nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

TNI/Polri Bentrok dengan Masyarakat Sumba Barat NTT, Seorang warga Tewas

Adi Rianghepat, Jurnalis · Jum'at 27 April 2018 13:36 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 27 340 1892054 tni-polri-bentrok-dengan-masyarakat-sumba-barat-ntt-seorang-warga-tewas-LcfXQUf1AO.jpg Ilustrasi. Foto Okezone

KUPANG - Bentrok aparat gabungan TNI/Polri dengan warga Desa Patiala Bawa, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), mengakibatkan seorang warga tewas.

Korban PD (40) sempat mendapat pertolongan aparat dengan membawanya ke Puskesmas Kabukarudi, namun karena terluka parah, korban akhirnya tak dapt ditolong. Sementara korban MMD (26) yang mengalami luka di bagian kaki dirujuk ke RSUD Waikabubak.

"Peralatan di puskesmas sangat terbatas akhirnya petugas lalu membawa korban meninggal PD bersama MMD ke RSUD Waikabubak," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Polda NTT), Kombes Pol Jules Abraham Abast yang dihubungi Okezone di Kupang, Jumat (27/4/2018).

Konflik warga dan aparat bermula karena lahan yang diklaim milik PT Sutera Maros Kharisma yang mau diukur untuk sebuah kepentingan investasi.

Jules mengungkapkan, korban PD tetap dilarikan ke RSUD Waikabubak untuk kepentingan pemeriksaan.

"Dan hasil pemeriksaan medis ternyata dokter menyebut kalau PD meninggal bukan karena luka tembakan," katanya. Namun, lanjut Jules, "Autopsi segera dilakukan."

Bekas Kapolres Manggarai Barat itu menjelaskan, sejak bentrokan terjadi di Rabu 25 April 2018 silam, kondisi kamtibmas sudah langsung bisa dikendalikan oleh aparat hingga saat ini. "Semua kondisi sampai sekarang aman dan terkendali," tutur dia.

Jules menjelaskan, sedikitnya 131 personel gabungan yang terdiri dari personel Polres Sumba Barat, Brimob Polda NTT, Raimas Polda NTT serta personel Kodim 1613 Sumba Barat, dihadang dan diserang masyarakat dengan lemparan batu saat melakukan pengamanan tim Dinas Pertanahan Sumba Barat, yang dipimpin kepala dinas Jaungkap E Simatupang dalam pengukuran tanah di lokasi sekitar Pantai Marosi, Desa Patiala Bawa, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat.

Aksi pengamanan aparat gabungan TNI/Polri itu dilakukan berdasarkan Surat Permohonan Bantuan Keamanan dari Janis and Associates yang adalah kuasa hukum PT Sutera Marosi Kharisma bernomor: 325/JA-EXT/IV/2018 Tanggal 09 April 2018.

Kegiatan pengamanan berlangsung pagi hari Rabu 25 April 2018 sekitar pukul 10.00 WITA di atas lahan dengan Sertifikasi Hak Guna Bangunan (HGB) dengan Nomor 3 sampai dengan 7 atas nama Oki Rehardi Lukita untuk dan atas nama PT Sutera Marosi Kharisma. Turut hadir dalam prosesi pengukuran itu Camat Lamboya, Kepala Desa Patiala Bawa dan pihak dari PT Sutera Marosi Kharisma bersama kuasa hukumnya.

Sejak awal pengukuran sudah memantik riak penolakan warga masyarakat setempat. Namun setelah dilakukan mediasi oleh pihak keamanan yang ada di lokasi situasi kembali kondusif dan pengukuran dilanjutkan dengan aman.

Sekira pukul 15.00 WITA saat pengukuran memasuki lokasi lain, penolakan masyarakat kembali terjadi dan semakin beringas, dengan melempari batu ke arah petugas pengukur dan aparat keamanan yang melakukan penjagaan. Mediasi yang dilakukan petugas keamanan tidak lalu membuat warga surut. Malah aksi kian brutal dan berlanjut.

Petugas keamanan memutuskan mengambil tindakan untuk meredam amuk warga dengan tembakan peringatan. Akan tetapi peringatan tak digubris warga. Dalam kondisi terdesak, petugas terpaksa melemparkan tembakan gas air mata.

Di tengah ricuhnya situasi, terdengar suara teriakan warga bahwa ada yang terjatuh. "Di situasi itulah personel keamanan lalu melakukan aksi pertolongan kepada korban PD dan MMD yang terjatuh dan membawanya ke Puskesmas Kabukarudi," kata Jules.

Sesampai di puskesmas nyawa PD tak tertolong karena keterbatasan peralatan medis. Namun korban tetap dirujuk ke RSUD Waikabubak untuk dilakukan visum mengetahui penyebab kematiannya.

Akibat insiden itu proses pengukuran dihentikan. Petugas keamanan dan pemohon serta semua peserta lainnya memutuskan kembali ke ibu kota Kabupaten Sumba Barat di Waikabubak. Namun dalam perjalanan terjadi lagi aksi blokir jalan oleh warga dengan bebatuan besar.

Jules melanjutkan, setelah personel berhasil keluar dari blokade warga, rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Namun, setibanya di depan rumah Kepala Desa Patiala Bawa, masyarakat melakukan kembali melakukan pemblokiran jalan serta melakukan aksi pelemparan batu ke arah petugas keamanan dan mengenai beberapa petugas yang menggunakan sepeda motor.

Untuk menghentikan aksi brutal warga, petugas kembali mengeluarkan tembakan peringatan sehingga warga berlarian ke arah belakang rumah kepala desa dan petugas kembali melanjutkan perjalanan ke Kota Waikabubak.

"Kami mengimbau masyarakat untuk menghormati serta menghargai segala keputusan yang telah ditetapkan oleh hukum. Selebihnya apabila ada yang ingin disampaikan hendaknya jangan memilih jalan anarkis dengan melakukan aksi yang hanya membahayakan diri sendiri," ujar Jules.

Hingga saat ini situasi dan kondisi di tempat kejadian perkara di Pulau Sandelwood itu dinyatakan kondusif dan aman terkendali.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini