Jejak Sejarah Wanita Perkasa Tanah Mandar hingga Bergelar Pahlawan Nasional

Antara, · Sabtu 10 November 2018 04:46 WIB
https: img.okezone.com content 2018 11 10 340 1975879 jejak-sejarah-wanita-perkasa-tanah-mandar-hingga-bergelar-pahlawan-nasional-kWFwrDkNgF.JPG Hj Andi Depu diangkat menjadi Pahlawan nasional (Foto: Diknas Polman)

Sebagai tindak lanjut untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Tanah Mandar, pada 21 Agustus 1945 Ibu Agung Andi Depu mendirikan organisasi kelaskaran yang diberi nama Kebangkitan Rahasia Islam Muda Mandar (Kelaskaran Keris Muda). Melalui kelaskaran Kris Muda Mandar yang dipimpin Andi Depu, maka gerakan perjuangan semakin terarah dan terkoordinir dengan rapi, baik dari aspek perencanaan maupun eksekusi hingga para pemuda yang tergabung dalam kelaskaran ini ikut berjuang mendampingi Ibu Agung Andi Depu.

Gelora perjuangan yang dikomandoi Ibu Agung Andi Depu itu membuat semangat para pemuda semakin berkobar dan berani melakukan pengibaran Bendera Merah Putih di beberapa tempat di Mandar, seperti di Tinambung, Pamboang serta Tomadio. Atas semangat perjuangan dalam merebut kemerdekaan yang begitu gigih, organisasi Kris Muda ini semakin berkembang dan mendapat dukungan dan simpati dari rakyat Mandar mulai Binuang, Banggae, Pamboang, sendana dan Tappalang hingga di Mamuju.

Perlawanan para pemuda Mandar dibawah komando perempuan pemberani itu, membuat Belanda bergedik dan menetapkan Andi Depu sebagai musuh besar di Tanah Mandar. Selama masa perjuangannya, Andi Depu hidup berpindah-pindah dan melakukan penyamaran menggunakan baju biasa, berdandan seperti orang kebanyakan memakai baju laki-laki lagaknya seorang tukang kebun untuk mengelabui agar ia lolos dari pegamatan dan perhatian mata-mata Belanda.

"Ia pernah dibuatkan lubang persembunyian, pernah bersembuyi dalam perahu dan di atasnya ditumpuki daun kelapa kering. Ia dikejar, disiksa ditawan lalu kemudian dipenjara berkali kali dibuatkan lubang penguburan tapi, toh, selalu lolos," tulis Kepala Dinas Pariwisata Sulbar, Farid Wajdi.

Aksi Heroik Dalam catatan sejarah, ada sebuah aksi heroik Andi Depu yang rela mempertaruhkan jiwa dan raganya dalam mempertahankan bendera Merah Putih.Pagi itu, pada 28 Oktober 1945 tentara Belanda dengan kendaraan militer berhenti di depan Istana Raja Balanipa di Tinambung kemudian memaksa menurunkan Bendera Merah Putih yang sedang berkibar.

Para prajurit Belanda itu kemudian bergegas menuju ke tiang bendera dan bermaksud menurunkan Sang Saka Merah Putih. Namun, sebelum prajurit Belanda menyentuh tiang bendera itu, para pengawal istana dan masyarakat sekitar yang hanya bersenjatakan keris dan tombak berupaya dengan sekuat tenaga menghalang-halangi prajurit tersebut. Sebelumnya, para pengawal istana itu diberi titah oleh Andi Depu bahwa tidak seorang pun yang boleh menurunkan bendera Merah Putih itu.

Bersamaan dengan itu, salah seorang pengawal setia istana bergegas menemui Andi Depu yang saat itu baru selesai melaksanakan salat dhuha. Ia menyampaikan bahwa prajurit Belanda ingin menurunkan Bendera Merah Putih. Mendengar laporan tersebut Andi Depu beranjak dari tempatnya kemudian berlari ke tiang bendera sambil berseru Allahu Akbar seraya mendekap erat tiang bendera.

Dengan Bahasa Mandar Andi Depu menyeru "Lumbangpai Batangngu, Muliai Pai Bakkeu Anna Lumbango Bandera" yang artinya: "Biarlah Saya Gugur, Mayatku Terlangkahi Baru Bendera Kau Tumbangkan".

Aksi heroik Andi Depu memeluk tiang bendera di tengah kepungan bayonet tentara Belanda, disaksikan oleh seluruh pengawal istana dan masyarakat Tinambung, dan tanpa perintah, para kawula dan rakyat Balanipa menerobos kepungan pasukan Belanda kemudian berdiri mengelilingi Ibu Agung Andi Depu.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini