nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hari Pangan Sedunia 2018, Momen Lahan Rawa Jadi Primadona

Khafid Mardiyansyah, Jurnalis · Jum'at 12 Oktober 2018 22:43 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 10 12 337 1963435 hari-pangan-sedunia-2018-momen-lahan-rawa-jadi-primadona-mKRJtJpJBb.jpg Perayaan hari pangan sedunia di Barito, Kalsel. Foto: Okezone/Khafid Mardiansyah

BARITO KUALA - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di setiap kesempatan menyebutkan lahan rawa di Indonesia merupakan raksasa tidur yang akan menjamin ketersediaan pangan di masa depan dan berpotensi mengantar Indonesia menjadi lumbung pangan dunia 2045.

Optimisme Amran tersebut didasari dengan luas lahan rawa di Indonesia yang mencapai 33,4 juta hektare, di mana 20,14 juta hektare diantaranya merupakan lahan rawa pasang surut (LRPS) serta 13,26 juta hektare lahan rawa lebak (LRL), dan tercatat 9,53 juta hektare diantaranya berpotensi sebagai lahan pertanian produktif.

Pemanfaatan rawa menjadi lahan pertanian kini jadi tema dalam Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 38 tahun 2018 di Kalimantan Selatan (Kalsel). Pemilihan daerah dengan 13 kabupaten dan kota ini bukan tanpa alasan, luasan potensi rawa yang dimiliki Kalsel jadi prototipe pemanfaatan lahan rawa menjadi lahan pertanian.

Foto: Khafid Mardiansyah/Okezone 

Dalam HPS sendiri, pemerintah mengimplementasikan tema tersebut dengan membuka 4.000 hektare lahan pertanian baru di Jejangkit, Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Jejangkit sendiri dikenal dengan daerah yang dikelilingi rawa. Wilayah yang lebih rendah dari daerah lain di Kalimantan Selatan, membuat Jejangkit kerap "tenggelam" saat musim penghujan tiba. Pun dengan lahan pertanian di salah satu kecamatan di Barito Kuala tersebut.

Para petani di Jejangkit, kerap "menelantarkan" lahan pertanian mereka saat air tengah pasang dan menenggelamkan sawah mereka. Alhasil mereka hanya bisa memanen padi sekali setiap tahunnya.

"Kalau menanam padi kadang was-was kalau pasang, udah kerendem semua, tanaman pada busuk, kalau air pasang aja ini lahan bisa tenggelam sampai 3 meter," jelas Ketua Kelompok Tani Jejangkit Muara, Zainal.

Foto: Khafid Mardiansyah/Okezone 

Kisah Zainal sendiri diamini oleh sekira 340 petani di daerah tersebut. Mereka mengaku hanya bisa pasrah saat rawa pasang dan memilih pekerjaan lainnya seperti kuli dan berjualan.

"Tapi ya kebanyakan nganggur kalau lagi pasang," keluh Zainal.

Pemerintah sendiri, melalui Kementerian Pertanian (Kementan) mengakali kondisi tersebut dengan memberikan pompa air berdaya besar kepada petani. Pompa ini bisa menyedot 3.000-4.000 liter air per jamnya dan digunkan untuk menguras air di rawa saat pasang terjadi, dan mengalihkannya ke kanal air yang telah dibentuk sebelumnya. Total, ada tujuh pompa yang disebar ke seluruh lahan di Jejangkit.

Direktur Perluasan dan Perlindungan Lahan, Ditjen PSP, Kementan, Indah megawati mengungkapkan bahwa pemanfaatan pompa tersebut untuk memanfaatkan lahan tak produktif petani selama air pasang. Nantinya, petani bisa melakukan dua kali panen setiap tahunnya.

"Pemanfaatan lahan rawa sendiri tidak akan kami terapkan saja saat HPS, namun setelah HPS pun para petani tetap akan diberikan pembinaan, karena memang lahan rawa memiliki treatment sendiri, beda dengan lahan biasa," jelas Indah.

Foto: Khafid Mardiansyah/Okezone 

Diketahui, puncak Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 38 akan diselenggarakan di Kalimantan Selatan pada 18-21 Oktober 2018 dengan sederet rangkaian acara. Dimulai dari pembukaan yang disuguhkan dengan pameran tanaman holtikultura, penanaman ribuan bibit pohon, pemecahan rekor MURI memberi makan 2018 ibu hamil dengan makanan kaya nutrisi, hingga sederet seremoni pelatihan dengan tajuk pemanfaatan teknologi di bidang pertanian.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini