TEHERAN – Iran akan memamerkan jet tempur terbarunya pekan depan dan akan terus meningkatkan kapabilitas rudalnya sebagai prioritas yang utama. Hal itu disampaikan menteri pertahanan Iran sebagai respons atas sanksi Amerika Serikat (AS) yang ditujukan untuk menghambat program rudal dan pengaruh regional Iran.
Pada Mei lalu, Presiden AS, Donald Trump menarik diri dari Perjanjian Program Nuklir Iran 2015 dan memberlakukan kembali sanksi ekonomi terhadap Teheran. Trump mengatakan, perjanjian program nuklir yang ditandatangani AS pada masa pemerintahan Barack Obama itu cacat, karena tidak memasukkan penghentian program rudal balistik Iran sebagai salah satu syaratnya.
“Prioritas utama kami adalah pengembangan program rudal kami. Kami berada dalam posisi yang bagus di bidang ini, tetapi kami perlu mengembangkannya, ” kata Brigadir Jenderal Amir Hatami kepada kantor berita Fars sebagaimana dilansir Reuters, Minggu (19/8/2018).
"Kami akan menunjukkan sebuah pesawat pada Hari Industri Pertahanan Nasional, dan orang-orang akan melihatnya terbang, dan peralatan yang dirancang untuk itu," tambahnya. Hari Industri Pertahanan Nasional Iran diperingati setiap 22 Agustus.
BACA JUGA: AS: Iran Uji Coba Rudal Anti-Kapal di Selat Hormuz
Pada 2013 Iran mengumumkan bahwa mereka tengah mengembangkan jet tempur buatan dalam negeri baru yang disebut Qaher 313, namun pada saat itu, kemampuan pesawat tersebut diragukan oleh sejumlah pakar.
Saat ini, angkatan udara Iran dilaporkan beroperasi dengan hanya beberapa pesawat tua buatan Rusia atau AS dari masa sebelum revolusi 1979.
Kantor berita Tasnim juga melaporkan bahwa pada Sabtu, angkatan laut Iran mengumumkan bahwa untuk pertama kalinya mereka berhasil memasang senjata pertahanan canggih buatan dalam negeri di salah satu kapal perangnya.
BACA JUGA: Ekspor Minyaknya Dihalangi AS, Iran Ancam Tutup Selat Hormuz
"Pengujian pesisir dan laut dari sistem pertahanan jarak pendek Kamand disimpulkan berhasil, dan mengatakan sistem ini dipasang ... pada kapal perang dan akan dipasang di kapal kedua segera," kata Komandan Angkatan Laut Iran, Laksamana Hossein Khanzadi.
Awal bulan ini, Iran menggelar latihan perang besar-besaran di Teluk yang diklaim bertujuan untuk menghadapi kemungkinan ancaman dari musuh. Latihan perang ini menarik perhatian dari AS, terutama setelah Teheran mengancam akan memberlakukan blokade di Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran strategis untuk pengiriman minyak.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.