JAKARTA - Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) merilis hasil risetnya terkait proyeksi Indonesia lima tahun kedepan jika dipimpin oleh dua pasangan capres-cawapres yang akan bertarung di kontestasi Pilpres 2019. Dua pasang tersebut yakni, Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens membeberkan hasil analisanya terkait kepemimpinan masing-masing capres-cawapres jika menang dalam Pilpres 2019 dari segi leadership, sosial-budaya, politik, ekonomi, serta hukum, ham, dan keamanan.
(Baca Juga: TKN Disarankan Kampanye Pencapaian Jokowi)
Menurut Boni, dari segi kepemimpinan politik, Jokowi-Ma'ruf merupakan pemimpin yang transformatif dan berorientasi pada kerja untuk menciptakan perubahan serta transformasi di segala matra.
"Isu kampanye yang diangkat membentuk watak kepemimpinan Jokowi kedepan yaitu, sebuah kepemimpinan yang melayani," kata Boni saat menghadiri diskusi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (4/1/2019).
Selain itu, berdasarkan analisa Boni, partai pendukung Jokowi-Ma'ruf Amin mayoritas berlandaskan nasionalis yang mengusung wacana atau narasi politik kebangsaan. Sehingga, kata Boni, Jokowi terbentuk menjadi pemimpin yang nasionalis dan inklusif.
"Strategi kampanye yang memakai pendekatan 'positive campaign' mencerminkan pemerintahan Jokowi nantinya dibangun di atas optimisme dan berpotensi membawa Indonesia pada level kemajuan yang lebih tinggi baik di tingkat kawasan maupun dunia," sambungnya.
Kemudian, dari segi sosial dan budaya, Boni menilai Jokowi-Ma'ruf Amin dapat membangun kebebasan sipil baik dari segi toleransi, keragaman, kebebasan berpendapat, maupun terjaminnya hak-hak asasi manusia.
"Negara juga akan lebih tegas dalam mengatasi kebangkitan radikalisme, ekstrimisme, dan kelompok anti-Pancasila yang mengusung khilafah dalam konteks 'NKRI Syariah," imbuh Boni.
(Baca Juga: BPN Laporkan Dana Penerimaan Kampanye di KPU Sebesar Rp54 Miliar)
Sedangkan dari dimensi ekonomi, diprediksi Boni, Jokowi-Ma'ruf akan menguatkan konsep ekonomi kerakyatan. Dimana, konsep tersebut merupakan arus baru pereonomian Indonesia yang dianggap sebagai jalan terbaik.
"Fokus ekonomi kerakyatan, mengatasi ketimpangan. Ekonomi keumatan, tidak hanya didasarkan pada hukumpasar, tetapi solidaritas yang bersumber pada religiositas," paparnya.
(Fiddy Anggriawan )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.