Pasar Malam yang Harus Dipertahankan
Sejarawan Mona Lohanda menilai keberadaan pasar malam yang kian terkikis harus dipertahankan. Menurutnya pasar malam menjadi pengingat dan untuk mengenalkan kepada anak-anak Indonesia akan permainan yang pernah dimiliki. Meski sudah sedikit bergeser keberadaan pasar malam sangat penting untuk dijaga dan dikembangkan.
"Pasar malam model dulu ada permainan rakyat seperti mancing pake ikan kayu atau lempar gelang entar dikasih gulali lebih permainan rakyat dan hiburan kalau sekarang pasar malem di kampung itu banyak yang tidak tertarik," terangnya.
Saat dirinya masih kecil Mona menceritakan dirinya kerap datang ke pasar malam bersama 'babe' sebutan untuk orang tuanya. Ia mengatakan pasar malam dulu sangat menghibur, keberadannya kerap ditunggu oleh warga setempat.
"Dulu pasar malem itu ada musimnya sama aja tanjidor hampir sama kaya sekarang kalau pasar malam dulu engga ada jualan baju dulu ada rumah hantu, orang makan ayam mentah terus mancing itu tahun 1955 aku udah sekolah dulu ada dagangan tapi enggak kaya sekarang orang kaki lima gulali, baju engga umum dulu kaki lima itu dulu makanan dan hiburan kalo baju enggak," tambahnya.

Untuk itu, penting hal itu mengembalikan kebiasaan traditional kita yang tidak terpengaruh pada hal meterialistis. Anak sekarang kata Mona, harus dikembalikan ke tradisional.
"Mana ada yang main gasing saya dulu main bekel sekarang mana ada yang mau main dulu saya main congklak, grobak sodor main taplak gunung itu udah enggak ada, terus cublak cublak suang malah di upin ipin mereka masih maen itu," terangnya.
Ia menambahkan, tingginya kemajuan zaman sehingga membuat anak muda terutama anak anak terkontaminasi dengan pengaruh barat. Sehingga hal itu mamou menggeser kebiasaan anak-anak yang sebelumnya mimiliki permainan yang unik di Indonesia.
"Kita sok kebarat-baratan harusnya dikembalikan ke tradisional main gasing, gundu sekarang enggak ada," tuturnya.
Namun begitu, keberadaan pasar malam meski sedikit bergeser tetap sama seperti dulu. Hal itu kembali mengenang masa-masa dirinya saat masih kecil.
"Kalau dulu komedi ombaknya nyamping dijaga sama penjaganya engga ngeri kaya sekarang dia muternya bergelombang kaya ombak beda sama sekarang itu ngeri keatas," terangnya.
"Dia terpengaruh gaya eropa kalo kita muter aja nyamping. Saya dulu naiknya yang muternya ke samping jadi kita enggak duduk di atas bangkunya di bawah di gantung," tukasnya.

(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.