nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Pria yang Jadi Penerjemah Bahasa Isyarat Khotbah Salat Jumat

krjogja.com, Jurnalis · Jum'at 04 Januari 2019 15:09 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 04 510 1999974 kisah-pria-yang-jadi-penerjemah-bahasa-isyarat-khotbah-salat-jumat-K2uP72PLeZ.jpg Ilustrasi

PRIYA Adi (21) awalnya deg-degan berdiri di depan jemaah, tepatnya di samping kanan imam yang sedang khotbah Jumat. Namun motivasi untuk menyampaikan materi khotbah kepada jemaah yang tuli atau tunarungu menghilangkan groginya.

“Tidak cuma deg-degan tetapi juga tegang ketika di depan saya ada ratusan jemaah, banyak yang menatap melihat ke arah saya,” kata Priya Adi.

Mahasiswa asal Boyolali ini merupakan satu dari beberapa relawan yang aktif menjadi penerjemah khotbah Jumat di Masjid Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Priya Adi menjadi penerjemah bahasa isyarat untuk jemaah khotbah salat Jumat bermula saat ia didatangi oleh temannya yang tuli. Temannya memintanya untuk mendampingi saat kuliah besoknya jam 7 pagi.

Priya yang kebetulan tidak ada mata kuliah lalu menyanggupi, meskipun dia tidak bisa bahasa isyarat. Komunikasi antara temannya pun hanya melalui tulisan, toh temannya juga merasa terbantu walaupun Priya hanya mencatatkan apa yang disampaikan dosen di kelas.

Berangkat dari pengalaman itulah, Priya menyempatkan diri untuk datang ke Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga. Disana ia mendaftar menjadi relawan di semester 2, ikut kelas bimbingan dan belajar bahasa isyarat langsung dengan orang tuli.

“Tiap ada jam kosong ke PLD, ada siapapun yang tuli disana diminta tolong belajar, nanti ditulis dulu kalimatnya baru diterjemahkan bahasa isyarat,” ujar Priya.

Setelah Priya bergabung menjadi relawan, oleh pihak PLD, di semester 3 ia mendapat kesempatan menjadi salah satu penerjemah bahasa isyarat khotbah Jumat Masjid UIN Sunan Kalijaga. Kesempatan tersebut tidak ia lewatkan begitu saja, walaupun awal kali ia melakukan dengan rasa deg-degan.

Berdiri di depan jamaah, di sebelah kanan imam yang sedang khotbah dan melihat ratusan jamaah di depanya. Dibalik rasa deg-degan dan tegangnya ada motivasi ingin membantu menyampaikan materi khotbah kepada mereka penyandang disabilitas.

Ia ingin menyalurkan kemampuan berbahasa isyarat agar bermanfaat untuk banyak orang. Selain itu ingin menginformasikan kepada masyarakat bahwa di UIN ada fasilitas untuk disabilitas.

Priya menceritakan, kegiatan menjadi relawan PLD diantaranya mendampingi perkuliahan disabilitas seperti tunarungu atau tulis untuk mencatatkan materi kuliah atau note taker. Membacakan buku atau tulisan bagi tunanetra, mendampingi ketika bertemu dengan dosen dan hal lainnya yang menyangkut perkuliahan.

Tentu jadwal ia menjadi relawan sudah disesuaikan agar tidak mengganggu jadwal perkuliahanya. Lewat relawan seperti itulah Priya dapat belajar banyak dari disabilitas, mulai cara berinteraksi sampai berteman dengan mereka.

“Kadang juga merasa khawatir jika ia tidak bisa menterjemahkan dengan baik,” katanya. Hal itu karena ia sering menemui ketika dosen atau doktor yang menyampaikan materi-materi ilmiah atau istilah yang sulit dicari terjemahanya. Harus mencari persamaan kata dan merangkai kalimat agar dimengerti oleh mereka.

Menurut Priya, saat ini ada 4 penerjemah yang aktif untuk khotbah Jumat di masjid UIN. Namun, tidak selalu bisa hadir karena beberapa sudah sibuk dan mau lulus. “Saat ini perlu banyak regenerasi berikutnya untuk menjadi penerjemah,” kata Priya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini