BEKASI - Tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah, memang selalu menarik untuk dikunjungi. Banyak peristiwa yang mengandung nilai-nilai berharga yang bisa dijadikan pelajaran hidup. Terlebih mengingat, bahwa apa yang kita peroleh saat ini, semua tak terlepas dari sejarah di masa lampau.
Karena mengandung nilai-nilai sejarah yang penting, tentunya memiliki tempat bersejarah bagi sebuah daerah merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Selain warga sekitar, tempat sejarah juga menjadi magnet bagi masyarakat dari luar daerah untuk berkunjung. Hal ini jelas akan berdampak pada kepopuleran daerah yang bersangkutan, serta peningkatan perekonomian warga setempat.
Sebagai salah satu daerah yang pernah disinggahi penjajah, Kota Bekasi memiliki sejumlah lokasi bersejarah yang mengandung nilai-nilai perjuangan tinggi. Diantaranya Masjid Agung Al-Barkah yang terletak di Jalan Veteran Nomor 46, Marga Jaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat, yang merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia dan menjadi ikon Kota Bekasi.
Sejarah mencatat, Masjid Agung Al-Barkah dibangun pada tahun 1890 oleh umat Islam setempat, dengan pelopor penghulu Lanraad, Abdul Hamid. Masjid ini dibangun di atas tanah wakaf seluas 3.000 meter persegi, milik seorang tokoh masyarakat setempat bernama Barun.
"Jadi masjid Al-Barkah ini kategorinya masjid tua dan tercatat dalam sejarah masjid ini dibangun 1890. Masjid ini dibangun oleh masyarakat umat islam yang tanahnya itu dari wakaf tokoh masyarakat," kata Ketua Harian Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Agung Al-Barkah, Abdul Hadie kepada Okezone, Kamis (6/12/2018).
Karena letaknya yang terbilang strategis, yakni di samping barat alun-alun kota (sesuai dengan konsep Walisongo), membuat masjid tak hanya dijadikan tempat ibadah, tapi juga basis perjuangan umat Islam untuk merebut kemerdekaan. Di masjid itulah para pejuang mengatur strategi menghadapi penjajah pada masa itu.

"Masjid ini menjadi tempat para pejuang tidak hanya untuk digunakan ibadah salat, tetapi juga di sana, juga menjadi tempat para tokoh pejuang untuk tempat bermusyawarah untuk mengatur strategi bagaimana menghadapi penjajah pada saat itu," ujar keponakan tokoh pejuang KH Noer Alie itu.
Menurutnya, wujud asli bangunan Masjid Agung Al-Barkah (dulunya Masjid Al-Barkah), awalnya tak seperti sekarang. Masjid disebutkan telah mengalami renovasi sebanyak lima kali oleh pemerintah daerah. Renovasi pertama dilakukan di tahun 1969 oleh Bupati MS Subandi, dengan menggunakan dana swadaya masyarakat sebesar Rp5 per jiwa. Renovasi kedua pada tahun 1988, dimana kala itu Kota Bekasi didaulat menjadi tuan rumah MTQ Jawa Barat. Selanjutnya renovasi kembali dilakukan pada tahun 1997 dan 2002.
"Kalau masjid aslinya itu posisinya ada di belakang yang sekarang. Pada saat itu bentuknya tidak modern. Saat itu namanya pun hanya masjid Al-Barkah. Tetapi seiring waktu, karena pusatnya berdekatan dengan alun-alun dan sering dipakai untuk kegiatan pembelajaran, makanya disebut Masjid Agung," papar Hadie.
Hingga pada masa kepemimpinan Wali Kota Bekasi terpilih pertama, pemerintah memutuskan melakukan pemugaran total pada masjid. Kala itu banyak masyarakat yang meminta pembangunan masjid yang juga sebagai representatif pemerintah. Dan pada 26 Juni 2004 dilakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pemugaran, yang dihadiri Wali Kota Bekasi, tokoh masyarakat, alim ulama dan 1.000 orang jamaah.
"Sesungguhnya bukan masjid pemerintah pada saat itu, tetapi masjid umat. Baru pada tahun 2004, dimana wali kota pertama terpilih namanya pak Ahmad Zurfai, diminta oleh umat membangun masjid yang bagus dan representif. Maka masjid ini sepakat untuk dibangun. Istilahnya direnovasi besar-besaran. Lebih tepatnya dibangun yang baru," katanya.
Hadie menyebutkan, pemugaran masjid sempat terkendala lahan yang terbatas. Untuk mengatasinya, pemerintah daerah kemudian memperluas dengan menggunakan lahan fasos/fasum, menjadi 7.318 meter persegi.
"Nah, karena melihat tanahnya itu kecil, sehingga memberanikan diri pak Wali Kota bersama jamaah umat itu menggunakan fasos-fasum. Lalu pada 2010 masjid selesai pembangunannya seperti kita saksikan sekarang," ujarnya.
Seiring berakhirnya pemugaran serta berdasarkan surat keputusan Wali Kota tahun 2005, Masjid Agung Al-Barkah kemudian diputuskan menjadi masjid pemerintah. Agar terkelola dengan baik dan terarah, maka dibuatlah struktur kepengurusan masjid di tahun 2008.
"Katakanlah pembangunannya sudah bagus, kemudian dibentuklah struktur kepengurusannya agar terkelola dengan baik. SK kepengurusan DKM dikeluarkan oleh Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi. Dan sampai sekarang saya terpilih sebagai ketuanya," akunya.

Hadie mengaku, pengelolaan manajemen masjid oleh pihaknya dilakukan dengan sangat profesional. Mulai dari laporan keuangan yang bisa dipertanggungjawabkan, hingga mendatangkan konsultan audit.
"Alhamdullilah kita kelola dengan manejemen profesional. Misalnya, tentang laporan keuangannya itu kita datangkan konsultan audit, yang sampai sekarang menggunakan manejemen audit profesional, itu salah satunya," paparnya.
"Kita juga datangkan para imam masjid yang membaca Alquran surat-surat pendek. Dan sampai sekarang ini imamnya ada 5 orang. Inilah salah satu faktor yang menyedot banyaknya jamaah Masjid Agung Al-Barkah, terkenalnya pada saat tarawih itu satu malam satu jus," ungkapnya.

Tak hanya itu, di halaman masjid juga terdapat pohon kurma yang cukup populer dan menjadi daya tarik di kalangan masyarakat, lantaran selalu berbuah di bulan Ramadhan. Sedikitnya ada 13 pohon kurma yang saat ini tumbuh subur di halaman masjid, bersamaan dengan beragam tanaman lain.
"Pohon kurma ini sudah ada sejak 2005. Dari 13 pohon, hanya empat saja yang berbuah. Baru diketahui ada tiga pohon yang berjenis jantan dan empat pohon kurma jenis betina," paparnya.
Meski awalnya awam dengan cara perawatan pohon kurma yang benar, lama kelamaan Hadie pun semakin paham. Ia mengaku, rasa kurma yang dihasilkan berbeda dengan yang biasa dijual di pasaran. Karena itu, banyak jamaah masjid yang kerap menanti-nantikan panen buah kurma yang berlangsung setahun sekali itu.
"Rasanya manis, cuma kalau lebih keriput, lebih tambah enak lagi. Kalau panen kita selalu bagi-bagikan ke jamaah masjid yang datang," tandasnya.

Sementara itu, Budayawan Bekasi, Komarudin Ibnu Mikam mengatakan, selama ini pemerintah daerah kurang berperan dalam pemberitaan sejarah Masjid Agung Al-Barkah kepada masyarakat luas. Pemerintah dinilai hanya fokus kepada fisik bangunan, sehingga minim sosialisasi terkait sejarah masjid yang penuh nilai-nilai perjuangan.
"Ini juga menjadi auto-kritik, bahwa sosialisasi dengan sejarah masjid itu yang penting. Sosialisasi sejarah masjid itu harus dilakukan dalam perspektif untuk membangun kesadaran sejarah, membangun kesadaran kebudayaan, sehingga masyarakat punya pengetahuan tentang masa lalu Bekasi," tegasnya.

Menurutnya, apa yang telah dikorbankan para pejuang kemerdekaan, harus terus digaungkan kepada rakyat. Karena sejatinya, keberadaan masyarakat saat ini khususnya Kota Bekasi, tak lepas dari sejarah yang ditorehkan para pejuang di masa lalu.
"Kemudian perjuangan KH Noer Alie semasa revolusi fisik hingga beliau diangkat menjadi pahlawan nasional, ini juga menjadi pikiran bahwa pengelolaan masjid selama ini agak berkurang atau minim dalam konteks sosialisasi tentang sejarah masjid," pungkasnya.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.