Kenangan
Di tahun 2010 kawasan yang memiliki luas sekira 10 hektar itu dibongkar dan langsung rata dengan tanah. Meskipun, ada bangunan yang tersisa di tempat itu sampai kini, Restoran Pulau Dua.
"Namun sayang Taman Ria Senayan sudah ‘mati’ seiring dengan pesatnya perkembangan Kota Jakarta. Seandainya taman ini masih ada," sesal Ali.
Cerita tinggalah cerita, kini kawasan itu justru ramai pekerja bangunan dan alat-alat berat. Papan tinggi pun menutupi sepanjang Kompleks Taman Ria. Tanda dimulainya, pembangunan Taman Ria dalam versi terbaru.
Kawasan Taman Ria pun sudah tak lagi menjadi tempat mencari ketenangan dari ramainya Ibu Kota. Puing-puing bekas robohan bangunan kini jadi pemandangan warga yang melintas di daerah Gerbang Pemuda Senayan.

Fenomena perombakan Taman Ria sempat menuai perdebatan. Pasalnya, bergulir isu bahwa yang dulunya tempat rekreasi itu ingin dibangun pusat perbelanjaan atau mal. Wacana itupun sempat diprotes banyak pihak, mulai dari pihak eksekutif, legislatif dan masyarakat.
Bahkan, untuk mempertahankan kawasan Taman Ria sebagai ruang terbuka hijau sempat ditempuh oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI, yang ketika itu dipimpin oleh Gubernur Jakarta Fauzi Bowo. Ketika itu, Pemprov sempat melakukan penyegelan terhadap tempat itu.
Tidak puas dengan langkah Pemprov, PT Ario Bimo Laguna Perkasa melakukan upaya hukum dengan mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Singkatnya, PTUN mengabulkan permohonan dari pihak pengelola.
Sempat berproses hukum panjang, akhirnya pada tingkat Kasasi di Mahkamah Agung (MA). Pemprov DKI pun kembali kalah oleh pengelola. Dengan begitu, PT Ario Bimo Laguna Perkasa sah memegang Izin Konstruksi Menyeluruh (IKM) yang telah dikeluarkan oleh Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) DKI Jakarta.
Meskipun, saat ini pembangunan sudah tampak di kompleks Taman Ria. Namun, belum diketahui akan dijadikan apa bangunan yang sudah berdiri sekitar 50 persen tersebut.
Dalam hal ini, Okezone sudah mencoba meminta konfirmasi ke Kantor PT Ario Bimo Laguna Perkasa yang ada di Gerbang Pemuda Senayan. Tetapi pihak pengelola masih enggan memberikan keterangan apapun. Surat permohonan wawancara yang dilayangkan kepada pengelola pun belum mendapatkan jawaban hingga berita ini diturunkan.
Terkait pembangunan terkini dari Taman Ria sendiri, juga tidak diperkenankan mengambil gambar oleh pengelola. Tetapi, berdasarkan pantauan, memang sudah ada bangunan tiga lantai yang berdiri. Aktivitas pekerja bangunan dan alat berat juga lalu lalang ketika meninjau langsung lokasi tersebut.
(Angkasa Yudhistira)