nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wali Kota Padang Tumpahkan Pengalamannya Memimpin ke Dalam Buku

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Rabu 12 September 2018 21:18 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 09 12 340 1949656 wali-kota-padang-tumpahkan-pengalamannya-memimpin-ke-dalam-buku-sKaTRnuoem.jpg Peluncuran buku wali kota Padang Mahyeldi. Foto: Okezone/Achmad Fardiansyah

JAKARTA – Wali Kota Padang, Mahyeldi menumpahkan pengalamannya dalam memimpin Kota Padang Sumatera Barat kedalam buku yang bertajuk Mahyeldi Memimpin adalah melayani.

Mahyeldi mengungkapkan kunci membangun sebuah daerah harus dibekali ilmu dan keiklasan, sehingga dalam proses pelaksanaanya akan lebih efektif dan efisien.

"Karena kita memahami bahwa pemimpin itu melayani bukannnya memerintah, mengayomi, melayani mengarahkan, mendidik itulah pemimpin dan kita pun memimpin kan adalah untuk rakyat. Ketika apa yang kita lakukan, betul betul dirasakan oleh masyarakat dan memang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya di JCC, Senayan. Tanah Abang, Jakarta Pusat. Rabu (12/9/2018).

Menurut Mahyeldi, adanya pemerintahan atau negara hanya bertujuan untuk memakmurkan masyarakat dengan melalui program.

"Karena negara dan pemerintah ini ada untuk mensejahterahkan masyarakat memakmurkan masyarakat dan program kegiatan yang dilakukan adalah untuk hal yang demikian hendaknya. Dan masyarakat merasakan dan kemudian juga masyarakat bagian yang terlibat di dalam pembangunan itu sendiri jadi ada partisipasi dari masyarakat," ungkapnya.

Foto: Okezone/Achmad Fardiansyah 

Dengan pengalaman dirinya menjadi wali kota yang ditumpahkan ke dalam buku diharapkan masyarakat dapat memberikan saran.

"Karena pengalaman saya ketika saya sebagai wakil walikota maka satu masukan kepada kita sehingga itu menjadi kebijakan kita salam pembangunan kota Padang yang selama saya menjadi walikota," ucapnya.

Mahyeldi mengungkapkan suka dukanya selama menjabat yang ditumpahkan kepada buku ini, yakni menjabarkan program-program yang diterapkan di lapangan.

"Sebetulnya itu belum banyak, tapi mungkin buku setelah ini tentunya yang akan mengungkapkan itu. Suka dukanya ketika kita memimpin, memang tidak semua harapan masyarakat bisa terpenuhi oleh kita, tetapi dari sekian harapan, program dan kegiatan kita harus menjawab sebagian permasalahan itu. Kemudian bagaimana kita turun ke lapangan, ya namanya masyarakat ketika ketemu dengan kita mereka tumpahkan semuanya, kritikan, masukan, bahkan dengan cara yang pedas tapi itulah kenyataannya, mau tidak mau harus kita terima," bebernya.

Namun, saran dan masukan masyarakat yang terkesan pedas, hal itu dianggap cara masyarakat mencintai daerah dan pemimpinnya.

"Karena memang bagi kita walaupun itu kritikan itu pertanda masyarakat mencintai daerahnya, masyarakat itu sayang kepada daerahnya itulah cara mereka mewujudkan rasa sayangnya itu.

Sehingga bagaimana pun caranya, mengaktualisasikan respon mereka maka mau tidak mau harus kita memberikan dan menjawab harapan itu secara maksimal," tutupnya.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini