nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bayi Pertama dari Transplantasi Rahim Donor yang Meninggal Lahir dengan Selamat di Brasil

Thasyanur Azizah, Jurnalis · Rabu 05 Desember 2018 15:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 05 18 1987104 bayi-pertama-dari-transplantasi-rahim-donor-yang-meninggal-lahir-dengan-selamat-di-brasil-uL5tHuKwa1.jpg Tim medis menggendong bayi pertama yang lahir dari transplantasi rahim donor yang telah meninggal di rumah sakit di Sao Pualo, Brasil 4 Desember 2018. (Foto: Reuters)

SAO PAULO – Untuk pertama kalinya di dunia, seorang bayi berhasil dilahirkan melalui rahim yang ditransplantasikan dari donor yang sudah meninggal. Kemajuan medis ini memberikan harapan bagi para perempuan yang tidak dapat hamil sebagai pilihan lain selain adopsi atau bayi tabung.

Bayi perempuan ajaib itu lahir di sebuah rumah sakit di Sao Paulo, Brasil melalui operasi sesar saat kandungan berusia 35 pekan dan tiga hari. Bayi itu lahir dengan berat sekira 2,7 kilogram.

Rahim yang ditransplantasikan dikeluarkan selama operasi berlangsung, dan tidak ada kelainan yang terlihat.

Penerima rahim yang didonorkan itu adalah seorang wanita berusia 32 tahun yang lahir tanpa rahim karena kondisi bawaan. Dia menjalani satu siklus IVF (In Vitro Fertilization/bayi tabung) empat bulan sebelum transplantasi dilakukan, dan menghasilkan delapan sel telur yang berhasil dibuahi.

Donor berusia 45 tahun itu meninggal karena stroke. Rahimnya diangkat dan ditransplantasikan dalam operasi yang berlangsung lebih dari sepuluh jam.

Sebelumnya, telah ada 10 transplantasi rahim lainnya dari donor yang telah meninggal yang dicoba secara global, tetapi ini pertama kalinya transplantasi menghasilkan bayi yang lahir dalam keadaan hidup. Sebelumnya, transplantasi rahim dari wanita hidup adalah satu-satunya pilihan, tetapi kurangnya pendonor menjadi hambatannya.

“Penggunaan rahim dari donor yang sudah meninggal bisa sangat memperluas akses ke perawatan ini bagi wanita dengan infertilitas rahim,” kata Pemimpin Penelitian, Dokter Dani Ejzenberg dari Universitas Sao Paulo sebagaimana dilansir Mirror, Rabu ( 5/12/2018).

“Kebutuhan untuk donor hidup adalah batasan utama karena jumlahnya yang sedikit, mereka yang bersedia dan memenuhi syarat biasanya berasal dari anggota keluarga atau teman dekat. Jumlah orang yang bersedia menyumbangkan organ setelah kematian mereka sendiri jauh lebih besar daripada donor hidup. Hal ini menawarkan populasi donor potensial yang jauh lebih luas. ”

Operasi transplantasi rahim dilakukan pada September 2016 dan detail prosedurnya telah dipublikasikan dalam jurnal medis The Lancet.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini