nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Balada Stasiun Tua

Muhamad Rizky, Jurnalis · Sabtu 28 Juli 2018 09:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 07 27 337 1928415 balada-stasiun-tua-3Fw4cuju3q.jpeg Stasiun Jakarta Kota di Kota Tua, Jakarta Barat (dok Okezone)

IFKAR santai menunggu kereta rel listrik (KRL) tiba di Stasiun Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sudah 20 menit berlalu, lokomotif yang dinanti tak jua datang. Selasa sore 24 Juli lalu, bersama dua rekannya, dia hendak pergi ke Kota Tua, Jakarta Barat.

"Mau ke Kota Tua mas nongkrong sama temen-temen," kata Ifkar saat ditemui Okezone di Stasiun Tanjung Priok.

Ifkar dan kawan-kawan memang harus menunggu agak lama, karena kereta yang melayani rute Stasiun Tajung Priok ke Stasiun Jakarta Kota, Kota Tua, hanya ada 10 rangkaian KRL tiap hari.

Untuk mengatasi kebosanan menunggu, Ifkar memilih ngobrol bersama dua temannya sambil menikmati suasana dan arsitektur Stasiun Tanjung Priok yang unik dan eksotik. “Beda aja sih sama stasiun lain,” tukas pemuda Tanjung Priok itu.

Ifkar satu dari sekian banyak orang yang saban hari bepergian melalui stasiun yang letaknya berseberangan dengan Pelabuhan Tanjung Priok. Meski sudah berdiri dari seabad lalu, bangunan klasik khas Eropa itu masih kokoh berdiri.

 

Stasiun Tanjung Priok (Arif/Okezone)

Stasiun Tanjung Priok salah satu stasiun tertua di Indonesia. Riwayat menyebutkan stasiun dibangun pada 1914 oleh Ir. C.W Koch dari Staats Spoorwegn (SS) sebuah perusahaan kereta api Hindia Belanda. Melibatkan 1.700 pekerja yang 130 di antaranya dari Eropa.

Stasiun Tanjung Priok dibangun untuk melayani ramainya penumpang yang berlayar dan pengiriman barang melalui Pelabuhan Tanjung Priok, dermaga kebanggaan pemerintah Hindia Belanda. Dulu ada ruang penginapan di stasiun, untuk tempat istirahat penumpang yang menunggu kapal.

Karena nilai sejarahnya tinggi, bangunan Stasiun Tanjung Priok dijadikan cagar budaya. Arsitektur bangunannya dengan jam klasik di pintu masuk kental nuansa kolonial. Unsur keaslian bangunannya masih dipertahankan.

 

Ruangan di Stasiun Tanjung Priok (Rizky/Okezone)

Lobi utama stasiun yang kini diisi loket penjualan tiket dan pos sekuriti KRL dilapisi batuan abu-abu. Di antara lobi dan ruang tunggu penumpang, ada aula. Di stasiun itu ada tiga aula. Aula sisi kiri dan kanan keduanya memiliki tangga ke lantai dua dan rooftop. Terdapat juga ruangan bawah tanah.

Di sana juga ada bar dan dapur yang konon dulu jadi ruangan pesta minum dan makan-makan pejabat kolonial Belanda. Di bagian atas gedung terdapat sebuah cerobong asap tua. Berdiri di sini, kita disuguhkan pemandangan laut dan Pelabuhan Tanjung Priuk. Peninggalan penjajah itu masih mempertahankan keasliannya.

"Karena sudah masuk heritage enggak banyak diubah,” kata Kepala Stasiun Tanjung Priok, Erwin Andriadi.

Stasiun Tanjung Priok sempat tak terawat setelah berhenti beroperasi sejak tahun 2000. Dalam kurun itu, lokasi stasiun dimanfaatkan jadi tempat mangkal pelacur dan preman. Sembilan tahun berlalu, aktivitasnya dihidupkan kembali setelah direnovasi dan sampai kini stasiun megah itu masih jadi primadona.

 

Suasana di Stasiun Jakarta Kota (Rizky/Okezone)

Selain Stasiun Tanjung Priok, setidaknya ada empat stasiun lagi yang sudah jadi cagar budaya. Adalah Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Manggarai, Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Bogor. Semuanya masih beroperasi dan di bawah kendali PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Senior Manager Humas PT KAI Daop I, Edy Kuswoyo mengatakan pihaknya terus merawat dan melestarikan stasiun tersebut. "Pelestarian bangunan cagar budaya milik kereta api adalah dengan memperhatikan keaslian bentuk dan dalam pelaksanaanya diupayakan untuk meminimalisasi perubahan," kata Edi.

Stasiun Jakarta Kota

Stasiun Jakarta Kota atau Beos dari sisi arsitektur hampir punya kesamaan dengan Stasiun Tanjung Priok, sama-sama bergaya art deco. Stasiun Jakarta Kota pernah jadi stasiun terbesar di ASEAN dengan 12 jalur kereta dan 13 peron di sisinya.

Tapi, Stasiun Jakarta Kota bukan yang tertua. “Kalau cerita soal sejarah kereta di Jakarta itu sebenarnya yang pertama itu bukan Stasiun Beos, tapi Stasiun Batavia dengan operatornya NIS pada 1869. Jalurnya menghubungkan Batavia dengan Bogor,” kata Adhitya Hatmawan, pemerhati sejarah kereta api kepada Okezone, Desember 2016.

Stasiun Jakarta Kota pernah direnovasi, tapi keaslian bangunannya tetap dipertahankan. Termasuk jam tua. “Secara keseluruhan asli," ujar Sugi Hartanto, Kepala Stasiun Jakarta Kota.

Lantai dua stasiun tersebut diperuntukan untuk kantor dan lantai bawah tanah tempat perbelanjaan, gerai makanan dan minuman serta pos penjagaan.

Stasiun Jatinegara

Stasiun Meester Cornelis alias Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur. Beratap genteng, pintu masuk stasiun berbentuk setengah lingkaran. Alkisah lahan tempat stasiun itu dibangun dulu milik pemuka agama Kristen bernama Cornelis van Senen yang namanya kemudian ditabalkan ke stasiun.

 

Stasiun Jatinegara (Rizki/Okezone)

Stasiun Jatinegara dibangun pada 1910. Bangunan awal Stasiun Meester Cornelis yang dibangun pada 1887 berada sekira 600 meter dari lokasi sekarang.

"Bangunan yang asli salah satunya tower ini, kalo jam-jam ini enggak. Nah kalo kerangka ini aseli. Ini tiang Listrik Aliran Atas (LAA) cuman sudah tidak berfungsi," kata Wakil Kepala Stasiun Jatinegara, Rizal Kashenda saat Okezone bertandang ke Stasiun Jatinegara.

"Kalau tampilan fisik luar masih asli, kalau dalam banyak perubahan. Kalau tempat tiket itu udah tambahan, tapi hall-nya termasuk gerbang itu asli semua. Kanopi kerangka overkaping ini aseli kerangkanya," tuturnya.

Suasana Stasiun Jatinegara (Rizki/Okezone)

Tapi, cat bangunan itu sudah tampak kusam dan beberapa bagian mulai mengelupas.

Stasiun Senen

Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat yang biasanya melayani 27 keberangkatan per hari juga termasuk bangunan tua. Ini termasuk stasiun tersibuk di Ibu Kota karena selain melayani penumpang KRL Jabodetabek, Stasiun Senen juga melayani keberangkatan ke luar Jabodetabek.

Seorang staf Stasiun Senen, Verama menuturkan saban hari stasiun itu memberangkatkan sekira 16 ribu orang ke berbagai daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Penumpang KRL sendiri mencapai 3.000 orang tiap hari tujuan Depok-Bogor.

 

Penumpang kereta di Stasiun Senen (Antara)

Stasiun Senen yang ikut memamerkan foto-foto masa lalunya memiliki enam jalur yang semuanya terhubung melalui lorong bawah tanah. “Dari dulu ini enggak ada perubahan, paling lantai-lantai ini berubah," tutur Kasubur Stasiun Senen, Nurcahyadi.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini