Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mengintip Kecanggihan Helikopter Apache AH-64 Milik TNI AD

Fadel Prayoga , Jurnalis-Sabtu, 21 Juli 2018 |04:26 WIB
Mengintip Kecanggihan Helikopter Apache AH-64 Milik TNI AD
Helikopter Apache AH-64. (Foto: Fadel Prayoga/Okezone)
A
A
A

SEMARANG – Delapan Helikopter Apache AH-64 milik TNI Angkatan Darat (TNI-AD) merupakan heli tercanggih di dunia. Alat utama sistem persenjataan (alutsista) buatan Amerika Serikat itu terparkir di hanggar Skadron-11/Serbu, Pusat Pendidikan Penerbangan Angkatan Darat (Pusdik Penerbad), Semarang, Jawa Tengah.

Berdasarkan pantauan Okezone di lokasi, helikopter tersebut dicat loreng yang merupakan ciri khas dari militer. Di bagian ekor terdapat tulisan TNI AD dan gambar Bendera Merah Putih serta sebuah baling-baling di ujung ekornya.

Jika dilihat dari tampilan fisik luarnya bermotif loreng, helikopter tersebut merupakan alutsista jenis tempur untuk melindungi negara dari serangan musuh yang mengganggu pertahanan dan keamanan Tanah Air di medan perang.

Hal itu bisa dilihat dari kedua sisi heli itu dilengkapi roket hydra 2,75 inci dengan jarak efektif 3 km sampai 5 kilometer dan jarak maksimum 7 km, serta memiliki jarak mematikan (lethality distance) 20 meter.

Helikopter Apache AH-64 (Foto: Fadel Prayoga/Okezone)

Lalu, tersedia juga misil AGM 114/R Hellfire yang memiliki jarak efektif sampai delapan meter dan mampu menghancurkan sasaran tank, baik bergerak maupun diam. Letak misil itu bersebelahan dengan roket hydra.

Kecanggihan helikopter buatan negeri paman sam itu tak hanya sampai di situ, yakni terdapat canon kaliber 30 milimeter yang memiliki jarak efektif 1.500 meter dan jarak maksimal 3 km yang berada di bagian bawah heli tersebut.

Helikopter tempur itu hanya mampu menampung dua awak. Masing-masing pilot memiliki peran berbeda ketika mengawaki kendaraan tersebut. Pilot yang berada di depan bekerja untuk memastikan kapan persenjataan di heli itu dikeluarkan, sementara yang di belakang berfungsi untuk melakukan manuver ketika ada serangan.

Helikopter Apache AH-64 (Foto: Fadel Prayoga/Okezone)

Komadan Skadron-11/Serbu Letkol Cpn Cahyo Permono menjelaskan spesifikasi lainnya. Kata dia, heli itu dilengkapi dengan sensor dan semua bagian dikerjakan oleh komputer dan merupakan helikopter digital pertama yang dimiliki TNI AD.

Digital bukan hanya displaynya saja, tetapi semua proses sistemnya, proses untuk menghitung senjata dan perkenaan target semua dicatat oleh komputer.

"Dan juga gabungan antara optik dan elektronik sehingga kita sebut electro optic sensor. Itu salah satu kemampuan yang dimiliki helikopter Apache," kata Cahyo di lokasi, Jumat (20/7/2018).

Selain itu, helikopter itu bisa bertempur ketika siang maupun malam hari. Bahkan, kondisi malam malah menjadi salah satu keunggulan helikopter tersebut. Sehingga, pilot yang mengoperasikan capung besi itu dilatih untuk bertempur saat kondisi gelap.

"Maka pilot juga dilatih secara intensif untuk mampu terbang di malam hari," jelasnya.

Helikopter Apache AH-64 dapat digunakan di berbagai medan seperti hutan dan pegunungan. Dalam sekali melalukan penerbangan jarak tempuh terjauhnya sejauh 500 mil.

"Itu mungkin dari Semarang sampai ujung Jawa," jelasnya.

TNI AD patut berbangga diri dengan memiliki helikopter canggih tersebut. Pasalnya, di Asia Tenggara sendiri satu-satunya negara pemilik Helikopter Apache tipe Eco ini hanya Indonesia. Sementara untuk cakupan lebih luas yakni Asia, baru tiga negara saja yakni Taiwan dan Korea Selatan.

TNI AD hanya Memiliki 10 Pilot Helikopter Apache AH-64

Untuk mengoperasikan helikopter Apache dibutuhkan dua orang awak pemudi. Karena kecanggihan alat transportasi udara itu membuat seorang pilot harus menempuh pendidikan yang cukup lama di negeri paman sam.

Helikopter Apache AH-64 (Foto: Fadel Prayoga/Okezone)

TNI AD mengirim 20 penerbang terbaiknya ke Amerika dan dilatih di US Army Flight School, lalu menjalani masa pendidikan sekitar delapan sampai dengab 10 bulan.

Dengan jumlah heli yang dimiliki Indonesia sebanyak delapan unit, maka dibutuhkan 16 pilot untuk mengawaki kendaraan tersebut. Kini, pilot yang sudah menyelesaikan pendidikannya di sana hanya baru 10 penerbang.

Meski telah kembali pulang ke Tanah Air, sepuluh pilot itu masih terus menjalani pelatihan dan didampingi instruktur dari Amerika Serikat selama dua tahun untuk menambah jam terbang mereka.

"Jadi ini memang pesawat baru buat kita dan kita perlu familiar. Tergantung kebutuhan (jam terbang), dalam artian bisa satu pesawat sejam, dua jam, tiga jam. Tapi untuk saat ini satu sampai 1,5 jam terbang sehari," tandasnya.

(Erha Aprili Ramadhoni)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement