Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Semangat Lebaran Muslim Indonesia di AS yang Jauh dari Keluarga

Agregasi VOA , Jurnalis-Jum'at, 15 Juni 2018 |10:06 WIB
Semangat Lebaran Muslim Indonesia di AS yang Jauh dari Keluarga
Lebaran Muslim Indonesia di AS. (Foto: VOA)
A
A
A

WASHINGTON - Silaturahmi dengan keluarga besar menjadi salah satu tradisi masyarakat muslim Indonesia di hari lebaran. Namun, lain halnya dengan masyarakat muslim Indonesia di Amerika yang tidak bisa pulang ke Tanah Air untuk merayakan lebaran bersama keluarga tahun ini. Hal ini menjadi sebuah perbedaan yang dirasakan oleh Vicha Annisa, mahasiswi S2 jurusan kesehatan publik di universitas George Washington, di Washington, D.C.

Tidak hanya jauh dari keluarga, sebagai umat Muslim yang tergolong minoritas di Amerika, Vicha merasakan kurangnya semarak lebaran jika dibandingkan dengan di Indonesia.

“Perbedaan lebaran di Indonesia dan di Amerika itu yang pertama karena muslim di sini minotrity jadi saya ngerasa euphorianya sebenarnya kurang, tapi kalau misalnya udah gabung lagi ke komunitas Indonesia yang ada di Washington, D.C., misalnya di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia), terus teman-teman PERMIAS atau juga di IMAAM Center, itu adalah semaraknya untuk lebaran,” papar Vicha Annisa saat dihubungi oleh VOA belum lama ini.

Foto: Vicha

Bagi warga Indonesia, Luli Djamaludin yang tinggal di negara bagian Virginia, tak jauh dari ibu kota Washington, D.C., kerinduan terhadap keluarga dan kampung halaman juga terasa ketika merayakan lebaran di Amerika.

“Kalau Idul Fitri iya terasa sekali rindunya terhadap kampung halaman, karena yang saya dan keluarga rindukan tentunya saat bisa berkumpul bersama keluarga, handai taulan di hari Idul Fitri, salat Eid bersama dan menikmati hidangan lebaran dengan keluarga besar,” kata perempuan yang berprofesi sebagai perancang bunga di Virginia ini.

Karena Idul Fitri tahun ini jatuh di hari Jumat di Amerika, Luli sudah meminta izin libur kepada pihak perusahaan jauh-jauh hari. “Sehingga tidak mengganggu rutinitas pekerjaan. Bahkan selama bulan Ramadan pun mereka memberikan jam pulang lebih awal,” kata Luli.

Foto: Luli

Sama halnya dengan Luli, Vicha pun tidak libur kuliah, sehingga ia harus meminta izin kepada dosen untuk tidak masuk agar bisa merayakan Idul Fitri. “Kalau kelasnya tabrakan sama lebaran jadi kayak harus ngejelasin dulu kalau kita ada lebaran. Dan mereka cukup understandable tentang kegiatan lebaran ini,” jelas perempuan yang sudah hampir tiga tahun bermukim di Amerika ini.

Tiap tahun komunitas Muslim Indonesia yang tinggal di daerah Washington, D.C. menyewa tempat untuk melakukan solat Idul Fitri bersama. Namun, Vicha memilih tempat salat yang lebih dekat dengan tempat tinggalnya.

“Salat Ied-nya sebenarnya kalau komunitas Indonesia sendiri itu ada ya, salat Iwd-nya ramai-ramai, kalau enggak salah di NOVA Community College di Virginia. Tapi kalau saya sendiri kebetulan selalu salat yang lebih dekat dari apartemen, di Islamic Center,” ujar Vicha yang juga tengah mengambil kuliah di bidang bisnis di universitas Shady Grove ini.

Berasal dari keluarga Minang yang menurut Vicha terkenal senang berkumpul bersama, biasanya di waktu lebaran, keluarga besarnya datang dari berbagai penjuru di Indonesia dan mengadakan open house untuk makan bersama, sambil bermaaf-maafan.

“Nah, tapi karena di (Amerika) gitu kan lebarannya, jadi lebih kepada sama teman-teman gitu. Terus habis Salat Idul Fitri langsung ke KBRI makan ketupatnya di sana, dan open house-nya ya ikut open house KBRI sekarang,” kata alumni S1 dari Universitas Lampung jurusan kedokteran ini.

Setiap tahunnya KBRI di Washington, D.C. mengundang masyarakat Indonesia untuk acara halal bi halal yang diselenggarakan di Wisma Duta Besar RI yang juga adalah kediaman duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Budi Bowoleksono.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement