Masih kata Supri, ide merebus pembalut didapat dari kelompok anak lain yang terlebih dahulu melakukan kegiatan serupa. Setelah ditelusuri, petugas menemukan kasus yang sama antara lain di seperti Purwodadi, Kudus, Pati, Rembang, serta di Kota Semarang bagian timur.
“Rata-rata mdereka ini tinggal di pinggiran kota. Tidak mampu beli sabu tapi ingin nyabu, makanya mereka bereksperimen,” tukasnya.
Senada, psikolog Indra Dwi Purnomo menyampaikan, fenomena anak-anak kecanduan pembalut rebus sebelumnya juga ditemukan di Karawang, Belitung Timur dan Yogyakarta. Dia pun prihatin karena hal ini menyasar anak-anak usia 13-16 tahun.
“Usia remaja ini usia mencoba-coba. Mereka bereksperimen tentang sesuatu yang baru. Temannya di daerah tertentu menyalahgunakan itu (pembalut), lalu mereka ikut nyoba. Jadi dalam satu kelompok, bila kita periksa satu maka yang lain juga sama yaitu minum air rebusan pembalut itu,” jelas Indra.(qlh)
(Fiddy Anggriawan )