nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dituduh Curi Data Rahasia, 2 Peretas China Jadi Buronan FBI

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Jum'at 21 Desember 2018 08:57 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 21 18 1994225 dituduh-curi-data-rahasia-2-peretas-china-jadi-buronan-fbi-AB5SDRQbFd.JPG 2 WN China jadi buronan FBI karena dituduh mencuri data rahasia AS (Foto: FBI)

WASHINGTON - Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mengumumkan dakwaan pidana terhadap dua peretas komputer yang disebut bekerja untuk badan intelijen Cina. Mereka dikenal sebagai bagian dari kelompok peretas dengan sebutan "Advanced Persistent Threat 10". Demikian bunyi dakwaan Departemen Kehakiman AS yang diumumkan oleh Wakil Jaksa Agung, Rod Rosenstein, pada Kamis 20 Desember 2018.

Rod Rosenstein berujar bahwa Cina telah melanggar perjanjian tahun 2015 yang mewajibkan negara itu tidak terlibat dalam espionase siber komersial.

Lebih lanjut Rosenstein menyebut dakwaan AS ini telah dikoordinasikan dengan sekutu-sekutunya di Eropa dan Asia untuk menolak agresi ekonomi Cina.

"Kami ingin Cina menghentikan aktivitas-akvititas siber yang ilegal," tegas Rosenstein, seperti disitat dari laman BBC Indonesia, Jumat (21/12/2018).

Zhu Hua dan Zhang Shilong dilaporkan berada di Cina saat ini dan belum tertangkap. Mereka bekerja untuk perusahaan Huaying Haitai dan memiliki kaitan dengan Kementerian Keamanan Negara Cina. Demikian isi dokumen yang diserahkan ke pengadilan.

Di luar jangkauan AS

Biro Penyelidik Federal (FBI) mengklaim, sejak 2006 hingga 2018, kedua orang itu meretas sistem komputer dalam skala besar dengan tujuan mencuri kekayaan intelektual, informasi bisnis dan teknologi rahasia dari 45 perusahaan teknologi pertahanan dan komersial di paling tidak 12 negara bagian AS.

Mereka juga menangani para penyelenggara jasa internet dan kliennya dari sektor swasta dan pemerintah di sekurang-kurangnya 12 negara, termasuk Inggris, Brasil, Kanada, Prancis, Jerman, India, Jepang, Swedia, Swiss, Uni Emirat Arab dan AS. Informasi rahasia lainnya pun ingin mereka "curi" dari lembaga-lembaga pemerintah di negeri Paman Sam.

Menurut FBI, mereka juga meretas sistem komputer Angkatan Laut AS dan mencuri data pribadi lebih dari 100.000 personel. Namun, kata Direktur FBI Christopher Wray, baik Zhu Hua maupun Zhang Shilong, saat ini berada di luar wilayah yurisdiksi Amerika.

Pemerintah Inggris mengatakan turut meminta tanggung jawab pemerintah Cina atas upaya global untuk mencuri rahasia komersial.

"Kampanye ini adalah salah satu intrusi siber paling signifikan dan paling luas terhadap Inggris dan sekutu-sekutu yang pernah terkuak sejauh ini, menyasar rahasia dagang dan ekonomi di seluruh dunia," demikian pernyataan Menteri Luar Negeri Inggris, Jeremy Hunt.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini